Kerajaan Ubur-ubur di Serang, Polisi Belum Temukan Unsur Pidana

0
73
Kapolres Serang Kota AKBP Komarudin bersama jajaran berdialog dengan pimpinan Kerajaan Ubur-ubur Aisyah, di kediaman Aisyah, Lingkungan Tower Sayabulu, Kelurahan Serang, Kecamatan Serang, Kota Serang, Senin (13/8).

SERANG – Dua orang pengurus Kerajaan Ubur-ubur diperiksa polisi. Unsur pidana penistaan agama terkait aktivitas yang dilakukan oleh kelompok itu belum ditemukan polisi. “Baru dua pengikut kelompok mereka terkait aktivitas sehari-hari,” kata Kapolres Serang Kota AKBP Komarudin, Selasa (14/8).

Dua orang itu yakni Sony selaku Kasi Keamanan dan Nursalim sebagai Ketua Program Kerajaan Urusan Ritual dan lain-lain. Tidak ada alasan khusus penggunaan nama Kerajaan Ubur-ubur untuk kelompok yang bermarkas di Lingkungan Tower Sayabulu, Kelurahan Serang, Kecamatan Serang, Kota Serang itu. “Sementara ini hanya nama-namaannya saja,” ucap Komarudin.

Hasil pemeriksaan sementara, Kerajaan Ubur-ubur itu memiliki delapan orang pengikut setia yang mengikuti kegiatan Rudi dan Aisyah Tusalamah Baiduri Intani itu. “Totalnya masih didalami. Katanya, datang silih berganti (pengikut-red),” kata Komarudin.

Diakui Komarudin, polisi masih kesulitan memeroleh keterangan dari pengikut Kerajaan Ubur-ubur. Kedua saksi yang diperiksa masih enggan memberikan keterangan terkait aktivitas harian kelompok mereka. “Komunikasi sulit terbuka. Tertutup belum bisa menyampaikan aktivitas harian,” jelas Komarudin.

Berdasarkan pemeriksaan beberapa dokumen yang diamankan dan koordinasi dengan para ulama, diduga kuat Aisyah telah salah menafsirkan isi kandungan Alquran. “Sejauh ini belum ditemukan indikasi adanya penistaan agama. Namun, kita serahkan ke MUI,” jelas Komarudin.

Tafsir keliru itu kemudian disebarkan Aisyah melalui akun media sosial (medsos) miliknya sehingga menimbulkan keresahan warga. “Kami akan bekerjasama dengan psikolog untuk mengecek yang bersangkutan,” kata Komarudin.

Polisi juga belum menemukan aktivitas lain yang dinilai melanggar hukum. Polisi hanya menemukan bukti percakapan layanan WhatsApp terkait sumbangan kepada pengikutnya. “Belum ada indikasi ke arah penipuan, kalaupun ada iuran, itu sebatas sukarela,” kata Komarudin.

Kemarin siang, pantauan Radar Banten, kediamaan Aisyah terlihat sepi. Tidak terlihat ada aktivitas di rumah yang telah dihuni selama dua tahun oleh pasutri itu. Tak jauh dari kediaman Aisyah, terdapat dua personel polisi yang berjaga.

Ketua RT setempat, Surya Mihardja mengaku kediaman warganya itu mulai ramai sejak Aisyah mulai berdakwah di media sosial. “Karena sering komunikasi di media sosial, banyaklah yang tertarik ke sini,” kata Surya.

Aisyah memiliki beberapa akun medsos dengan nama samaran. Di antaranya, Dewi Maya Aina, Ratu Bilqis sampai Sin Syima Saba. “Ada yang datang biasanya ke suaminya terkait hikmah. Katanya sering bisa menyembuhkan pengobatan penyakit dan penglaris agar usaha lancar,” kata Surya.

Sebelumnya, polisi menghentikan aktivitas Kerajaan Ubur-ubur lantaran dianggap meresahkan. Hasil dialog MUI dengan Aisyah disimpulkan, Kerajaan Ubur-ubur menyimpang dari Islam. Di antaranya mempercayai Nabi Muhammad berjenis kelamin perempuan, Kakbah bukan kiblat salat, melainkan hanya tempat pemujaan nabi, Hajar Aswad disebut mirip kelamin wanita.

Selain itu, Aisyah juga mengaku telah menerima amanah dari Ratu Kidul untuk mencairkan uang dari bank di luar negeri dan Indonesia. Amanah itu didapatkan dari hasil menggali Alquran dan wangsit. (Merwanda/RBG)