Kemarau, Debit Air Bendung Pamarayan Menyusut

SERANG – Debit air di Bendung Pamarayan mengalami penyusutan cukup parah akibat kemarau berkepanjangan, yakni hanya tujuh kubik dari biasanya debit air rata-rata 100 kubik. Kondisi itu menyebabkan banyak lahan pertanian yang biasa memanfaatkan air irigasi untuk mengairi sawahnya mengalami kekeringan.

Kasi Operasional Pemeliharaan Jaringan Irigasi pada Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Serang Hendi Suhendi mengatakan, ketersediaan air di Bendung Pamarayan dibutuhkan para petani untuk mengairi lahan pertanian di sejumlah wilayah yang dilalui jaringan irigasi. Diakui Hendi, saat ini debit air di Bendung Pamarayan mengalami penyusutan cukup parah, sehingga dampaknya sangat dirasakan oleh petani.

“Debit air Bendung Pamarayan saat ini hanya enam sampai tujuh kubik, dampak dari kemarau berkepanjangan,” ungkap Hendi melalui sambungan telepon seluler, Kamis (30/8).

Tersendatnya suplai air dari Bendung Pamarayan kepada petani, menurut Hendi, bukan hanya akibat kemarau, melainkan juga adanya kegiatan normalisasi irigasi oleh pemerintah pusat. Kondisi diperparah, dengan tidak adanya penampungan untuk cadangan persediaan air untuk kebutuhan petani. “Otomatis sekarang lahan pertanian banyak yang mengalami kekeringan,” ujarnya.

Terkait itu, salah seorang warga asal Kecamatan Bandung Asja mengakui, mayoritas petani di wilayahnya mengandalkan irigasi untuk mengairi sawahnya. Lantaran itu, tidak adanya persediaan air di irigasi banyak dikeluhkan petani. Karena, sudah banyak tanaman padi di sawah yang mengalami kekeringan dan terancam puso. “Kalau air irigasi ada, pasti sudah kita sedot,” keluhnya.

Ia berharap, dalam waktu dekat turun hujan agar lahan garapannya kembali teraliri air sehingga padi yang ditanamnya terselamatkan. “Semoga saja pemerintah bisa mencari solusi. Kalau sampai gagal panen, semoga saja ada bantuan,” harapnya. (Adi/RBG)