Kematian Aurellia, Pemkot Tangsel Diminta Tak Tinggal Diam

0
120 views
Foto alm. Aurellia Qurrotain (jilbab hitam) bersama ibunya, Sri Wahyuni. Dok Pribadi For Radar Banten

TANGERANG SELATAN – Kematian anggota Paskibra Kota Tangsel Aurellia Qurrotain (16), Kamis (1/8) lalu, secara tiba-tiba, menimbulkan banyak spekulasi. Salah satunya, dugaan adanya faktor kekerasan yang dialami Aurel (panggilan akrab almarhumah Aurellia Qurrotain-red). Tak ingin kasus ini berlalu tanpa kejelasan, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meminta kepolisian untuk menyelesaikan kasus kematian Aurel. Sementara, Pemkot Tangsel juga didesak segera membentuk tim investigasi.

“Pemkot Tangsel semestinya tidak tinggal diam. Segera bentuk tim untuk melakukan investigasi dalam pelaksanaan pelatihan Paskibra,” kata Retno Listyarti, Komisioner KPAI Bidang Pendidikan saat dihubungi Radar Banten, Rabu (7/8).

Untuk mengkonkretkannya, KPAI akan bersurat resmi kepada Walikota Tangsel untuk mencari kejelasan soal kasus kematian Aurel. Juga sekaligus mengevaluasi pelaksanaan pelatihan Paskibra. “Kita (KPAI-red) mengajukan usulan rapat koordinasi tersebut pada Selasa 13 Agustus 2019 di kantor Walikota Tangsel,” jelasnya.

Rapat ini juga akan mengundang sejumlah dinas. Di antaranya, Dinas Pemuda dan Olahraga beserta tim pelatih Paskibra, Dinas Pemberdayaaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A), dan Inspektorat Kota Tangsel. “Kami juga akan meminta Pemkot Tangsel mengundang perwakilan Kemenpora RI, Dinas Pendidikan Provinsi Banten, dan SMA Al Azhar BSD,” ucapnya.

“KPAI juga meminta orangtua almarhumah Aurel dapat dihadirkan dalam rapat koordinasi tersebut, sehingga semua unsur terwakili. Apalagi dari hasil komunikasi kita, orangtua Aurel ingin sekali bertemu Walikota Tangsel Ibu Airin,” tambahnya.

Diketahui, Aurel siswi kelas XI MIPA 3 dari SMA Islam Al Azhar BSD itu meninggal di rumahnya Taman Royal 2, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang, Kamis (1/8) lalu sekira pukul 05.00. Korban meregang nyawa dalam masa pendidikan dan pelatihan Paskibra. Aurel menjadi kandidat pembawa baki yang akan menyerahkan atau menerima bendera Merah Putih dari Walikota Tangsel Airin Rachmi Diany dalam upacara Hari Kemerdekaan RI ke-74 tingkat Kota Tangsel.

Ditambahkan Retno, dari komunikasi dengan orangtua Aurel, KPAI menduga adanya kekerasan yang dialami korban dan kawan-kawannya, selama menjalani pelatihan Paskibra. Retno mengutip omongan orangtua Aurel, ada kejanggalan dalam pelatihan Paskibra. Misalnya, soal ketahanan fisik berlari setiap hari dengan membawa beban di punggung. ”Hal ini tak lazim. Kebetulan, ibu Aurel juga mantan anggota Paskibra saat masih SMA,” tuturnya.

Menanggapi itu, Kabid Pengembangan Pemuda, Endang belum dapat dikonfirmasi. Saat dihubungi semalam, sekira pukul 20.00 WIB, dia tidak mengangkat telepon wartawan koran ini. Namun sebelumnya, Ketua Purna Paskibraka Indonesia (PPI) Tangsel Warta Wijaya membantah adanya faktor kekerasan dalam kematian Aurel.

Terpisah, pemerhati anak Seto Mulyadi mengatakan, akan mendatangi keluarga Aurel dan Polres Tangsel untuk mengetahui detil penyebab kematiannya. ”Saya akan turun Senin (12/8) mendatang untuk mencari informasinya. Sekaligus menanyakan ke Polres Tangsel terkait penyelidikan. Kematian Aurel harus diusut tuntas,” ucap pria yang akrab dipanggil Kak Seto tersebut. (you/asp/sub)