Kasus Transfer Dana Rp58,8 Miliar Dilimpahkan

0
1518

SERANG – Berkas perkara kasus transfer dana atau penipuan terhadap perusahaan asing asal Italia senilai Rp58,8 miliar dilimpahkan ke Pengadilan Negeri (PN) Serang, Rabu (13/1). Kasus yang menyeret dua warga Banten tersebut sebentar lagi akan disidangkan.

Kasi Pidum Kejari Serang Yogi Wahyu Buana mengatakan kasus tersebut menyeret empat orang tersangka. Mereka, Rahudin warga Bogor, Jawa Barat (Jabar), Safril Batubara warga Medan, Sumatera Utara (Sumut). Lalu, Tomi Purwanto warga Kelurahan Medong, Kecamatan Mekar Jaya Kabupaten Pandeglang dan Leistanto Heri Pratomo warga Desa Ranjeng, Kecamatan Ciruas, Kabupaten Serang. “Berkas perkara tersebut hari ini sudah kami limpahkan ke pengadilan. Berkas disusun menjadi tiga untuk empat tersangka,” ujar Yogi.

Tahap dua atau pelimpahan barang bukti dan tersangka perkara tersebut sebelumnya dilimpahkan penyidik Bareskrim Polri dan Kejagung ke Kejari Serang pada Rabu (16/12/2020). Usai pemeriksaan tahap dua dilakukan, keempat tersangka ditahan penuntut umum Kejari Serang di Rutan Kelas IIB Serang. “Saat ini masih dilakukan penahanan,” kata Yogi didampingi Kasi Intel Kejari Serang Mali Diaan.

Yogi menjelaskan kejahatan yang dilakukan sindikat ini dilakukan pada akhir Maret 2020 lalu. Otak pelaku kejahatan tersebut merupakan WNA asal Nigeria BR yang saat ini belum ditangkap. Modus sindikat ini dengan cara meretas email atau disebut dengan businnes e-mail compromise. “Mereka ini meretas email,” kata Yogi.

Kata Yogi, sindikat ini sebelumnya mengetahui mengenai adanya bisnis antara perusahaan Italia bernama Altea Italy S.p.A dengan perusahaan China, Shenzen Mindray Bio-Medical Electronics. Bisnis antara kedua perusahaan tersebut berupa pembelian ventilator dan monitor Covid-19 dengan nilai kontrak 3,6 juta euro. “Ini merupakan kerjasama antara perusahaan China dengan Italia,” kata pria asal Tasikmalaya, Jawa Barat (Jabar) tersebut.

Untuk mengelabui perusahaan Italia tersebut, para tersangka mengirim email dengan mengatasnamakan general manager dari Shenzen Mindray Bio-Medical Electronics. Isi email tersebut mengenai pemberitahuan mengenai perubahan nomor rekening perusahaan menjadi salah satu rekening bank Indonesia.

Selain pemberitahuan perubahan rekening, isi email tersebut juga permintaan transfer dana. Pihak Altea Italy S.p.A yang mempercayai email tersebut kemudian mengirim transfer uang sebanyak tiga kali.

Namun setelah uang ditransfer, alat kesehatan (alkes) yang dipesan tak kunjung diterima Altea Italy S.p.A. Perusahaan Italia tersebut kemudian menghubungi Shenzen Mindray Bio-Medical Electronics. Setelah dikonfirmasi, Shenzen Mindray Bio-Medical Electronics membantah menerima aliran uang. “Yang ditipu ini perusahaan Italia,” kata Yogi.

Penipuan tersebut kemudian dilaporkan kepada NCB Interpol Italia. Setelah mengetahui para tersangka berada di Indonesia, NCB Interpol Italia kemudian bekerjasama dengan Bareskrim Polri. Pihak Bareskrim Polri kemudian mengambil alih kasus tersebut dan melakukan penangkapan terhadap para tersangka. “Ditangkap di sejumlah tempat,” kata Yogi.

Yogi mengatakan dari Rp58,8 miliar uang milik Altea Italy S.p.A hanya Rp2 miliar yang berhasil dicairkan. Sisanya, tidak bisa dicairkan lantaran dilakukan pemblokiran oleh pihak bank. “Yang cair Rp2 miliar. Uang tersebut digunakan para tersangka untuk membeli mobil, rumah dan keperluan lain mereka. Barang bukti yang disita dalam perkara ini Rp56 miliar sekian,” kata Yogi.

Perbuatan tersangka lanjut Yogi dijerat dengan pasal berlapis. Yakni, Pasal 378 KUHP atua Pasal 263 KUHP atau Pasal 85 UU Nomor 3 tahun 2011 tentang Transfer Dana. Kemudian Pasal 45A ayat (1) jo Pasal 28 ayat (1) UU ITE jo Pasal 55 KUHP atau Pasal 56 KUHP dan Pasal 3 Nomor 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Tindak Pidana Pencucian Uang. “Ancaman pidananya diatas lima tahun,” tutur Yogi. (Fahmi Sa’i)