Sudah bukan lagi masanya bagi Jarwo (51), nama samaran, berperilaku seperti apa yang sudah ia lakukan belasan tahun lalu. Lelaki yang memilih bekerja sebagai ojek online di daerah Kota Serang itu mengaku, kini hidupnya ingin fokus membiayai anak, setelah menjalani lika-liku kehidupan rumah tangga bersama Jumi (49), bukan nama sebenarnya.

“Kalau bisa dibilang bodoh mah ya saya ini memang bodoh, Kang. Ekonomi kekurangan, tapi malah bikin perbuatan yang memalukan,” ungkap Jarwo kepada Radar Banten.
Katanya, di usia yang ke 38 tahun dan Jumi ke 36 tahun, Jarwo terbawa omongan teman tentang asyiknya menjalin hubungan dengan wanita selain istri. Apa mau dikata, setiap hari memendam rahasia besar dalam rumah tangga, Jarwo mengaku, ia merasa tak nyaman, tapi sulit meninggalkan. Aih-aih.

Padahal, jika mengingat bagaimana perjuangan awal dahulu dalam meraih cinta serta mendapat restu menikah dengan Jumi, Jarwo selalu merasa sedih. Wajar saja, kalau dilihat dari segi kecocokan fisik, Jarwo dan Jumi bak langit dan bumi. Namun, sayang seribu sayang, kenangan indah yang dilalui bersama runtuh oleh kecerobohannya.

Seperti diceritakan Jarwo, Jumi muda merupakan wanita kembang desa. Banyak lelaki yang mengejar untuk dijadikan pendamping hidup. Namun, layaknya wanita cantik pada umumnya, Jumi termasuk tipe perempuan selektif dalam menentukan calon suami.

Memiliki wajah manis dengan kulit putih, Jumi sempat beberapa kali berganti kekasih. Ia yang terlahir dari keluarga sederhana terlihat sempurna dengan sikap ramah dan pendiamnya. Kata Jarwo, kecantikan Jumi akan bertambah 100 kali lipat ketika sedang bermain di pinggir sawah saat senja selepas mandi. Helai rambut terempas angin dan senyum manis gigi gingsulnya membuat setiap lelaki jatuh cinta. Widih, masa sih secantik itu, Kang?

“Dih, Kang. Waktu zaman saya mah dia memang benar-benar cantik. Enggak kalah sama cewek-cewek sekarang,” ungkap Jarwo.

Jarwo mengaku, di masa mudanya, ia lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman, nongkrong, dan jalan-jalan tak jelas. Banyak waktu terbuang sia-sia. Hal itulah yang menyebabkan almarhum bapaknya memilih menjual sawah ketimbang diwariskan kepada Jarwo. Aih.

“Ya waktu muda saya memang enggak menurut sama orangtua. Kadang kalau disuruh ke sawah tuh malas. Suka kabur juga dari rumah,” curhatnya.

Terlahir sebagai anak terakhir dari empat bersaudara, Jarwo mengaku, sikapnya di masa muda berbeda dengan kakak-kakaknya. Jika mereka semua menurut dan patuh pada orangtua, mungkin karena faktor anak terakhir, Jarwo cenderung melawan dan memberontak.

Singkat cerita, tibalah waktunya di mana Jarwo ingin menikah. Memintalah ia pada orangtua untuk melamar wanita pujaan hati. Meski awalnya pihak keluarga tak setuju karena usia masih terlalu muda, tetapi Jarwo terus memaksa. Sampai akhirnya, ia harus kecewa karena Jumi sudah ada yang melamar.

“Waktu itu saya keduluan orang. Ya sudah, saya mengamuk, semua barang-barang di rumah saya banting. Kesal dan sempat kabur dari rumah juga,” curhatnya.

Seminggu tak pulang, bagai mimpi kejatuhan duren, Jarwo mendapat kabar kalau Jumi tak melanjutkan hubungan dengan tunangannya. Katanya sih, sang lelaki ternyata masih memiliki kekasih yang menelepon Jumi dan mencaci-maki. Pucuk dicinta ulam pun tiba, Jarwo yang sempat galau lekas kembali pulang dan melancarkan aksinya.

Ajaibnya, mungkin lantaran ingin menutupi aib keluarga karena tak jadi menikah, atau memang takdir Tuhan, Jumi dan keluarga menerima lamaran Jarwo. Maka, seolah tak igin mengulang kesalahan sama, Jumi dan Jarwo bergegas ingin cepat-cepat menunju tanggal pernikahan. Seminggu kemudian, mengikat janji sehidup semati, keduanya resmi menjadi sepasang suami istri.

Di awal pernikahan, baik Jarwo maupun Jumi saling menjaga perasaan. Tinggal di rumah keluarga sang istri, Jarwo bersikap sopan dan pendiam. Pokoknya, semenjak menikah, ia seolah berubah seratus persen dari sikap dan tingkah lakunya saat perjaka.

Tak hanya itu, memanfaatkan kebaikan orangtua dan kakak-kakaknya, Jarwo yang awalnya tak mau ke sawah, tiba-tiba ingin menggarap sawah. Namun, sang ayah yang tak percaya, memilih menjual sawah dan menyerahkan sejumlah uang kepada Jarwo untuk membuka usaha lain. Tetapi, musibah datang tak terduga. Setelah itu, ibarat memberi sebuah isyarat, ayahnya wafat.

Empat puluh hari setelah kepergian ayahnya, kabar kehamilan Jumi mampu mengikis duka. Sejak saat itu, Jarwo mulai kembali semangat menjalani hari. Namun, apa mau dikata, uang yang seharusnya digunakan untuk membuka usaha, malah digunakan untuk mengontrak rumah dan membeli barang-barang elektronik.

Seiring berjalannya waktu, sang anak mulai tumbuh balita. Tiga tahun kemudian, habislah masa uang kontrakan. Dengan pekerjaan sebagai ojek, Jarwo banting tulang menafkahi keluarga. Hebatnya, Jumi yang selalu menemani mampu bersikap sabar dan setia melayani sang suami.

Hingga akhirnya, awal dari kehancuran itu terjadi. Berawal dari obrolan hangat sambil menunggu penumpang, beberapa rekan ojeknya curhat terkait keseruan menjalin hubungan dengan wanita lain. Katanya, kerja jadi semangat, bosan dengan yang ini, tinggal datang ke yang sana.

Apa mau dikata, Jarwo pun tergoda juga. Bermula dari perkenalan berkat peran teman, Jarwo merasa nyaman dalam menjalani hubungan terlarang. Setahun dua tahun kemudian, ia mengaku merasa lelah. Ketika melihat Jumi yang sabar merawat anak, air matanya menetes. Namun, saat sang wanita meminta ditemani, ia pun tak bisa menolak. Aih.
“Waktu itu susah buat tobatnya, Kang. Enggak bisa meninggalkan dua-duanya,” terang Jarwo.

Hingga akhirnya, rahasia yang disimpan dua tahun lamanya itu terbongkar karena sang wanita simpanan nekat datang ke rumah minta dinikahi. Jumi pun murka, perceraian pun terjadi. Astaga. (daru-zetizen/zee/ira)