Ke Sanghyang Sirah Bersama Walikota Serang (2/Habis): Pakai Sekoci Mendarat Tanpa Dermaga

Panorama Resor Pulau Peucang menambah semangat perjalanan rombongan wisata religi Aje Kendor bersama Walikota Serang Syafrudin. Setelah melepas lelah semalam, perjalanan menuju Gua Sanghyang Sirah kembali dilanjutkan.

KEN SUPRIYONO – Serang

Hari beranjak pagi. Mata masih terasa berat. Tapi, rombongan tak bisa menunda perjalanan menuju Gua Sanghyang Sirah di semenanjung Ujung Kulon, Kabupaten Pandeglang.

Meski silir angin masih terasa menusuk tulang, rombongan cukup beruntung dengan suguhan panorama Pulau Peucang pada Minggu (20/10) pagi. Desir ombak dengan air nan bening memberi kesegaran mata yang semula terasa berat. Belum lagi, kijang-kijang yang banyak berkeliaran di sekitar dermaga memberi hiburan yang tak dapat lagi ditemui di tengah-tengah kota.

Sesaat momen foto menjadi rangkaian cerita perjalanan. Lalu, satu per satu rombongan menaiki Kapal Panaitan 1 dari dermaga. Diawali doa yang dipimpin Ustaz Nurdin, perjalanan mengarungi ombak nan biru berlanjut.

Perjalanan dari Pulau Peucang menuju tepi daratan Sanghyang Sirah membutuhkan waktu tempuh dua jam. Selisih satu jam perjalanan dari pesisir Sumur ke Pulau Peucang. Ombaknya juga tak sebesar perjalanan awal. Gulungan ombak besar baru terasa saat daratan Sanghyang Sirah mulai tampak. Angin yang berembus juga tak kalah besar.

Berbeda dengan Pulau Pecang, tepi daratan Sanghyang Sirah tak ada dermaga untuk kapal bersandar. Karang-karang yang besar juga tak memungkinkan kapal mendekati tepi daratan. Terpaksa, rombongan harus menggunakan perahu kecil atau sekoci untuk turun dari kapal ke daratan.

Butuh nyali besar untuk turun saat itu. Apalagi, bagi yang kali pertama melakukannya. Sekoci yang dipakai untuk mendarat hanya berkapasitas dua orang itu. Benar-benar memacu detak jantung.

Walikota Serang Syafrudin yang mengawali pendaratan. Posisinya yang salah, hampir membuat sekoci terbalik. Beruntung anak buah kapal (ABK) yang memandu rombongan cukup cekatan mengambil posisi. Pendaratan Syafrudin pun mulus sampai menginjakkan kaki di daratan.

Para ABK kembali ambil posisi. Empat orang itu memandu rombongan secara bergantian melakukan pendaratan. Meski cukup berdebar-debar, kaki yang telah menginjakkan kaki di daratan Sanghyang Sirah terbayar lunas dengan keindahan panoramanya.

Bebatuan karang-karang besar dan tebing yang menjulang penuh pepohonan mengundang insting rombongan berswafoto. Semua tampak semringah meski awalnya tegang.

Puas dengan panorama di tepi laut, semua bergerak masuk naik ke daratan. “Kita kita berdoa dulu sebelum berangkat. Jadi, semuanya saling menjaga. Jangan makan sambil berdiri,” ujar Syafrudin sebelum Ustaz Nurdin memulai pembacaan doa.

Selangkah demi selangkah rombongan melintas jalan setapak. Membelah semak belukar, juga pepohonan besar. Sesekali, perjalanan kembali melintas tepi laut yang tampak membiru dengan gulungan ombak kecil.

Jalur menuju titik Gua Sanghyang Sirah tak semuanya datar. Beberapa lintasan harus naik turun yang sedikit membuat napas terengah-engah. Tapi, dengan penuh riang gembira, semua merasa punya energi ekstra untuk melangkah selama satu setengah jam lebih perjalanan.

Di tengah perjalanan, rombongan dihentikan gemericik sumber air. Semua memilih jeda rehat. Jernihnya air itu  membuat beberapa rombongan melewatkan waktu dengan menceburkan diri. Sebagian lainnya hanya memilih sekadar membasuh muka. “Seger ini,” ujar Anis, salah satu rombongan yang sudah basah kuyup menceburkan diri ke kubangan sumber air.

Lima belas menit lamanya rombongan jeda rehat di lokasi tersebut. Perjalanan yang konon menyisakan 100-an meter untuk sampai titik akhir perjalanan di Gua Sanghyang Sirah.

Sampai lokasi, lagi-lagi mata dimanjakan panorama birunya laut dan tebing-tebing menjulang tinggi. Sembari melepas lelah, rombongan memilih bersantai di tepi pantai dan bangunan gubuk dari kayu di depan Gua Sanghyang Sirah. Di depan gua itu juga terdapat sumber mata air. Jernih dan segar sekali airnya. Satu per satu rombongan memanfaatkan untuk mandi atau sekadar cuci muka.

Setelah semuanya bebersih diri, dipandu Ustaz Nurdin, rombongan memasuki gua untul bertawasul. Kurang lebih selama tiga puluh menit rombongan memanjatkan doa di dalam gua, yang konon pernah disinggahi Prabu Siliwangi, Pangeran Kian Santang, dan beberapa karuhun Banten.

“Ini bukan kuburan atau makam, tapi petilasan. Kita ke sini karena orangtua kita dulu pernah tafakur dan munajat di sini,” kata Kiai Suhri dari Gunungsari yang ikut dalam rombongan.

Lantaran tempatnya yang bersejarah dan dianggap menjadi awal penyebaran Islam di Banten, rombongan memilih melakukan perjalanan ke Sanghyang Sirah. “Jadi, kita ke sini untuk bermunajat dan semoga Allah memberi barokah ke kita semua,” tambahnya.

Di ujung Gua Sanghyang Sirah, juga terdapat danau yang airnya tak kalah jernih. Lagi-lagi, beberapa rombongan memanfaatkan untuk mandi dan bebersih diri setelah berdoa. Saat awak Radar Banten mencoba menceburkan diri, ternyata benar-benar sejuk.

Sebelum rombongan pulang, Syafrudin berbagi pengalaman melakukan ziarah atau wisata religi yang sudah rutin dilakoni enam tahun ini. Sebelum diberi amanat sebagai walikota Serang, aktivitas itu dilakukan rutin setiap malam Jumat. Kini, aktivitas ziarah hanya dilakukan saat ada waktu senggang saja.

Tak hanya di wilayah Banten, daerah luar seperti Cirebon, Jawa Timur, hingga Aceh diakui Syafrudin pernah disinggahi. Syafrudin menilai, ziarah sebagai tradisi sekaligus wadah silaturahmi dengan sesama. Tempat-tempat yang didatangi punya nilai sejarah dan pernah disinggahi para wali, kiai besar, dan pejuang.

Ziarah juga bisanya dilakukan pada makam-makam para wali atau ulama besar. Selain bermunajat, ziarah dilakukan untuk mendoakan mereka yang hidupnya banyak memberi jasa. “Jadi, kita datang agar kita ingat hidup tidak selamanya sembari mendoakan yang meninggal agar menjadi penghuni surga Allah. Kami memohon kepada yang kuasa untuk mendapat barokah Allah,” katanya. (*)