Kekerasan Anak Mengkhawatirkan

0
539 views

Pelaku Orang Terdekat, Keluarga Korban Harus Berani Lapor

SERANG – Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Provinsi Banten menilai kasus kekerasan terhadap anak sepanjang 2020 sangat mengkhawatirkan. Jumlah kasus kekerasan terhadap anak meningkat signifikan dibandingkan 2019. Salah satu penyebabnya, adalah karena pandemi Covid-19.

Ketua LPA Banten Muhammad Uut Lutfhi mengatakan, jumlah kasus kekerasan terhadap anak selama Januari hingga November 2020 sebanyak 53 kasus. Jumlah tersebut belum termasuk dari penanganan yang ada di LPA kabupaten kota di Provinsi Banten.

“Kalau dibandingkan tahun 2019 LPA Banten itu menangani 49 kasus, itu sudah termasuk yang ditangani oleh LPA yang ada di kabupaten kota (Provinsi Banten-red). Untuk tahun ini yang kami tangani ada 53 kasus, itu hanya LPA Banten saja. Ini (53 kasus-red) mengkhawatirkan,” kata Uut kepada Radar Banten, Kamis (26/11).

Rekapitulasi total kasus kekerasan terhadap anak akan dilaksanakan pada Desember 2020. LPA Banten dengan LPA kabupaten kota akan membuat laporan tahunan. “Desember nanti ada laporannya, nanti diketahui berapa jumlah kasus kekerasan terhadap anak, saya yakin akan ada penambahan,” kata Uut.

Dijelaskan Uut, kasus kekerasan terhadap anak didominasi kasus seksual. Tinggi kasus seks terhadap anak disebabkan oleh masa pandemi Covid-19. Soalnya, anak saat ini lebih banyak berada di rumah dan bermain media sosial (medsos). “Ini harus menjadi perhatian untuk orangtua,” ujar Uut.   

Predator seks terhadap anak, lanjut Uut, memanfaatkan media sosial untuk menjalin komunikasi. Dengan bujuk rayu, iming-iming dan perhatian, predator anak dapat mengambil hati anak. “Predator anak ini biasanya memberikan perhatian dan rasa nyaman kepada anak,” kata Uut.

Setelah berhasil memperdayai anak, pelaku menjalankan aksi dengan mengajak untuk berhubungan seks. Agar anak tidak menjadi korban predator seks orangtua perlu memberikan perhatian dan mengawasi aktivitas anak. “Komunikasi dengan anak harus terjalin dengan baik, jangan sampai anak malah berkeluh kesah di medsos sehingga malah menjadi korban,” ucap Uut.

Uut mengatakan kebanyakan pelaku kejahatan seksual terhadap anak adalah orang terdekat. Selain itu, terdapat oknum guru, tokoh agama dan yang lainnya. “Kebanyakan orang terdekat, dari oknum guru bahkan orangtua (ayah-red) juga ada,” kata Uut.

Dijelaskan Uut, penyebab terjadinya korban seks terhadap anak juga dikarenakan video porno. Dari kasus yang ditangani LPA terdapat pelaku yang merupakan ayah kandung dan anak di bawah umur. “Video porno juga salah satu penyebabnya. Kasus yang kami tangani ada ayah kandung yang tega menggauli anaknya karena habis nonton video porno,” tutur Uut.

Uut mengatakan untuk mencegah anak menjadi korban seksual anak sejak dini harus mulai diajarkan pendidikan seks. Anak harus diberikan pemahaman untuk melarang bagian tubuhnya disentuh oleh orang lain selain ibunya. “Anak dengan usia di bawah lima tahun harus sudah diajarkan pendidikan seks. Pendidikan seks ini penting,” kata Uut.

Anak juga harus diajarkan untuk melawan apabila menjadi korban. Bisa berteriak, berlari atau memberontak apabila mendapatkan pelecehan seksual. “Ajarkan anak untuk untuk melawan apabila mendapatkan pelecehan seksual bisa berontak, menghindar dan perlawanan fisik,” ucap Uut.

Uut berharap, pelaku kekerasan seks terhadap anak dihukum berat. Bila perlu diberikan hukuman kebiri supaya memberikan efek jera. Ia juga menyoroti kasus kekerasan seks terhadap tiga anak yang saat ini ditangani Polres Serang Kota. Pelaku tidak hanya berhubungan badan dengan anak, ia juga mengajak anak kandungnya yang masih berusia lima tahun untuk ikut melakukan hubungan seksual.

“Orangtua yang sangat bejad, dia melakukan persetubuhan dengan anak. Dia juga mengajak anaknya untuk ikut berhubungan seks. Saya harap nanti hakim menjatuhkan hukuman yang setimpal, bila perlu hukuman kebiri karena ini (kebiri-red) pernah dilakukan di Pengadilan Negeri Mojokerto,” tutur Uut.

BERANI LAPOR

Terpisah, Wakil Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Provinsi Banten Yayah Rukhiyah mengatakan, sejak awal tahun 2020 sampai saat ini, ada 47 kasus yang dilaporkan ke pihaknya.

Jumlah itu terdiri dari kekerasan dalam rumah tangga 12 kasus, perlindungan anak dua kasus, kekerasan psikis enam kasus, traficking satu kasus, hak asuh anak empat kasus, kekerasan fisik di bawah umur enam kasus, serta yang lainnya tujuh kasus. “Sedangkan kekerasan seksual ada sembilan kasus,” ujarnya.

Ia mengatakan, mayoritas pelaku kekerasan seksual adalah orang terdekat. Meskipun begitu, apabila kasus itu dilaporkan ke P2TP2A, maka pelaku akan divonis hukuman kurungan penjara maksimal 15 tahun. “Ada yang divonis sepuluh sampai 11 tahun,” ujarnya.

Menurut Yayah, jumlah kasus kekerasan seksual yang terjadi bisa saja lebih dari yang tercatat di P2TP2A. Dengan alasan aib dan malu, biasanya korban enggan melapor. Apalagi kalau pelakunya orang terdekat, misalnya ayah tiri.

Ia mengimbau setiap kasus kekerasan seksual dilaporkan. Selain agar pelaku kekerasan seksual mendapat hukuman setimpal, hal itu dilakukan agar korban mendapatkan terapi.

“Efek dari kekerasan seksual itu bisa dua. Pertama trauma atau kedua justru ketagihan. Nah ini yang harus diberikan terapi,” ujarnya.

Berdasarkan kasus yang pernah ditangani P2TP2A, motif kekerasan seksual beragam. “Pernah ada juga karena disuruh ayahnya pelaku. Macam-macam. Ada remaja yang jual diri karena gaya hidup. Tidak punya uang tetapi ingin mengikuti gaya hidup, ya akhirnya jual diri,” ungkapnya. Bahkan, ada juga pelaku yang dulunya korban sodomi, sekarang justru menjadi pelaku. (nna-mg05/alt)