Kebablasan Bilang Siap, Akhirnya Terancam Cerai

Love Story

Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

Sebagai seorang aparat kepolisian, Saleh (38), nama samaran, harus siap menerima tugas kapan pun juga. Karena itulah, Saleh pantang bilang tidak dan selalu berkata siap untuk segala hal. Sayangnya, kalimat siap yang terbiasa keluar dari mulut Saleh kebablasan. Sebab, ketika Melati (34), nama samaran istri Saleh, mengancam cerai, Saleh juga bilang siap. Waduh…?!

Sontak, kalimat siap yang meluncur dari mulut Saleh membuat Melati marah besar. Padahal, Melati tidak bersungguh-sungguh, kalimat tersebut hanyalah ungkapan emosi kepada Saleh. Ini terjadi ketika Saleh tidak pulang satu pekan karena tugas. Lantaran selama sepekan tidak pernah memberikan kabar, Melati marah dan keluarlah ancaman cerai.

“Saya ancam cerai, Mas Saleh malah bilang siap. Ya sudah saya jadikan saja, saya gugat cerai sekalian,” kata Melati.

Melati lalu angkat kaki dari rumah yang telah ia tinggali selama delapan tahun. Ia pun mengajak anak satu-satunya, hasil perkawinan Melati dengan Saleh. Lucunya, Saleh tidak bereaksi cepat. Ia hanya melihat kepergian istri dan anaknya dari rumahnya itu. “Dia hanya melihat saya sambil tersenyum gugup. Kelihatannya mau ngomong sesuatu tapi susah ngomongnya,” ujar Melati.

Melati pergi ke rumah orangtuanya. Keesokan hari, Melati mengajukan gugatan cerai ke Pengadilan Agama. “Biar kelihatan serius, saya datangi Pengadilan Agama untuk bercerai. Lagi pula saya waktu itu masih terdorong rasa marah. Padahal dalam hati, saya sendiri ragu dengan apa yang saya lakukan,” jelasnya.

Sebenarnya, Melati tahu betul dengan sifat suaminya itu. Menurut Melati, Saleh adalah sosok pria pendiam namun pekerja keras. Saleh jarang bicara panjang lebar, juga mengeluarkan kata-kata yang percuma. Saleh lebih suka bekerja dan melakukan kegiatan yang berguna.

“Suami saya itu pekerja keras dan jarang bicara. Dia lebih suka melakukan pembuktian daripada ngaku-ngaku bisa. Itu tipe suami saya,” terangnya.

Kepribadian Saleh ini pula yang membuat Melati kesengsem. Ia melihat sosok Saleh sebagai polisi jujur dan bertanggung jawab. Sepertinya pribadi yang selalu siap dan sigap dimiliki Saleh, juga disukai atasan. Ia sering diajak bertugas, juga bepergian ke luar daerah untuk kegiatan kedinasan.

Nah, tragedi ancam cerai ini terjadi sekira September 2011. Ini ketika Saleh mendapat tugas perbantuan untuk melakukan penjagaan arus mudik dan arus balik. Ia terpaksa meninggalkan rumah hingga satu pekan lebih. Melati sebenarnya tidak keberatan, namun yang ia persoalkan tidak ada kabar sedikit pun dari Saleh selama bertugas. “Setidaknya SMS, tidak perlu telepon. Tapi dia tidak hubungi saya sekali pun,” tuturnya.

Ini tentu saja membuat Melati geram. Sebab ia telah berusaha menghubungi suaminya itu. Melati juga sudah memberikan pesan kepada rekan-rekan kerja Saleh agar menelepon balik dirinya. Sayang Saleh tidak juga menghubungi Melati. “Saya waktu itu enggak habis pikir kenapa Mas Saleh enggak telpon saya. Padahal sudah di SMS, titip pesan ke temannya pun sudah saya lakukan,” jelasnya.

Karena itulah, ketika Saleh pulang dari tugas, Melati dengan nada keras mengancam Saleh bercerai. Namun respons ancaman itu tidak sesuai harapan Melati, sebab sang suami bilang siap terhadap ancaman itu.

Setelah diusut, ternyata momentum Melati dan Saleh memang sangat pas. Saleh yang tengah dalam kondisi sangat kelelahan, merasa tersinggung dengan sambutan istrinya. Ketika ia berharap mendapat pelukan hangat dan diteruskan dengan tawaran dipijit oleh Melati, sang istri malah ancam cerai.

Karena itulah Saleh menjawab siap jika Melati ingin bercerai. Sebab Saleh pun terpicu emosi ketika Melati mengeluarkan ancaman cerai. Hanya saja berbeda dengan Melati, Saleh langsung terbangun dari emosinya. Ia sadar jika emosinya telah membuat sang istri pergi dari rumah. Ketika Melati dan anaknya pergi, ia ingin mencegah mereka. Hanya saja mulut Saleh terkunci karena tidak tahu harus berkata apa.

Lantaran sadar akan ketidakmampuannya menjabarkan keinginan hati, Saleh menyewa jasa pengacara untuk menemaninya selama persidangan. Saleh meminta sang pengacara untuk bisa mempertahankan pernikahannya.

Langkah Saleh sangat tepat, kehadiran pengacara yang mahir mengungkapkan perasaan Saleh, membuat gugatan cerai Melati dibatalkan. Keduanya sepakat rujuk dan Melati mencabut gugatannya. “Persoalan kami memang berawal dari salah paham, karena itu kami lalu berdamai,” jelasnya.

Sejak kejadian itu, Saleh mulai belajar untuk lebih banyak bicara dan mengungkapkan perasaannya kepada Melati. Syukur deh kalau persoalan ini berakhir damai. (RB/quy/zee)