Kaya Cemburuan, Susah Banyak Tuntutan

Kisah Jeki (46) nama samaran, bersama mantan istrinya, sebut saja Jeni (44) dalam menjalani rumah tangga dulunya cukup rumit. Warga Kecamatan Bojonegara, Kabupaten Serang itu dibuat serba salah oleh Jeni dalam menjalankan perannya sebagai suami. Kesuksesan yang diraih Jeki bikin Jeni menjadi istri pencemburu. Begitu impitan ekonomi melanda Jeki, sifat Jeni makin menjadi, malah banyak menuntut suami ini itu yang memaksa Jeki memutuskan untuk berpisah. Oalah. 

Ditemui Radar Banten di kediamannya, Jeki sedang asyik duduk di warung kopi sambil menjaga kotak uang pembayaran toilet di lokasi wisata religi. Menjaga pintu toilet menjadi kerjaan sampingan Jeki, profesi sebenarnya karyawan pabrik besi. Jeki pun berkenan menceritakan kisah rumah tangganya di masa lalu.

Prahara rumah tangga Jeki itu terjadi empat tahun lalu. Jeki pun mengaku sekarang lega sudah berpisah dengan Jeni karena sudah hilang keributan dan tuntutan istri. Jeki kini fokus menjalani hidup bersama istri barunya.

“Saya enggak peduli sama omongan orang, yang penting saya bahagia (dengan istri baru-red),” akunya. Iyalah istri baru, seger.

Pertemuan dengan Jeni terjadi saat mereka mengikuti kegiatan ziarah ke Jawa Tengah. Saat itu keduanya masih usia remaja. Di acara itu, dua-duanya diam-diam saling curi pandang selama perjalanan dalam bus. Maklum, Jeni memang cantik, kulitnya putih mulus dan penampilannya modis membuat Jeki langsung jatuh cinta pada pandang pertama. Lain dengan Jeki yang wajahnya pas-pasan. Jeki hanya bermodalkan anak orang punya. Orangtuanya punya banyak sawah. Bahkan, biaya tur ziarah setengahnya dibayar oleh ayah Jeki yang memang cukup terpandang dan dihormati di kampungnya.

Tak butuh lama untuk Jeki mengajak Jeni berkenalan. Dengan kepercayaan diri Jeki, nomor telepon Jeni langsung di tangan. Berbincang sebentar, lama lama keduanya mulai terjalin keakraban. Di pertemuan itu, mereka semakin akrab dan saling curhat tentang kehidupan pribadi. “Jeni selain cantik orangnya juga asyik. Makanya, saya langsung suka,” akunya. Dasar saja hidung belang.

Tiga bulan kemudian, anak dari tiga bersaudara itu mengajak Jeni jadian. Orangtua Jeni yang mengetahui anaknya berhubungan dengan Jeki langsung meminta Jeki untuk menikahinya. Maksudnya ingin derajatnya ikut keangkat. Angkat besi entah angkat kaki. “Ya begitulah. Namanya zaman dulu, yang penting banyak harta,” ujarnya. Dasar matre ya. 

Mendapat desakan dari keluarga Jeni, Jeki akhirnya setuju untuk menikah. Persiapan pernikahan pun dilakukan, mulai dari memilih gaun pengantin, menyebar undangan, sampai mencari mahar. Hari kebahagiaan itu pun tiba. Pernikahan Jeki dan Jeni berlangsung meriah. Rona kebahagiaan terpampang di wajah keduanya. Mengawali rumah tangga, Jeki dan Jeni masih malu-malu dan saling menjaga perasaan. Untuk sementara mereka tinggal di rumah keluarga mempelai pria.

Setelah setahun berjalan usia pernikahan dan dikaruniai anak pertama. Hubungan mereka tak lagi canggung seperti diawal-awal pernikahan. Soal urusan ranjang, Jeni sangat memuaskan dan tahan lama. Jeni tak pernah hilang mood setiap diajak berhubungan intim oleh Jeki. “Dia paham banget kalau saya lagi pengin,” guyonnya. Pengin apaan tuh?

Dua tahun kemudian ayah Jeki meninggal dunia. Jeki yang kebagian harta warisan dari almarhum sang ayah mulai tidak terkontrol. Hidup berfoya-foya dan royal terhadap siapa aja, apalagi wanita. Mengetahui Jeki menjadi ahli waris sang juragan beras membuat banyak wanita di kampung tergila-gila, tak peduli Jeki sudah beristri. Malah banyak yang terang-terangan siap dimadu. Astaga.

Menyadari hal itu, Jeni terpancing emosi dan mulai menjadi wanita pencemburu terhadap Jeki karena banyak yang mendekatinya. Hampir setiap hari keduanya berselisih paham karena sifat cemburu Jeni yang membuat keharmonisan rumah tangga mereka memudar. “Saya dekat sama siapa saja, Jeni marah. Jadinya enggak nyaman,” keluhnya. Harusnya senang istri cemburu, tandanya sayang.

Banyaknya harta warisan yang diberikan kepada Jeki membuatnya lupa. Jeki menjadi tidak terkontrol dan terpengaruh lingkungan yang kelam, Jeki mulai main judi hingga lama-lama ketagihan. Semakin hari harta Jeki mulai terkuras yang membuat ekonomi rumah tangga Jeki menurun. Kondisi itu membuat Jeni geram. Di saat Jeki mulai kehilangan amunisi, Jeni malah banyak menuntut ini itu. Begitu tidak dipenuhi, Jeni mengamuk. “Padahal saya awalnya setia, tapi sikap cemburu dia yang berlebihan bikin saya kecewa,” kesalnya. Bukannya gara-gara main judi ya.

Jeki pun diam-diam mencari pelarian, menjalin hubungan terlarang dengan gadis kampung yang dulu sempat menggodanya. Jeni yang mengetahui gelagat perselingkuhan Jeki mulai menanyakan kebenarannya langsung kepada sang suami. Bukannya mengaku, Jeki malah makin beringas sampai akhirnya terucap kata talak di mulutnya. Tidak ada solusi untuk rujuk, akhirnya mereka bercerai. Tak lama, Jeki menikah lagi dengan gadis pujaan hatinya yang baru. Bersama istrinya yang sekarang Jeki sudah dikaruniai dua anak.

“Daripada pusing-pusing bertahan, mending udahan,” tegasnya. Iyalah udah punya cadangan, dasar buaya. Yassalam. (mg06/zai/ira)