Kekurangan Ruang Kelas, Siswa SMKN 7 Belajar di Luar

Siswa SMKN 7 Kota Serang belajar di emperan ruang kelas karena kekurangan ruangan kelas, Jumat (27/7). Meski kegiatan belajar mengajar tersebut terpaksa dilakukan di tempat yang kurang nyaman, tetapi guru tetap bersemangat untuk mengajar siswa.

SERANG – Sebanyak 324 siswa yang tergabung dalam sembilan rombongan belajar (rombel) SMKN 7 Kota Serang belajar di luar kelas, karena mereka tidak kebagian ruangan kelas. Mereka terpaksa belajar di pelataran kelas yang sudah berlangsung sejak ajaran baru tahun ini.

Sekolah yang berdiri sejak 2013 tersebut hanya mempunyai 11 ruangan kelas dan empat ruang laboratorium dengan rombel yang ada sebanyak 30.

Satu rombel terdiri atas 36 siswa. Siswa yang kebagian belajar di dalam kelas hanya 21 rombel, sisanya sembilan rombel tidak kebagian. Sebanyak 21 rombel itu menempati 11 ruang kelas, enam kelas darurat, dua laboratorium, dan dua lagi ruang guru yang sebelumnya adalah ruang laboratorium.

Pantauan Radar Banten, siswa yang belajar di pelataran kelas itu duduk lesehan. Ada yang duduk dengan bersila, duduk tegak, ada juga yang duduk sambil menyandarkan badan. Sementara sepatu mereka semuanya dilepas. Mereka belajar di pelataran kelas, kontras dengan siswa lain yang belajar di dalam kelas.

Tahun ajaran baru sebelumnya, mereka yang tidak kebagian kelas itu mengontrak kelas di SMA PGRI 1 dan 2, Kota Serang. Namun, tahun ini tidak ada anggaran untuk mengontrak.

Wakil Kepala SMKN 7 Kota Serang Bidang Sarana Wibowo Hendratmojo mengatakan, pihaknya sudah mengajukan anggaran pembangunan gedung pada 2014. Namun, usulan itu tidak serta merta langsung disetujui karena terkendala hal teknis. Pengajuan untuk ruang kelas baru sempat ditolak pemerintah karena lahan masih berupa persawahan.

“Kita mengajukan bantuan ke Pemkot Serang waktu itu untuk pengurukan dan tiga kelas baru,” ujarnya kepada Radar Banten, Jumat (27/7).

Untuk mengatasi kekurangan kelas tersebut, sekolah yang berada di Jalan Raya Bangdes, Kampung Baru Pakupatan, Kelurahan Panancangan, Kota Serang, itu membuat enam ruang kelas darurat. Kelas darurat tersebut terbuat dari rangka baja ringan yang atapnya menggunakan seng. Namun, kelas darurat itu belum dapat menampung semua siswa sehingga ada sebagian belajar di pelataran kelas.

Wibowo menjelaskan bahwa sekolah tidak memiliki dana untuk membangun ruang kelas baru ataupun untuk menyewa ruangan sekolah lain seperti tahun sebelumnya. “Tahun ini kita uang dari mana? Kecuali provinsi mau men-support kita untuk mengontrak, mungkin kelas satunya kita kontrakkan lagi keluar,” katanya.

Wibowo menjelaskan bahwa Pemerintah Provinsi Banten berjanji untuk memberikan tambahan ruang kelas baru tahun ini. Namun, belum ada kejelasan lagi. Meskipun demikian, Wibowo berharap janji tersebut segera direalisasikan.

“Kalau enggak kita semakin sengsara,” pungkasnya sambil tertawa. (Qodrat/RBG)