Serang – Mengakhiri tahun 2014 harga barang-barang jasa kebutuhan pokok masyarakat di Banten secara umum kembali mengalami kenaikan yang cukup tinggi. Hal ini terlihat dari naiknya angka Indeks Harga Konsumen (IHK) yang sebesar 121,01 pada bulan November 2014 menjadi 124,05 pada bulan Desember 2014 atau terjadi inflasi sebesar 2,51 persen.

Kabid Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten Jungjung Nurraharto menjelaskan inflasi ini terjadi karena naiknya semua indeks yang ada pada kelompok pengeluaran yaitu berturut-turut yakni kelompok bahan makanan naik 3,24 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau naik 1,12 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar naik 1,31 persen; kelompok sandang naik 0,41 persen; kelompok kesehatan naik 0,26 persen; kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga naik 0,10 persen; dan kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan naik sebesar 7,18 persen.

Junjung mengatakan, dua komoditi seperti BBM dan cabe merah menyumbang inflasi terbesar di Banten. “Komoditi yang dominan menyumbang inflasi pada bulan ini adalah bahan bakar minyak (BBM) dan cabe merah. Untuk BBM bisa dilihat dari tarif transportasi seperti angkot dan transportasi distribusi barang. Ini efek berikutnya setelah BBM naik. Pengaruh nainya biaya transportasi ini pada Desember cukup tinggi,” jelas Junjung kepada radarbanten.com melalui sambungan telpon, Minggu (4/1/2015).

Untuk komoditi seperti cabe merah, kenaikan terjadi karena cabe merah tidak tahan lama. “Apalagi sekarang musim hujan. Maka terjadi kurangnya pasokan di pasaran. Ditambah lagi, pada hari besar seperti Natal dan tahun baru kebutuhan masyarakat meningkat diiringi dengan banyak pedagang yang menaikkan harga,” paparnya.

Menurut Junjung pengalaman pada tahun-tahun sebelumnya, kenaikan harga di pasaran tidak berbanding lurus dengan perubahan turunnya harga setelah ketersediaan barang tercukupi. “Kalau sudah naik, biasanya harga-harga akan sulit turun lagi ini kesempatan untuk mengambil keungtungan oleh para pedagang,” jelasnya.

Inflasi yang mencapai 2,51 persen ini menurut Junjung termasuk tinggi. “Normalnya empat sampai lima persen se-tahun. Artinya ideal perbulannya lima persen dibagi 12 bulan. Itu baru inflasi yang ideal. Kalau sekarang 2,51 persen itu hampir setengah inflasi yang ideal terjadi untuk enam bulan,” pungkasnya.

(Wahyudin)