Kerajinan Kulit Reptil Desa Jeungjing Tembus Pasar Asia

Istri pemilik CV Multi Gemilang Abadi, Aan Yunengsih (kiri), memperlihatkan proses produksi kerajinannya, Rabu (20/3).

TANGERANG Ada industri rumahan di Desa Jeungjing, Kecamatan Cisoka, yang menjadi kebanggaan pemerintah desanya. Yakni, kerajinan kulit buaya dan ular. Industri rumahan ini telah tembus pasar beberapa negara di Asia. Berkaca dari itu, tahun ini, Pemerintah Desa Jeungjing berencana mengalokasikan anggaran untuk membantu usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di desanya.       

       ”Tahun ini, kami (Pemerintah Desa Jeungjing-red) sudah mengajukan penganggaran untuk UMKM. Mungkin kalau 2020 terlaksana, Pemerintah Desa Jeungjing bisa membantu permodalan beberapa home industry di desa ini,” ujar Kepala Desa Jeungjing Maryono Caprie yang diwakili staf Desa Jeungjing Suharta.

       Kepada Tim Saba Desa Radar Banten, Suharta mengatakan, bahwa kerajinan kulit buaya dan ular yang diproduksi oleh CV Multi Gemilang ini menjadi perhatian Pemerintah Desa Jeungjing. Sebab, bukan hanya karena tas, dompet, dan ikat pinggang dari kulit dua jenis reptil tersebut mampu menarik perhatian konsumen dari luar negeri. Tapi juga karena perjuangan Daud, Direktur CV Multi Gemilang, membesarkan bisnisnya.

       Daud, ungkap Suharta, awalnya hanya seorang kurir bahan baku kerajinan yang sekarang membuatnya menjadi orang sukses ke beberapa kota di Indonesia. Daud kemudian termotivasi untuk membangun usahanya sendiri sebagai produsen. Pada 2014 pemilik CV Multi Gemilang itu memutuskan untuk terjun langsung dalam pengolahan kulit buaya dan ular.

       Awalnya, ia hanya memasarkan produk kerjainannya itu di beberapa gerai kerajinan di Kabupaten Tangerang. Berkat keahlian pemasaran yang dimiliki Daud, kini, kerajinannya banyak diminati oleh konsumen dari Korea Selatan, Singapura, dan Vietnam.

       ”Untuk sekarang, Alhamdulillah, banyak pesanan dari luar negeri. Setiap hari, pasti kami kirim barangnya ke Korea. Mereka sudah pelanggan tetap. Pernah juga kami kirim ke Singapura, Vietnam. Untuk wilayah lokal juga ada yang kami suplai,” jelas Aan Yunengsih, istri Daud, di perusahaannya, Kampung Kecok, RT 02, RW 01, Desa Jeungjing.

       ”Sehari sih bisa bikin lima tas. Kalau dompet bisa sepuluh. Itu dengan jumlah karyawan sepuluh orang. Harga satu buah tas, paling murah Rp750 ribu untuk kulit ular dan paling mahal Rp9 juta untuk kulit buaya. Sedangkan dompet, paling murah dari kulit ular Rp150 ribu dan dari kulit buaya Rp900 ribu,” tambah wanita yang akrab disapa Neng ini.

       Berkaca dari industri tas, dompet, dan ikat pinggang kulit buaya dan ular, Pemerintah Desa Jeungjing berencana menyasar produsen sepatu di desanya. Potensi desa ini bakal menjadi target program pemberdayaan ekonomi perdesaan.

       Pemilik industri sepatu, Sunardi, mengaku telah membangun usahanya sejak 2010. Namun, ia menghadapi kendala dalam memajukan industri rumahannya. Sunardi mendapat pesaing muda yang memiliki banyak modal.

       ”Dulu, awal saya buka usaha ini, saya bisa produksi sampai 350 pasang sepatu per hari. Itu saya kirim ke Jakarta, Semarang, bahkan sampai ke Medan. Tapi sekarang, banyak produsen muda yang mencuri perhatian pasar. Mereka biasanya kan punya modal besar. Jadi, berani memasok barang sebelum pembayaran. Kalau saya sekarang produksinya hanya sesuai pesanan saja. Karena modalnya terbatas,” ungkap Sunardi. (pem/rb/sub)