Ilustrasi: pixabay.com

SERANG – Penyidikan kasus dugaan pungutan liar (pungli) pengambilan jenazah korban tsunami di Rumah Sakit dr Dradjat Prawiranegara (RSDP) terus bergulir. Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Banten masih membidik tersangka baru.

“Kita masih melakukan pemeriksaan, ada beberapa penambahan saksi terkait dengan pungli, kemungkinan tersangka juga akan bertambah dan kasus ini kita akan kembangkan,” kata Direktur Reskrimsus Polda Banten Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) Abdul Karim, di Mapolda Banten, Senin (31/12/2018).

Diketahui, Sabtu (29/12/2018), penyidik menetapkan oknum staf berinstalasi Kedokteran Forensik dan Medikolegal (IKFM) RSDP berinsial FT, dan dua orang karyawan CV Nauval Zaidan berinisial IG dan BD sebagai tersangka. Ketiganya disangka melanggar Pasal 12 huruf e Undang-Undang No 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

“Mereka ini aktif, baik dari kalangan ASN maupun CV mendatangi korban untuk menawarkan jasa. ‘Kalau mau cepat kami bantu’. Mereka tiktok (kerja sama-red),” jelas Abdul Karim.

Ketiga tersangka membuat kuitansi sebagai bukti untuk pembayaran yang diserahkan kepada keluarga korban. “Jadi, kuitansi tersebut hanya dibuat oleh oknum, bukan pembayaran yang resmi kepada pihak rumah sakit.” ungkap Abdul Karim.

Penyidik masih melakukan pemeriksaan terhadap saksi. Sedikitnya, sembilan orang saksi telah diperiksa. Polisi masih membutuhkan keterangan terkait standar operasional prosedur (SOP) pemulangan jenazah. “Seperti apa, petunjuk tentang kebijakan penanganan bencana bagaimana, aplikasinya bagaimana, ini kan harus digali semua. Supaya kita bisa mendapatkan cerita yang utuh,” jelas Abdul Karim. (Adi/Merwanda)