KEK Tanjung Lesung Sepi Investor

Beberapa penginapan yang berada di KEK Tanjung Lesung, Kabupaten Pandeglang, untuk tempat menginap wisatawan.

SERANG – Bagaimana dengan nasib KEK Tanjung Lesung? Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Banten (Bappeda), Hudaya Latuconsina mengakui, sejak dicanangkan pada 2012 sampai 2015 perkembangan KEK Tanjung Lesung tidak terlalu signifikan. “Pembangunan baru tahap pembebasan lahan dan penetapan lokasi. Kami menunggu realisasi Tol Serang-Panimbang. Kalau sudah jadi, ini pengaruhnya sangat luar biasa,” kata Hudaya kepada Radar Banten, Jumat (27/8).

Kata Hudaya, kunci pengembangan KEK Tanjung Lesung ada di PT Banten West Java (BWJ) sebagai pengelola Tanjung Lesung. “Kalau mereka (BWJ-red) cepat, kita juga (pemerintah provinsi-red) juga cepat,” jelasnya.

Untuk pembebasan lahan pembangunan Tol Serang-Panimbang, kata Hudaya, ditargetkan selesai tahun ini. Namun, pihaknya belum mengetahui secara pasti progres pembebasannya. Sebab, belum ada laporan secara detail dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). “Progresnya belum kita terima secara pasti karena masih terus berjalan. Tapi, targetnya tahun ini harus selesai, bahkan diharapkan tahun ini groundbeaking,” katanya.

Gubenur Rano Karno mengaku optimistis groundbreaking pembangunan Tol Serang-Panimbang dilakukan akhir tahun ini. Apalagi, pembebasan lahan direncanakan berbarengan dengan pembangunan fisik tol. “Saya yakin tahun ini tol groundbreaking. Informasi pembebasan lahan tidak semua, jadi simultan,” katanya.

Sejauh ini, Pemprov Banten juga telah menetapkan lokasi (penlok) pembangunan Tol Serang-Panimbang. Pembangunan dilakukan dalam tiga seksi yaitu Seksi I (Serang-Rangkasbitung), Seksi II (Rangkasbitung-Bojong) dan Seksi III (Bojong-Panimbang). Kepastian ini dibuktikan dengan ditandatanganinya Penetapan lokasi Tol Serang-Panimbang oleh Gubernur Rano Karno di Pendopo Gubernur, Kota Serang, Rabu (29/6) lalu.

Meliputi lahan seluas 1.500 hektare dan berlokasi 170 kilometer sebelah barat daya DKI Jakarta, KEK Tanjung Lesung disebut-sebut memiliki keunggulan geo-ekonomi dan geo-strategis.  Memiliki nilai ekonomi tinggi dan daya saing internasional untuk menyelenggarakan fungsi perekonomian. Peruntukannya, untuk menarik investasi, pengembangan infastruktur, penyerapan tenaga kerja, pengentasan kemiskinan, dan pengembangan sumber daya manusia.

Berdasarkan data Bappeda Banten, nilai investasi pengembangan KEK Tanjung Lesung sudah mencapai Rp4,2 triliun. Jumlahnya diperkirakan bertambah menjadi Rp53,28 triliun hingga 2025. Sedangkan penyerapan tenaga kerja diproyeksikan mencapai 200 ribu orang.

Sejak ditetapkan 2012 dan resmi beroperasi akhir Februari 2015, KEK Tanjung Lesung mulai dikebut pembangunan infrastrukturnya. Pengelola KEK yaitu, PT Jababeka Tbk melalui anak perusahaannya PT BWJ Tourism Development mulai menjalankan proyek KEK. Targetnya rampung pada 2022.

Satu tahun berlalu, pembangunan infrastruktur dan fasilitas pendukung proyek nasional dengan nilai investasi Rp4,83 triliun mulai menggeliat terutama pembangunan infrastruktur dalam kawasan. KEK Tanjung Lesung yang diperkirakan bisa menarik investasi sebesar Rp53,28 triliun hingga 2025.

