Tak ada hal yang jauh lebih indah selain jalan-jalan bersama pasangan. Begitulah kalimat yang selalu jadi angan-angan bagi Amoy (45) nama samaran. Bagaimana tidak, sang suami, sebut saja Cimeng (46) yang hobi jalan-jalan, sering kali tak mengajaknya. Timbullah kecurigaan. Aih, kok enggak diajak gitu sih, Teh?

“Enggak tahu, Kang. Saya khawatir kejadian itu terulang lagi. Saya enggak rela,” curhat Amoy kepada Radar Banten.

Setelah ditelusuri, berdasarkan pengakuan Amoy, dahulu, ketika ia berusia 38 tahun sang suami 39 tahun, alasan pergi touring bersama-kawan, Cimeng ternyata main ke rumah perempuan lain di luar kota. Apalah daya, keributan pun tak dapat dihindari. Aih-aih. Parah amat Teh!

“Banyak yang bilang kita pasangan romantis yang enggak pernah cekcok atau ribut urusan rumah tangga. Sebenarnya enggak gitu juga, semuanya sama, dan kejadian itu yang bikin saya sangat marah ke dia” kata Amoy.

Seperti diceritakan Amoy, sang suami memang memiliki hobi jalan-jalan sejak muda. Meski begitu, bukan berarti Cimeng berasal dari keluarga berada. Justru sebaliknya, ayah dan ibu berprofesi sebagai guru honorer, masa kecil Cimeng berlangsung penuh tantangan. Sering mengalami pembully-an lantaran tidak memiliki apa yang dimiliki teman-teman, Cimeng kecil termasuk anak yang cengeng.

Meski begitu, Cimeng tidak menyerah pada keadaan. Beranjak remaja, ia diminta membantu usaha paman dan diberi upah. Sepulang sekolah rutin bekerja, Cimeng menabung untuk membuka usaha. Sampai lulus SMA, bukannya melanjutkan kuliah, ia malah berdagang.

Apesnya, entah karena belum rezeki atau memang tidak mempunyai kemampuan berbisnis, usaha Cimeng hancur berantakan. Uang tabungan yang selama ini dikumpulkan ludes tak tersisa. Apalah daya, mencoba bangkit dari keadaan, Cimeng memutuskan bekerja di salah satu perusahaan ternama di Cilegon.

Dan saat itulah Cimeng mulai menemukan sang belahan jiwa. Berkat peran seorang teman, ia dikenalkan dengan Amoy yang merupakan wanita asli Cilegon. Memiliki perasaan yang sama, tiga bulan melakukan pendekatan, mereka resmi jadian. Ciyee.

Amoy sendiri termasuk wanita sederhana. Berasal dari orangtua berprofesi sebagai petani, tak banyak keinginan Amoy dalam menentukan calon suami. Katanya, asal baik dan sayang keluarga, ia menerima dengan lapang dada. Memiliki postur tubuh langsing dengan wajah manis, Amoy sempat menjalin hubungan dengan beberapa pria. Namun lantaran tak menemukan kecocokan, cinta yang sudah dibangun kandas di tengah jalan. Sampai akhirnya, bertemulah ia dengan Cimeng. Lelaki tampan yang senang jalan-jalan.

“Haha, waktu itu bête saja pulang kerja enggak ada yang ngajak jalan. Jadi ya sudah deh pacaran. Dan kebetulan langsung merasa nyaman sama dia,” curhat Amoy malu-malu.

Singkat cerita, tak kurang dari setahun menjalin asmara, Cimeng dan Amoy sepakat menuju pelaminan. Dengan pesta sederhana dan mengundang teman serta sanak saudara, keduanya resmi menjadi sepasang suami istri. Atas kesepakatan bersama, Cimeng pun tinggal di rumah sang istri dan keluarga.

Di awal pernikahan, Cimeng berusaha beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Mencoba mendapat hati keluarga sang istri, setiap gajian ia membeli makanan dan barang-barang keperluan rumah. Pokoknya, selagi ada uang, demi kenyamanan hidup menumpang, apa pun Cimeng lakukan.

Berjalan dua tahun usia pernikahan, Cimeng dan Amoy dikaruniai anak pertama, membuat hubungan bersama keluarga semakin harmonis dan mesra. Dengan kehadiran bayi laki-laki nan lucu, seluruh keluarga menjadi akrab dengan Cimeng. Ia bahagia luar biasa.

Namun apesnya, seperti banyak dialami karyawan perusahaan pada umumnya, kontrak kerja Cimeng habis di waktu yang tidak tepat. Dengan sisa uang tabungan yang tak seberapa, Cimeng memutar otak mencari penghasilan baru. Hingga sebulan tak juga menemukan jalan keluar, akhirnya Cimeng dan Amoy memutuskan pindah ke Serang.

Tinggal bersama keluarga, kini giliran Amoy yang beradaptasi. Suami tak punya pekerjaan tetap, Amoy kerap mengeluh. Hingga akhirnya, Cimeng mencoba membangun usaha bersama teman. Mulai dari bisnis air mineral sampai berjualan pulsa dan token listrik, perlahan ekonomi sehari-hari mulai terpenuhi.

Seiring berjalannya hari, keadaan tetap tak berubah, semua usaha yang dilakukan seperti jalan di tempat. Setiap pemasukan perbulan pasti habis untuk kebutuhan. lantaran terpengaruh dengan lingkungan dan perkembangan zaman, di usia ke lima pernikahan, Cimeng dan Amoy mengalami masa-masa sulit yang penuh tantangan.

“Ya waktu itu posisinya sudah ada dua anak. Sedangkan usaha gitu-gitu saja. Ya meski enggak sampai menghutang, tapi susahnya bikin pusing dan kadang malah jadi ribut sama istri,” curhat Amoy.

Sampai suatu sore selepas ahar, ketika Amoy baru selesai memandikan kedua buah hati, Cimeng tampak memakai jaket dan menyisir rambut. Meski awalnya mencoba tak peduli, namun naluri seorang istri tak mampu melawan rasa penasaran ketika suami hendak pergi.

Namun ketika ditanya, Cimeng yang beranjak memanaskan kuda besinya, seolah tak menghargai sang istri. Berkali-kali menanyakan mau ke mana, tak ada jawaban dari sang suami. Didatangilah Cimeng oleh Amoy yang saat itu terbakar emosi. Parahnya, sang suami hanya menjawab dengan satu kata.

“Jalan, sudah begitu doang, Kang. Habis itu dia pergi tanpa permisi,” ungkap Amoy emosi.

Sehari, dua hari, tiga hari, Cimeng tak kunjung pulang. Di tengah kebingungan mencari nafkah karena tak ada persediaan, akhirnya, Amoy pun berhutang kepada tetangga. Hingga sore menjelang, terdengarlah suara motor memasuki halaman rumah.

Parahnya, begitu datang Cimeng langsung tidur tanpa menanyakan kabar anak istri. Hingga keesokan hari, ponsel Cimeng berdering. Diangkatlah oleh Amoy, tak disangka yang menelpon seorang wanita dengan nada menggoda. Mengamuklah Amoy dan langsung pergi pulang ke rumah orangtua. Beruntung rumah tangga mereka tak berpisah setelah sang suami meminta maaf dan berjanji tak mengulanginya lagi.

Ya ampun sabar ya Teh. Semoga Kang Cimeng enggak main wanita lagi dan ngajak Teh Amoy jalan-jalan. Hehe. (daru-zetizen/zee/ags)