Keluarga Terduga Penyebar Hoaks Asal Cilegon Minta Penjelasan dari Mabes Polri

CILEGON – Keluarga terduga penyebar postingan hoaks di akun media sosial Facebook yang berbuntut pada ujaran kebencian meminta pihak Mabes Polri dapat memberikan keterangan mengenai proses hukum yang akan dijalani oleh saudaranya asal Kota Cilegon itu.

Ditemui Radar Banten Online di kediamannya di lingkungan Kedawung, RT 01 RW 07 Kelurahan Taman Baru, Kecamatan Citangkil , Anis adik dari Dedi yang ditangkap oleh polisi dari Mabes Polri pada Kamis 15 Februari lalu itu mengaku pihak kelurga sudah putus komunikasi terhadap dedi.

Dedi tidak dapat dihubungi melalui telepon selular oleh pihak keluarga meskipun hanya untuk menanyakan kabar. “Sampai hari ini masih putus kontak. Tidak bisa nelpon. Jadi kami tidak tahu apa kabar perkembangan kasusnya,” ujar Anis, Senin (26/2).

Sempat satu kali pihak keluarga menjenguk Dedi di Mabes Polri. Namun pertemuan itu tidak bisa berlangsung lama. Karena polisi memberikan batas waktu pertemuannya. Polisi beralasan selama 20 hari terhitung sejak penangkapan masih masa pengembangan atas kasusnya itu.

“Hari Selasa minggu kemarin, kita dari Cilegon empat orang yang menjenguk kesana. Saya tidak ikut, hanya ibu, bibi, istrinya, dan sopir. Kata polisi selama 20 hari masih pengembangan,” katanya.

Ia berharap polisi dari Mabes Polri itu dapat memberikan keterangan mengenai proses kelanjutan kasus keluarganya itu. Jika akan disidang, kapan dan dimana tempatnya. Atau jika tidak terbukti bersalah segeralah dipulangkan karena keluarga selalu menunggu di rumah.

“Kita tidak mengerti dan tidak pernah juga dijelaskan (oleh mabes polri). Kalau mau menyiapkan pengacara ya pengacara dari mana? kita tidak punya uang,” ungkapnya.

Informasi yang berhasil dihimpun, Dedi yang berprofesi sebagai petugas keamanan dalam (Pamdal) di Pemkot Cilegon ini ditangkap oleh polisi dirumahnya lantaran menyebarkan postingan hoax tentang Ketua Umum PDIP Megawati yang melarang azan. (Riko Budi Santoso/rikosabita@gmail.com)