General Manager PT BWJ, W Widiasmanto mengaku, hingga 2016 sejumlah investor telah menanamkan investasinya di Tanjung Lesung. Mereka di antaranya telah membangun hotel dan vila. “Dari total 1.500 hektare lahan yang kami kelola di KEK Tanjung Lesung, memang baru 20 persen yang baru digunakan,” kata Widiasmanto kepada Radar Banten, Jumat (26/8) pekan lalu.

Sebagai pengembang kawasan, PT BWJ di tahap awal berusaha mengembangkan kawasan wisata KEK Tanjung Lesung dengan konsep mixed development yang terdiri dari 4-5 stars resort, golf course, hotel dan residensial. Tahap berikutnya akan membangun fasilitas rekreasi termasuk lima stars theme park, di antaranya Maritim Learning & Research Center, Entertainment Center serta Marina Tanjung Lesung.

Hingga saat ini, lanjut Widiasmanto, ada tujuh perusahaan baik dari dalam maupun luar negeri yang sudah menandatangani kerja sama (MoU) menanamkan sahamnya. Ketujuh perusahaan itu adalah PT China Harbour Indonesia, Pigeon Barrels, Euro Asia Management, Eastern Latitudes, President University, Pelindo II, dan Telkom Indonesia.

Terkait fasilitas infrastruktur, Widiasmanto menuturkan, KEK Tanjung Lesung saat ini telah dilengkapi landasan pesawat terbang untuk pesawat-pesawat kecil. Selain itu, infrastruktur dalam kawasan seperti jalan, listrik, instalasi pengelolaan air bersih dan air limbah, dan drainase telah selesai dibangun.

Adapun kendala yang masih dihadapi selain minimnya jumlah investor yaitu persoalan pembebasan lahan. Dari 1.500 hektare yang sudah masuk masterplan KEK Tanjung Lesung, masih ada sekitar 70 hektare yang belum selesai pembebasan lahannya. “Pembebasan lahan belum 100 persen, sisanya masih dalam proses. Tapi dengan adanya proyek pembangunan jalan Tol Serang-Panimbang, kami semakin optimis para investor akan semakin banyak yang masuk sehingga pembangunan KEK sesuai target,” harapnya.

Penelusuran Radar Banten di lokasi KEK Tanjung Lesung, Jumat (26/8) pekan lalu, sepanjang jalan kawasan Tanjung Lesung terdapat lahan-lahan kosong yang dipasang baliho pembangunan. Sebagian lahan sedang digarap berupa pemerataan. Ada pula lahan masih kosong, baru sekadar pemasangan baliho. Sebagian lagi sudah hampir tahap penyelesaian.

Dari 13 poin fasilitas yang akan dibangun investor, baru tiga fasilitas yang sudah hampir rampung, yakni airstrip atau landasan pacu untuk pesawat kecil kapasitas sekira 20 sheet dan padang golf selain pembangunan infrastruktur di sekitar kawasan.

Lainnya, seperti homestay Ladda Bay, Ladda Beach atau pantai umum, Mongolian Culture Center atau kawasan budaya Mongol berikut perlengkapannya, Kampoeng Sawah, Revati atau hunian lima lantai semacam apartemen, Yacth Club semacam kawasan yang dilengkapi dengan sandaran kapal pesiar, hotel-hotel berbintang, marketing galeri, termasuk Presiden University masih berupa lahan kosong.

Direktur PT Banten West Java (BWJ) Kunto Wijoyo yang dikonfirmasi soal proses pembangunan mengaku tak bisa mempersentasekan kondisi fisik pembangunan. Karena, menurutnya, fasilitas wisatawan yang dibangun di KEK Tanjung Lesung banyak dan masing-masing mempunyai progres berlainan.

