Kejinya Pengasuh Pembunuh Balita di Cikande

Sani tersangka pembunuhan balita dengan memasukkan korbannya ke dalam ember melakukan adegan kekerasan saat rekonstruksi di kediaman korban,di Perumahan Griya Asri, Kecamatan Cikande, Kabupaten Serang, Rabu (8/8).

SERANG – Sorakan ratusan warga menyambut kedatangan Sani (25) ke Perumahan Griya Asri Cluster Mahoni, Kecamatan Cikande, Kabupaten Serang, Rabu (8/8). Kedatangan tersangka pembunuh Ratifa Rafsanjani Ahmad (4) ke rumah pasangan suami istri (pasutri) Ahmad Rojali dan Sutihati itu untuk mengikuti rekonstruksi.

Iring-iringan mobil aparat kepolisian tiba di lokasi pukul 13.27 WIB. Ratusan warga telah menunggu di sepanjang jalan perumahan. Tersangka bertubuh mungil itu keluar dari minibus. Dia didampingi beberapa penyidik UPPA Satreskrim Polres Serang. Sani yang mengenakan pakaian tahanan warna oranye dan masker hitam terus menunduk.

Spontan ratusan warga berteriak menyoraki janda beranak satu itu. Sani digiring penyidik menuju rumah mantan majikannya itu. Petugas harus bekerja keras menghalau warga yang ingin melihat lebih dekat tersangka.

Sampai di depan rumah Blok B14 No 30, penyidik membawa Sani masuk ke dalam rumah. Sementara di depan rumah mungil bercat warna merah itu telah disesaki ratusan warga. Aparat polisi terpaksa membuat pagar betis untuk memastikan warga tidak memasuki halaman rumah.

Berdasarkan rencana, Sani akan melakukan rekonstruksi dengan 18 reka adegan. Namun, berubah menjadi 19 reka adegan. Dalam rekonstruksi itu, sebuah boneka disiapkan polisi sebagai pengganti korban. Peran Sutihati juga digantikan oleh penyidik wanita. Sementara, Ahmad Rojali bersedia melakukan reka adegan sendiri.

Reka adegan bermula, ketika Sani ditegur Sutihati pada Senin (30/7) pagi. Sani dilarang membawa pacarnya ke rumah. Sani sakit hati. Reka adegan dilanjutkan dengan Sutihati dan Ahmad Rojali pergi bekerja pada Senin (31/8) pagi. Korban ditinggalkan bersama Sani. Seusai ditinggalkan majikannya, niat jahat Sani muncul.

Namun, niatnya belum dilaksanakan. Sani masih sempat menidurkan korban. Tak lama, korban terbangun dan menghampiri Sani. Korban menarik pakaian Sani untuk mengajak bermain. Korban kemudian masuk ke kamar mandi yang berada di samping dapur. Di dalam kamar mandi berukuran 1 x 2,5 meter itu, korban bermain air dan pasta gigi.

Reka adegan 8 hingga 12 berisi kekerasan Sani terhadap korban. Bermula, ketika Sani menyusul korban ke kamar mandi. Sani memukul satu kali lengan kanan korban dan dagu korban dua kali.

Sani menenggelamkan boneka yang mengganti peran korban ke dalam ember setinggi 50 centimeter berisi air. Posisi kepala korban berada di bawah. Setelah korban tewas, Sani berniat kabur. Sebelum kabur, Sani mengambil ponsel milik Sutihati dan uang Rp100 ribu dari dalam lemari pakaian. Sani juga mengambil pakaian miliknya. Sani meninggalkan rumah tanpa mengunci pintu. “Istri lagi di Anyar di rumah orangtua. Kalau di sini (lokasi-red) takut emosi lihat dia,” kata Ahmad Rojali.

Rojali terlihat tenang saat melihat Sani. Dia masih tidak percaya perempuan yang telah dianggap keluarganya sendiri itu tega membunuh putri semata wayangnya. “Dia pas sakit, saya yang biayain pengobatannya. Saya kurang apa?,” kata Rojali.

Selama dua bulan bekerja Sani dikenal sebagai perempuan yang baik dan taat beribadah. Latar belakang Sani diketahui juga tidak terlalu menyenangkan. Dia sempat mengalami kekerasan fisik dari ayah dan mantan suaminya. Hal tersebut membuat Rojali dan istrinya merasa percaya sekaligus iba kepada Sani.

Namun, Rojali mengaku ada perilaku Sani yang tidak disukai. Sani kerap kencan hingga tengah malam dengan tiga lelaki berbeda. “Saya juga sempat ngomong ke pelaku, punya pelet apa sampai banyak cowoknya. Yang saya lihat ada tiga cowok,” kenang Rojali.

Oleh karena itu, sales sebuah perusahaan di Tangerang itu menduga pemicu perbuatan sadis tersangka lantaran teguran istrinya. “Saya minta ke istri, biar dia yang ngomong. Biar sama-sama enak, kan sama perempuan. Malu kan sama tetangga, kalau sampai jam satu malam (pacaran-red),” kata Rojali.

Rasa empati Rojali ke Sani, telah berubah benci. Dia berharap Sani mendapat hukuman setimpal atas perbuatannya. “Nyawa dibalas dengan nyawa. Pelaku harus dihukum mati,” tegas Rojali.

Terpisah, Kapolres Serang Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Indra Gunawan mengatakan, rekonstruksi kasus pembunuhan itu telah sesuai dengan pemeriksaan penyidik.  “Tambahannya satu adegan, saat pelaku mengemas barang-barang pribadinya, seperti pakaian,” kata Indra.

Berdasarkan hasil reka adegan itu, Indra meyakini motif pembunuhan balita tersebut lantaran kesal dilarang berpacaran oleh majikannya. “Motifnya masih sama karena kesal dilarang pacaran,” ujar Indra. (Merwanda/RBG)