Kejari Serang Setor Uang Korupsi Rp950 Juta

0
561 views
Kepala Kejari Serang Supardi (tiga dari kanan) mengangkat sejumlah uang hasil korupsi proyek irigasi Bendungan Cihara, Kabupaten Lebak tahun 2016, Senin (6/7).

SERANG – Kejaksaan Negeri (Kejari) Serang menyetorkan uang Rp950 juta ke kas negara, Senin (6/7). Uang itu berasal dari terpidana korupsi proyek irigasi Bendungan Cihara, Kabupaten Lebak senilai Rp 3,5 miliar, Cepi Sayfudin. 

“Hari ini (kemarin-red) kita menyerahkan uang Rp950 juta ke kas negara dari terpidana atas nama Cepi Sayfudin. Penyerahan uang ini setelah putusan yang bersangkutan baru saja inkrah,” kata Kepala Kejari Serang Supardi, Senin (6/7).

Cepi adalah pelaksana proyek Irigasi Bendungan Cihara yang divonis lima tahun penjara, denda Rp200 juta subsider enam bulan kurungan. “Selain itu, pidana tambahan berupa uang pengganti atau kerugian negara Rp2,8 miliar lebih subsider empat tahun penjara,” kata Supardi.

Perkara tersebut telah inkrah sejak Kamis (28/5) lalu. Mahkamah Agung (MA) menolak permohonan kasasi Cepi. Majelis hakim yang diketuai Krisna Harahap bersama dua hakim anggota Abdul Latief dan Suhadi menguatkan putusan banding Pengadilan Tinggi (PT) Banten. “Putusannya di Mahkamah Agung pada tanggal 28 Mei 2020,” ujar Supardi.

Dikatakan Supardi, uang tersebut dibayar Cepi selama proses penyidikan Rp100 juta dan di persidangan Rp850 juta.

“Uang pengganti yang dibebankan Rp2,8 miliar sekian. Yang baru dibayarkan Rp950 juta, kita akan coba kejar hartanya untuk menutupi kerugian negara,” kata Supardi.

Kata Supardi, pengembalian kerugian negara merupakan hal terpenting dalam penindakan tindak pidana korupsi. “Yang terpenting juga adalah melakukan pencegahan, namun apabila pencegahan tidak berhasil karena ada kasus dan kerugian negara kita akan semaksimal mungkin untuk mengembalikan kerugian keuangan negara,” kata Supardi.

Selain Cepi, proyek pada Dinas Sumber Daya Air dan Pemukiman (DSDAP) Provinsi Banten telah menyeret tiga terpidana lain. Yakni, pejabat pembuat komitmen (PPK) proyek Ade Pasti Kurnia, Direktur CV Karya Pramata Konsolindo Achmad Ginanjar, dan konsultan pengawas Hendi Suryadi.

Ade Pasti Kurnia divonis lima tahun penjara dan denda Rp200 juta subsider enam bulan kurungan serta uang pengganti Rp140 juta subsider empat tahun penjara. Sedangkan Achmad Ginanjar divonis empat tahun penjara, denda Rp200 juta susbider enam bulan kurungan, dan uang pengganti Rp66,949 juta susbider tiga tahun penjara.

Hendi Suryadi divonis empat tahun penjara, denda Rp200 juta subsider enam bulan serta uang pengganti Rp57 juta subsider tiga tahun penjara. “Ketiganya terpidana tersebut telah membayarkan uang pengganti sebesar Rp263 juta lebih. Uang tersebut telah kita setorkan ke kas negara,” tutur Supardi.

Kata Supardi, majelis hakim Pengadilan Tipikor Serang menilai keempat terdakwa bersalah. Cepi, Achmad Ginanjar dan Hendi Suryadi terbukti melanggar Pasal 2 ayat (1) jo Pasal 18 UU Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUH Pidana. Sementara Ade Pasti Kurnia terbukti melanggar Pasal 3 jo Pasal 18 Undang-undang yang sama. (mg05/nda)