Kembangkan Ekosistem Fintech, OJK Terapkan Supervisory Technology

SERANG – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mulai menerapkan Supervisory Technology (SupTech) untuk mengembangkan ekosistem perusahaan financial technology (fintech) yang masuk dalam ranah Inovasi Keuangan Digital (IKD).

Penerapan SupTech di IKD ditandai dengan peresmian laman mini di portal OJK yang diberi nama Gerbang Elektronik Sistem Informasi Keuangan Digital (Gesit) sebagai media interaksi antara OJK, penyelenggara IKD, dan masyarakat, pekan lalu.

“Gesit merupakan bentuk awal dari pengembangan SupTech untuk IKD. SupTech nantinya menjadi alat pemantauan terhadap penyelenggara yang telah terdaftar di OJK dengan mempergunakan teknologi. SupTech ditujukan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pemantauan terhadap penyelenggara terkait aspek kepatuhan terhadap aturan yang berlaku,” kata Wakil Ketua OJK Nurhaida, dikutip dari siaran pers, kemarin.

Nurhaida menjelaskan, OJK menyatakan komitmennya untuk mendukung perkembangan sektor keuangan digital secara utuh dan berkelanjutan dengan memberikan layanan yang efektif, efisien, dan bermanfaat serta mendukung peningkatan inklusi keuangan dalam membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Pada 20 Agustus 2018, OJK mendirikan Innovation Center atau Fintech Center yang disebut dengan OJK INFINITY. Melalui itu, OJK secara aktif membangun ekosistem fintech yang dapat menjadi bagian dari sistem keuangan Indonesia, dengan menghadirkan layanan jasa keuangan berbasis teknologi informasi yang inovatif, efektif, dan efisien. Namun, tetap mengedepankan perlindungan konsumen.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan, OJK INFINITY menjadi forum bagi para pelaku industri fintech di Indonesia maupun mancanegara melalui diskusi serta kolaborasi antara regulator dan inovator dalam rangka pengembangan IKD.

“OJK bekerja sama dengan otoritas di Singapura (Monetary Authority of Singapore) dan dalam waktu dekat akan segera menandatangani kerja sama dengan Securities Exchange Commission Malaysia. OJK juga sedang melakukan pembahasan mekanisme kerja sama dengan Japan Financial Services Auhority,” kata Wimboh.

Berdasarkan data statistik per 31 Juli 2019, OJK INFINITY melayani 397 konsultasi dan menerima lebih dari 800 pengunjung yang terdiri dari pelaku inovasi keuangan digital, pelaku jasa keuangan, pemerintah, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya.

Dengan diterbitkannya POJK No 13/POJK.02/2018 dan tersedianya fasilitas pelayanan dari OJK INFINITY, hingga saat ini terdapat total 48 penyelenggara IKD yang memperoleh status tercatat di bawah POJK 13/2018, dengan 34 di antaranya ditetapkan sebagai contoh model untuk diuji coba dalam Regulatory Sandbox dari 120 permohonan pencatatan yang masuk di OJK.

Dari total permohonan tersebut, tercatat 48 IKD yang terbagi menjadi 15 klaster, yaitu aggregator, credit scoring, claim service handling, digital DIRE, financial planner, financing agent, funding agent, online distress solution, online gold depository, project financing, social network and robo advisor, block-chain based, verification non-CDD, tax and accounting, serta e-KYC. (skn/aas/ira)