Ke Pulau Sangyang Sirah bersama Walikota Serang (1): Gelombang Laut Terbayar Pulau Peucang

Goa di Pulau Sangyang Sirah tak hanya menyajikan panorama indah. Pulau di semenanjung Taman Nasional Ujung Kulon itu menyimpan napak tilas bersejarah karuhun Banten.

KEN SUPRIYONO – Serang

Bersama rombongan wisata religi Aje Kendor, Walikota Serang Syafrudin, awak Radar Banten berkesempatan melihat lebih dekat Pulau Sangyang Sirah, Kabupaten Pandeglang, Minggu (20/10). Sebelum ke pulau yang konon pernah disinggahi Prabu Siliwangi itu, rombongan menyempatkan waktu bermalam di Resor Pulau Peucang yang tak kalah indah.

Perjalanan dimulai dari kediaman Walikota Serang di Cipocokjaya, Kota Serang, menuju pesisir Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, pada Sabtu (19/10) pagi. Setelah tiga jam perjalanan dari Cipocokjaya, rombongan tiba di pesisir Kecamatan Sumur.

Wilayah pesisir yang pada Desember tahun lalu dihantam gelombang tsunami itu sudah kembali normal. Buktinya, lalu lalang aktivitas warga dan nelayan di pesisir pantai. Nelayannya sibuk bersiap diri di kapal masing-masing. Ada yang sekadar bebersih kapal dan menyulam jala. Ada pula yang melakukan aktivitas jual beli hasil tangkapan laut. Sementara, di pantai berjajar jemuran ikan di bawah terik matahari yang cukup menyengat.

Meski terik dan bau ikan cukup pekat menusuk hidung, rombongan tetap antusias bersiap diri mengarungi perjalanan laut. Dibantu kapal kecil, Walikota Syafrudin dan 16 orang dalam rombongan diangkut menuju Kapal Panaitan 1 yang sudah bersandar. Kapal yang membawa rombongan mengarungi deru ombak nan biru di laut barat Jawa.

Satu per satu rombongan naik ke Kapal Panaitan 1. Canda, tawa, dan senyum mengiringi perjalanan. Apalagi, banyak burung camar beterbangan mencari ikan menghiasi debur ombak yang membiru sepanjang mata memandang. Penuh riang, rombongan mengabadikan momen itu dengan berswafoto.

Semakin ke tengah, beberapa pulau kecil tak berpenghuni mulai tampak. Pulau-pulau itu menambah indah perjalanan. Belum lagi, pantulan sinar matahari yang mulai condong ke barat.

Hanya saja, tak ada lagi sesi foto-foto karena angin di spot ini terlalu besar. Belum lagi, gulungan ombaknya mengguncang laju kapal. “Awas hati-hati, pada pegangan,” seru salah satu rombongan memperingati.

Setelah melewati masa-masa menegangkan, rombongan mulai bernapas lega kala dermaga Pulau Peucang mulai tampak. Angin masih cukup besar. Tapi, ombaknya mulai berangsur-angsur normal. “Alhamdulillah setelah tiga jam perjalanan, kita sampai di penginapan Pulau Peucang. Jadi, kita istirahat dan bermalam di sini dan besok jam enam (pagi) kita lanjut ke Sangyang Sirah,” ujar Syafrudin di dermaga Resor Pulau Peucang.

Saat itu, bandul jam sudah menunjuk pukul 17.30 WIB. Perjalanan tak mungkin lagi dilanjutkan. Hari mulai gelap, sedangkan waktu tempuh masih dua jam lagi untuk sampai ke Pulau Sangyang Sirah. Kapten Kapal Panaitan juga tak bisa memastikan situasi cuaca dan besaran ombaknya.

Selain itu, rombongan sudah mulai letih setelah enam jam perjalanan. Mulai dari tiga jam perjalanan darat dari Kota Serang ke Sumur, Pandeglang. Lalu, tiga jam perjalanan laut dari Sumur ke Pulau Peucang.

Kendati lelah, perjalanan hingga sore itu terbalas lunas dengan panorama Pulau Peucang yang masuk sebagai kawasan Taman Nasional Ujung Kulon ini. Tidak hanya jernihnya air yang membentang sepanjang pantai, keanekaragaman hewan memberi hiburan sendiri.

Monyet-monyet kecil yang bebas berlarian memberi hiburan bagi rombongan. Belum lagi, masih banyak kijang yang bebas berlarian di sekitar pantai dan penginapan. Tapi, jangan kaget juga jika melihat babi hutan berkeliaran.

Ya, di Pulau Peucang, bukan cuma kijang dan monyet yang jadi pemandangan, babi hutan juga banyak berkeliaran. Tak ayal, kedatangan mereka yang tiba-tiba di depan mata sering kali mengagetkan. “Tenang saja, Mas, itu jinak,” seru pengelola resor saat beberapa rombongan dikagetkan seekor babi hutan hitam.

Rombongan pun bebersih diri dan melaksanakan salat magrib. Agenda pun dilanjut makan malam bersama di beranda penginapan. Hidangan seperti cumi, ikan bakar, dan hidangan laut laut lainnya menjadi menu spesial bancakan malam itu.

Lagi-lagi, beberapa ekor babi dan kijang mengejutkan rombongan saat makan malam. Ya, hewan-hewan yang konon sudah jinak itu berjalan mendekati rombongan yang sedang menyantap hidangan.

Berkali-kali hewan itu coba diusir. Tapi, mereka seperti tak peduli dengan suara usiran itu. Akhirnya, beberapa dari kami pun menjadikan hewan-hewan itu sebagai hiburan hingga larut malam. Semua pun tertawa lepas melihat tingkah lucu hewan-hewan itu saat berebut makanan.

Malam telah berlalu. Sang surya mulai terbit lagi. Setelah salat subuh selesai, rombongan bersiap diri melanjutkan perjalanan napak tilas menuju Pulau Sangyang Sirah pada Minggu (20/10). (*)