LEBAK- Tradisi Seren Taun yang digelar Masyarakat Adat Kasepuhan Cisungsang, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, digelar selama tujuh hari tujuh malam. Hajat ini sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan setelah panen.

Seperti biasanya, puncak Seren Taun selalu ramai, seperti pada hari Minggu (28/8) pagi hingga siang ini. Warga dari berbagai daerah di Banten dan luar Banten pun hadir menyaksikan rangkaian acara sakral ini mulai dariRasul Pare di Leuit, Bubuka, Pantun Tradisional, Balik Taun Rendangan, Ngareremokeun, Upacara Adat Seren Taun, dan Rasul Seren Taun.

image

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banten Opar Sochari mengatakan, ritual Seren Taun juga merupakan ajang silaturahmi antara anggota masyarakat kasepuhan dengan kepala adat.

Dalam menentukan waktu pelaksanaan ritual, lanjut Opar, Kepala Adat mengundang para penasihat, perangkat kasepuhan, dan para réndangan (perwakilan masyarakat adat), tokoh agama, tokoh pemuda, pemerintah desa, kecamatan, kepolisian untuk menyampaikan rangkaian kegiatan.

“Seren Taun yang dilaksanakan selama 7 hari 7 malam, berlokasi di Imah Gede, yaitu tempat kediaman ketua adat, diisi dengan berbagai kegiatan dan ritual adat. Ritual adat Seren Taun juga merupakan puncak siklus dari tradisi Masyarakat Kasepuhan Cisungsang dalam proses pengolahan, menanam, memelihara, menyimpan, dan menghargai padi,” kata Opar.

Tahun ini, pelaksanaan Seren Taun digelar mulai 22 hingga 28 Agustus 2016, dengan mengambil tema “Mi Eling Ciri Wanci Ti Karuhun” (Mengingat merupakan ciri waktu dari Karuhun).

Upacara adat Seren Taun juga dihadiri Gubernur Banten Rano Karno beserta jajarannya. (Ade F)