Semprul (47) mengaku mengenal Leha (45), keduanya nama samaran, di media sosial Facebook. Meski jarang bertemu karena jarak dan waktu, tetapi komunikasi keduanya berjalan lancar. Ya, meski baru bertemu sekali di acara bazar kaos terbesar di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta, tapi chemistry cinta antara mereka sudah terasa.

Tepat di malam Tahun Baru 2010, Semprul menegaskan sikap atas apa yang ia rasakan terhadap sang wanita. Meski awalnya Leha tak percaya sampai menunda jawaban cinta, mungkin setelah melakukan perenungan dan mengorek pribadi Semprul luar dan dalam, ia pun bersedia menjadi kekasih hati sang pria. Ciyeee.

“Ya waktu itu saya menunggu sebulan buat dapat jawaban dia, akhirnya diterima juga. Besoknya kita ketemuan sambil makan-makan deh,” aku Semprul.

Tak disangka, meski jarang bertemu, hubungan Semprul dan Leha berjalan sempurna. Keduanya merasa bahagia. Video call setiap malam, baik Leha maupun Semprul sering menebar kata mesra. Ibarat sepasang merpati muda, mereka sedang berada pada fase sayang tingkat dewa.

Semprul anak terakhir dari tiga bersaudara. Lelaki yang tinggal di sebuah kampung di Kabupaten Tangerang itu memiliki masa muda penuh warna. Terlahir dari keluarga berada, ayah bekerja di perusahaan ternama dan memiliki banyak tanah, apa yang diminta pasti terlaksana.

Tak hanya itu, ia juga dianugerahi wajah tampan rupawan. Berkulit sawo matang, dengan gaya anak muda metropolitan, Semprul sukses menarik banyak hati perawan. Tapi, lantaran memegang prinsip tak ingin berpacaran apalagi menikah dengan wanita satu daerah, ia sering menolak cinta. Astaga.

“Ya habisnya kalau sama orang sekampung mah enggak seru gitu, Kang. Sudah pada ketahuan belangnya gitu tuh,” tukas Semprul.

Lain Semprul lain juga dengan Leha. Anak pertama dari empat bersaudara itu tidak seberuntung Semprul yang memiliki ekonomi mumpuni. Ayah petani dan ibu berkebun, Leha memiliki tanggung jawab besar terhadap adik-adiknya.

Menjadi tulang punggung keluarga, tak heran jika Leha mau melakukan apa pun demi mendapatkan nafkah. Mulai dari berjualan online saat masih sekolah, sampai bekerja sebagai karyawan sebuah perusahaan di luar kota. Memiliki paras cantik dan lekuk tubuh menggoda, Leha banyak menarik perhatian pria. Hingga akhirnya ia bertemu dengan Semprul, harapan hidup sejahtera pun muncul.

Bagai menemukan ksatria di tengah gelapnya malam, sikap Leha terhadap Semprul penuh perhatian. Ia seakan takut kehilangan lelaki yang sangat diharapkan menjadi suaminya itu. Hal itu pun dirasakan Semprul, ia sendiri tidak melihat wanita dari harta, asalkan cantik dan sesuai kriteria, pasti langsung dijadikan pilihan menuju pelaminan. Pokoknya, hubungan mereka sangat mesra.

Hebatnya, setelah lulus kuliah, Semprul langsung menyatakan pernikahan dengan Leha. Namun, apalah daya, karena perbedaan status, Semprul mahasiswa sedangkan Leha hanya lulusan SMA, kedua orangtua tak merestui. Semprul mengamuk, pokoknya, yang ada di pikirannya saat itu hanya Leha seorang. Waduh, sabar, Kang!

“Waktu itu sempat kesal juga sama orangtua dan keluarga. Enggak menyangka kalau ternyata masih permasalahkan soal ekonomi dan pendidikan. Padahal cewek yang kuliah juga belum tentu baik,” kata Semprul.

Apalah daya, setelah dinasihati saudara, lantaran khawatir terjadi sesuatu yang tak diinginkan, orangtua dan keluarga pun menuruti kemauan Semprul. Pernikahan pun terjadi. Leha dan Semprul mengikat janji sehidup semati, keduanya resmi menjadi sepasang suami istri. Dengan kesepakatan bersama, Leha pun bersedia tinggal bersama keluarga Semprul. Mencoba terus beradaptasi, ia berjuang di tengah keluarga yang sebenarnya tak suka padanya.

Setahun kemudian, lahirlah anak pertama, membuat hubungan keduanya semakin mesra. Keluarga Semprul pun sedikit demi sedikit mulai menerima keberadaan Leha. Mereka hidup bahagia dengan ekonomi yang mumpuni. Hingga memasuki tahun kedua usia pernikahan, Leha mulai menunjukkan sikap aslinya.

Sering meminta dibelikan ini dan itu, mulai dari perhiasan sampai barang-barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan, ia seenak hati menuntut suami. Parahnya, tak hanya itu, diam-diam Leha sering mengambil barang-barang di rumah dan dibawanya ke rumah orangtua. Astaga. Benar tuh, Kang?

“Dulu itu kakak dan ibu suka sering nanya, barang ini ke mana, barang itu ke mana. Saya sih enggak terlalu mikirin, eh ternyata,” curhat Semprul.

Anehnya, seolah tak ada beban, Semprul selalu menuruti kemauan istri. Sampai suatu hari, ia kehabisan tabungan untuk memenuhi keinginan Leha, ujung-ujungnya meminjam uang ke kakaknya. Ketika ditanya, Semprul menjawab apa adanya. Sontak aroma kecurigaan pun muncul juga. Semprul dipaksa tidak menuruti kemauan Leha. Apalah daya, pertengkaran timbul juga.

Leha tak terima suaminya diatur-atur. Kakak Semprul pun naik pitam, ia membalas bentakan Leha. Sejak saat itu, perang dingin terjadi di antara mereka. Semprul pun sering dimarahi istrinya lantaran tak bisa membela. Ia bagai orang tak punya wibawa.

Hingga suatu sore, diam-diam Semprul dijemput paksa oleh kakaknya di tempat kerja. Ketika ditanya, sang kakak tak mau menjawab dan terus memaksa. Setelah mendapat izin, dibawanya Semprul ke rumah salah satu saudara. Di sana, seluruh keluarganya berkumpul.

Setelah dinasihati, Semprul pun mengaku kalau ia tak nyaman dengan Leha. Selama ini ia sabar, tapi seolah tak dihargai. Mendengar pernyataannya itu, tanpa basa-basi, sang kakak memutuskan solusi. Semprul diminta menceraikan istrinya. Waduh, terus bagaimana itu, Kang?

“Ya saya waktu itu enggak punya pilihan, daripada dilanjutkan malah bikin kehancuran. Ya mending sudahan,” terang Semprul.

Besoknya, dengan berbicara perlahan, Semprul menceraikan istrinya. Meski sempat mengamuk, pada akhirnya Leha tak berdaya. Ia pasrah pada keputusan sang suami. Sebulan kemudian, Leha dan Semprul resmi mengakhiri hubungan. Ia mengantar sang istri dan anaknya pulang ke rumah orangtua Leha.

Ya ampun, makanya Kang, lain kali dengarkan nasihat orangtua. Semoga kembali dipertemukan dengan jodoh selanjutnya ya, Kang! (daru-zetizen/zee/ira)