Semua berawal ketika Imah (48), nama samaran, tak bisa menolak keinginan sang ayah untuk segera menikah. Soalnya, hampir semua teman seusia di kampung sudah menemukan jodoh masing-masing. Dengan usia yang semakin bertambah, meski bagi Imah ia masih terlalu muda, keluarga pun menyetujui niat baik sang ayah. Dikenalkanlah ia dengan Cueng (51), bukan nama sebenarnya.

Namun, apa mau dikata, rumah tangga yang dibangun dengan cinta separuh rasa, nyatanya tak berlangsung lama. Imah pun mengaku, hanya sesal dan perih yang tersisa.

Aih, kok segala ada istilah separuh rasa segala, memangnya kenapa sih Teh?

“Kejadiannya tuh pas saya usia 29 tahun dan Kang Cueng 32 tahun. Kalau ingat masa-masa itu, rasanya makan juga jadi enggak enak, mau ngapa-ngapain juga enggak bersemangat,” tutur Imah kepada Radar Banten.

Imah mengaku, ia yang terlahir dari keluarga sederhana sempat menolak karena masih ingin menikmati masa muda. Perseteruan pun terjadi. Karena ia belum juga membawa calon suami ke hadapan orangtua dan keluarga, mau tidak mau, sang ayah yang membawa calon untuknya.

Parahnya, sang calon lelaki pilhan sang ayah ialah teman masa kecilnya. Imah tahu betul bagaimana sikap dan karakter Cueng. Dan jelas, ia tidak menyukainya. Bertahan di tengah tekanan, tak ada yang bisa dilakukan selain berdoa sambil meminta bantuan pada teman-teman.

Sempat dikenalkan dengan beberapa lelaki, Imah menolak lantaran belum menemukan kecocokan. Maklumlah, dengan wajah cantik dan manis, anak pertama dari tiga bersaudara itu memiliki standar tinggi dalam menentukan calon suami. Widih, sombong amat sih Teh.
“Ya bukannya sombong, Kang. Atuh saya enggak mau menyesal nantinya, waktu itu yang saya pikirkan, harus punya suami sesuai kriteria,” curhat Imah.

Sampai suatu hari, ketika ia baru pulang dari pasar, di ruang depan rumahnya terdengar sayup-sayup orang mengobrol. Sambil mengucap salam, Imah terperanjat, ternyata Cueng dan orangtua sudah duduk manis menunggunya. Bingung apa yang harus dilakukan, Imah malah nyelonong masuk kamar.

Tak lama berselang, diketuknya pintu oleh sang ibu. Layaknya adegan di sinetron, Imah dipaksa menemui sang pria. Apa mau dikata, daripada orangtua malu dan malah menjadi bumerang baginya, Imah keluar dan menemani. Meski senyumnya hanya sesekali mengambang demi menghargai, itu sudah membuat Cueng bahagia.

Mulai dari membahas hal remeh sampai berbicara kegiatan masing-masing, sang lelaki pun mengajak segera menuju pelaminan. Parahnya, hal itu ditanggapi positif kedua orangtua, membuat Imah semakin tersiksa. Lagi-lagi, tak ada yang bisa ia lakukan selain diam menahan ketakberdayaan.

Mendapati kesungguhan Cueng pada putrinya, tentu sang ayah dan seluruh keluarga ikut senang. Sampai suatu ketika, sang ayah meminta Imah yang mengundang Cueng ke rumah. Imah mengaku, saat itu ia sebenarnya tak mau. Tapi, apalah daya, datanglah Cueng ke rumah.

Berpenampilan serta berperilaku sopan, Cueng sukses menarik hati serta meyakinkan keluarga Imah. Hebatnya, mungkin karena sudah tak sabar, Cueng langsung diterpa pertanyaan yang membuatnya ternganga. Ia langsung ditanya kapan akan menikahi Imah. Wew.

Singkat cerita, Cueng pun menjawab pertanyaan ayah Imah dengan datang membawa keluarga keesokan harinya. Melangsungkan lamaran dan menentukan tanggal pernikahan, Cueng dan Imah terikat tali pernikahan. Hingga hari bahagia itu datang, mereka pun mengikat janji sehidup semati, keduanya resmi menjadi sepasang suami istri.

Di awal pernikahan, Cueng lebih banyak memberi perhatian dan kasih sayang. Menuruti semua kemauan istri, ia tak pernah lelah meski dicueki. Ya, bagai air susu dibalas air tuba, sikap Imah kepada suami tak semesra pasangan suami istri pada umumnya. Aih, kok begitu sih, Teh?

“Ya bagaimana ya, Kang. Waktu itu saya merasa enggak bahagia menikah sama dia. Namanya juga enggak cinta, ya susah meski dipaksa,” terang Imah.

Setahun kemudian, lahirlah anak pertama membuat Cueng bahagia. Saat itu, meski hatinya sedikit mulai bisa menerima Cueng, tetapi sikap dan perlakuannya tak pernah memberi kenyamanan pada suami. Seiring berjalannya hari, barulah Imah mulai merasa, sosok Cueng adalah suami yang harus dilayani sepenuh hati.

Namun apesnya, berjalan tiga tahun usia pernikahan, kemesraan yang diberikan sang suami memudar. Cueng yang tadinya selalu perhatian dan bersikap lembut, menjadi cenderung acuh dan cuek. Kini, situasi jadi berbalik. Imah yang semakin cinta, Cueng yang justru kehilangan rasa.

Dan suatu hari, bagai mendapat serangan jantung mendadak, lewat mulut seorang tetangga. Kedekatan suami dengan wanita pelayan salon langganannya sampai di telinga Imah. Seolah tak mau kehilangan Cueng, tanpa basa basi, sore harinya ia langsung meminta kejelasan pada suami. Apalah daya, bagai dicambuk seribu kali, omongan Cueng menyakitkan hati.

“Memangnya selama ini saya nyaman dicueki kamu terus? Di depan saja saya senyum, di belakang mah menangis. Sekarang giliran ada wanita yang bikin saya nyaman, kamu malah marah-marah,” begitu kata Imah meniru ucapan suaminya.

Saat itu Imah menangis, menjerit, dan meminta maaf pada suami. Katanya, ia sampai mencium kaki Cueng. Namun, bagai patung yang tak bernyawa, suaminya hanya diam sambil memalingkan wajah, seolah baru saja memenangkan pergulatan batin maha dahsyat.

Seminggu penuh Cueng tak bicara. Jangankan mengobrol berdua, senyum pun tidak. Sampai akhirnya, Cueng berkata sesuatu yang jadi akhir dari perjalanan cinta bersama Imah. Apa mau dikata, meski sudah dibujuk, dirayu, bahkan memohon-mohon, Cueng tetap dengan keputusannya, menikah dengan kekasih simpanan. Astaga.

Ya ampun. Makanya, Teh, jangan suka cuek sama suami. Semoga ini jadi pelajaran berharga. Selalu sehat dan semoga dapat yang baru ya, Teh. Amin. (daru-zetizen/zee/ira)