Kekerasan Anak di Pandeglang Mengkhawatirkan

Hingga September Capai 14 Kasus

0
149
Net. Ilustrasi

PANDEGLANG – Kekerasan terhadap anak yang biasa dilakukan ayah tiri, ayah kandung, dan kerabat terdekat di Kabupaten Pandeglang masih sangat mengkhawatirkan. Terhitung sejak Januari hingga September 2017, kekerasan terhadap anak mencapai 14 kasus.

Hal itu diduga karena belum optimalnya kinerja Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Pandeglang dalam melakukan pencegahaan.

Ditemui di ruang kerjanya, Kepala Seksi (Kasi) Perlindungan Anak DP2KBP3A Kabupaten Pandeglang Sukari Miharja mengakui hal tersebut. Kata dia, berdasarkan laporan dari Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Pandeglang dari Januari hingga September, tindak kekerasan terhadap anak mencapai 14 kasus. Belasan kasus itu tersebar di seluruh kecamatan di Kabupaten Pandeglang.

Akan tetapi, Sukari mengaku tidak mengetahui secara pasti penyebab masalah tersebut terjadi. “Kalau data pastinya, di polres yang menangani. Kalau kita, pencegahan saja. Secara detail, kita tidak tahu penyebabnya, soalnya macam-macam. Seperti kejadian di Kecamatan Bojong, sampai kini belum ada putusan sidang pengadilan meski saksinya ibu kandungnya sendiri, tetapi pelakunya, ayah kandungnya sendiri, juga masih mengelak,” kata Sukari.

Ia mengklaim, pencegahan terhadap kasus kekerasan anak telah dilakukan. Caranya dengan melaksanakan program pelatihan terhadap anak-anak dari kalangan keluarga tidak mampu. “Bidang kami melatih anak-anak itu seperti membuat piring dari lidi, abon ikan lele, bakso ikan, sablon kaus, dan lainnya,” katanya.

Kasi Kesejahteraan Anak DP2KBP3A Kabupaten Pandeglang Mulyati menambahkan, dari kegiatan pelatihan tersebut, telah mengurangi angka kekerasan terhadap anak pada lingkungan keluarga mereka. “Dengan itu, anak bisa lebih menghasilkan karya seperti piring lidi bisa dijual ke tukang rias di daerahnya masing-masing,” katanya seraya menerangkan, kegiatan pelatihan terhadap anak telah dilaksanakan di Kecamatan Koroncong dan Kecamatan Menes.

Menurut Mulyati, ke depan juga akan dilakukan kegiatan serupa, tempatnya di Kecamatan Cikeusik. “Pelatihan rencananya akan diikuti oleh 30 anak sesuai rekomendasi pemerintah desa,” katanya seraya yakin kegiatan yang akan dilakukannya itu dapat mengurangi angka kekerasan terhadap anak. (Herman/RBG)