Namun, Kunto berkenan menjelaskan intisari progres dan prospek ke depan terkait KEK Tanjung Lesung. Dijelaskan Kunto, pembangunan yang sudah terselesaikan meliputi fasilitas lapangan golf yang dibangun di atas lahan seluas 50 hektare. Namun, dari 18 hole yang direncanakan dibangun, baru empat hole padang golf yang sudah siap dimainkan. “Yang pasti, semua lahan sudah kliring dan siap dieksekusi,” tegas Kunto.

Selain itu, lanjutnya, pembangunan yang hampir 100 persen selesai yaitu landasan pacu pesawat kecil (Airstrip) dengan panjang runway 1,2 kilometer. Kunto pun merencanakan peresmian Airstrip sekira dua bulan ke depan dengan mengundang Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. “Kebetulan beliau (Susi Pudjiastuti-red) mempunyai pesawat jenis itu (berukuran kecil),” terang pria berkaca mata itu.

Ketika disinggung pembangunan Tol Serang-Panimbang, Kunto optimistis 2018 terbangun. Menurut Kunto, sebetulnya banyak keuntungan bisa didapatkan investor jika berinvestasi sekarang. Katanya, harga lahan masih bersahabat, berbeda dengan setelah tol selesai dibangun, dipastikan lain cerita. Apalagi, ada pembangunan Bandara Udara di Kecamatan Panimbang, Banten Selatan yang menjadi prioritas utama.

“Bisa dibayangkan, di Panimbang ada bandara Nasional dan Internasional, ada juga aktivasi rel kereta api dari Rangkas ke Labuan, ceritanya bisa lain, mungkin harga sudah tidak bersahabat,” jelasnya.

Kepala Kantor Administrator KEK Tanjung Lesung Joyce Irmawati yang ditemui di kantornya menjelaskan, di KEK Tanjung Lesung pihaknya melayani perizinan yang merupakan pelimpahan dari gubernur, bupati, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), dan Kepala Perdagangan. Dikatakan Joyce, sejauh ini pihaknya sudah menerbitkan 26 izin dari total 40 izin di KEK Tanjung Lesung, baik izin baru maupun izin perpanjangan dari sejak beroperasi pada 2015. Tugas administrator juga mengawasi infrastruktur apa saja yang sudah dibangun.

Secara umum, dijelaskan Joyce, fasilitas yang sudah terbangun di KEK berupa pembukaan jalan-jalan baru, persiapan pembangunan pantai publik atau Ladda Beach termasuk di dalamnya UMKM, Airstrip semodel bandara perintis, enam helipad, perluasan vila, padang golf, serta perbaikan jalan.

Jika melihat perkembangan pembangunan, Joyce justru melihat potensi itu ada di buffer zone di luar kawasan yang dinilai berkembang siginifikan. Masyarakat mampu menangkap keuntungan dari pembangunan KEK dengan membangun homestay dengan harga terjangkau, sekira Rp500 ribu per malam. Saat ini, diperkirakan homestay yang berkembang di luar kawasan mencapai 100 unit. “Alhamdulillah, di luar dan di dalam kawasan sama-sama tumbuh. Kita bagi pangsa pasar aja, tidak rebutan,” katanya.

Ia berharap, bisa menarik investor dalam dan luar negeri yang skala besar seperti berinvestasi untuk 300 sampai 500 hektare lahan agar pembangunan cepat selesai. Adapun yang sudah MoU, diungkapkan Joyce, ada delapan investor, terakhir Daewo Grup dari Korea untuk pembangunan infrastruktur dan kawasan.

Salah satu warga sekitar KEK Tanjung Lesung, Sayuti mengaku, mendukung pembangunan KEK Tanjung Lesung. Dengan semakin bertambahnya fasilitas, menurut Sayuti, bisa menambah minat wisatawan yang berdampak pada penghasilannya membuka warung makan. (Nizar S-Supriyono-Deni S/Radar Banten)