Keji! Ditemukan di Dalam Ember, Balita Tewas Dibunuh Pengasuh

Kapolres Serang AKBP Indra Gunawan didampingi Wakapolres Kompol Agung Cahyono, Kapolsek Cikande Kompol Kosasih, dan Kasat Reskrim AKP David Chandra Babega menunjukkan barang bukti kejahatan pembunuhan balita, di Mapolres Serang, Rabu (1/8).

SERANG – Ratifah Rafsani (3) ditemukan tewas di dalam ember berisi air pada Selasa (31/7) malam. Balita asal Perum Griya Asri Cluster Mahoni, Kecamatan Cikande, Kabupaten Serang itu tewas lantaran jadi sasaran emosi pengasuhnya, Sani (25). Emosi pelaku dipicu oleh orangtua korban yang melarangnya berpacaran.

Jasad putri pasangan Ahmad Rojali dan Sutihati itu ditemukan sekira pukul 19.00 WIB. Sebelumnya, selepas bekerja Sutihati langsung pulang ke rumah. Dia tidak melihat putri dan pengasuhnya. Sutihati mengira putri semata wayangnya itu sedang keluar rumah bersama pengasuhnya.

Namun, saat akan mencuci kaki di kamar mandi, Sutihati kaget. Tubuh putrinya ditemukan berada dalam ember dalam kondisi tidak bernyawa. Sontak, Sutihati berteriak histeris. Teriakan Sutihati mengundang perhatian warga. Tak lama rumah korban telah penuh didatangi warga.

Warga berinisiatif melaporkan peristiwa itu ke Mapolsek Cikande. Atas laporan tersebut, polisi bersama petugas forensik dari RS dr Dradjat Prawiranegara, Kota Serang mendatangi lokasi.

Petugas Polsek Cikande dibantu personel Reskrim Polres Serang mengamankan lokasi dan melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Menghilangnya Sani mengundang kecurigaan polisi. Pengejaran dilakukan. Kurang dari enam jam, janda asal Kampung Pabuaran, Kecamatan Cikande itu diringkus dari sebuah saung di kebun di Kampung Baluk, Desa Nambo Ilir, Kecamatan Cikande, Rabu (1/8) dinihari.

Sani tidak mengelak dari tuduhan polisi. Dari bibir perempuan bertubuh mungil itu meluncur alasan di balik peristiwa maut tersebut. Sani menyimpan amarah kepada majikannya lantaran dimarahi saat berpacaran di rumahnya pada Senin (30/7) malam.

“Sehari sebelum membunuh korban, pelaku sempat dimarahi oleh orangtua korban dan melarang pacaran hingga malam hari,” kata Kapolres Serang Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Indra Gunawan di Mapolres Serang, Rabu (1/8).

Kekesalan Sani semakin memuncak setelah korban terus menangis lantaran tak mau tidur Selasa (31/7) pagi. Sani memukul dagu dan tangan kanan korban. Belum puas, pelaku memasukkan korban ke dalam ember berisi air.

“Setelah tidak ada orang, pelaku memukuli korban empat kali. Satu kali di dagu dan tiga kali di bagian tangan dan tubuh korban. Selanjutnya, korban dibawa ke kamar mandi dan langsung dimasukkan dalam ember berisi air penuh,” jelas Indra didampingi Kasat Reskrim Ajun Komisaris Polisi (AKP) David Chandra Babega.

Seusai menghabisi korban, Sani mengambil ponsel milik Sutihati dan uang Rp100 ribu buat melarikan diri. Namun, upaya Sani gagal. Sani terancam penjara seumur hidup. “Tersangka dijerat Pasal 80 ayat (3) UU tentang Perlindungan Anak jo Pasal 339 jo 340 KUH Pidana,” kata Indra.

Sementara, Sani mengakui tuduhan tersebut. Dia mengaku motif pembunuhan itu lantaran emosi terhadap majikannya. “Sakit hati sama mamahnya. Anaknya enggak mau nurut. Anaknya kan suka main air, saat di kamar mandi, saya pukul diam aja. Kemudian saya masukin ke air dan langsung saya tinggal,” kata Sani. (Merwanda/RBG)