Keramik Asal Tiongkok dan Jepang Ditemukan di Surosowan

Surosowan tersohor dalam pergaulan dunia internasional di masa keemasan. Keramik-keramik Tiongkok dan Jepang yang kembali ditemukan tim ekskavasi Balai Cagar Budaya (BPCB) Banten menyambungkan kegemilangan sejarahnya.

KEN SUPRIYONO – Serang

TIM ekskavasi BPCB Banten masih mengggali dan menyisisir area sebelah utara Keraton Surosowan. Empat bulan tenggat waktu perencanaannya. Lima minggu perjalanan ekskavasi di bawah terik mentari yang menyengat ubun-ubun tak sia-sia. Sebongkah pecahan keramik berbentuk mangkuk berhasil diangkat dari tumpukan tanah sekira 50 sentimeter.

Setelah proses teknis arkeologis dan pendokumentasian dilakukan, benda separuh bagian segera diangkat. Warna putih keramiknya tampak mengilat. Berpadu warna biru langit pada corak bergambar rusa. “Dilihat dari coraknya motif gambar, dugaan saya ini keramik Jepang,” ujar Arkeolog BPCB Banten Rico Fajrian, Senin (23/7).

Sembari membersihkan tanah yang masih menempel dengan kuas, Rico mencoba meraba tekstur bahannya. Beberapa bagian terlihat serat titik-titik lubang. Bagian lainnya, masih terasa halus. Temuan menambah daftar benda arkelogis berupa peluru meriam, uang koin masa kesultanan, kereweng atau gerabah yang lebih dahulu ditemukan pada ekskavasi kali ini. Tak terkecuali, struktur berbahan bata dan karang yang diduga ruang raja menerima tamu.

Sejengkal dari area yang sebagian sudah tertutup granit rapat-rapat proyek revitalisasi Banten Lama Pemprov Banten Lama, juga terkumpul temuan pecahan keramik-keramik Tiongkok dari Dinasti Ming (sekira abad 16-17) dan Dinasti Ching (sekira abad 17-18). Lalu keramik dari Eropa (abad 19). “Untuk keramik China (Tiongkok) bahannya lebih halus yang dari Dinasti Ching ketimbang Ming,” kata Rico.

Dugaan awal asal-muasal temuan di bawah rerentuhan area Keraton Surosowan ini berdasar pada corak motif pecahan keramiknya. Keramik Tiongkok memiliki ciri khas bermotif gambar tumbuhan-tumbuhan dan bunga. Sedangkan, keramik Jepang biasanya memakai motif fauna atau hewan dan panorama alam.

Pecahan keramik baru pun, memperpanjang temuan ragam benda bernilai historis lain di bawah reruntuhan eks Kesultanan Banten. Selain keramik Dinasti Ming dan Ching, Museum Purbakala Banten Lama sudah lebih dahulu menyimpan koleksi keramik dari Dinas Sung (960-1280 M) dan Dinasti Yuan (1280-1368).

Di luar keramik Tiongkok dan Jepang, sudah terkoleksi keramik dari Annam (abad 14), Eropa (abad 17-19). Lainnya, keramik dari Vietnam dan Thailand. Khusus keramik dari Dinasti Sung, banyak ditemukan di kawasan Banten Girang.

Temuan keramik, bermula dari hubungan internasional Banten. Hubungan Banten dan negeri tirai bambu sudah berjalan sejak masa Banten Girang. Catatan pelayaran Shungfeng Xiangsong pada medio 1500-an menjadi bukti sahih. Dokumen itu menyebut Banten dengan sebutan Wan-tan dan Shunt’a.

Hingga sampailah pada masa Banten di bawah daulat Maulana Hasanuddin. Sang wasangkarta atau pemula penguasa Banten tak memutus hubungan itu. Kawasan Chinatown yang menyisakan reruntuhan menara Masjid Pacinan Tinggi menjadi jejaknya. Sekira 500 meter dari tempat peribadatan Tionghoa muslim ini, juga berdiri Vihara Avalokitesvara.

Hubungan Tiongkok dan Banten memuncak pada masa Sultan Ageng Tirtayasa memegang tahta raja. Bukan sekadar hubungan dagang. Orang Tionghoa dipercaya memegang mandat urusan politik Sultan. Adalah Kaytzu dan Cakradana yang didaulat atas mandat Sang Sultan. Dua orang yang tercatat memberi andil besar pada Negeri Banten sebagai kota kosmopolitan. “Tak heran orang Tionghoa diperlakukan istimewa karena mereka menjadi penyambung kemakmuran,” kata Sejarawan Banten Mufti Ali.

Orang-orang Tionghoa menjadi tulang punggung ekonomi Banten. Kala itu pula, gelombang orang Tionghoa terus berdatangan. Terlebih ketika dekade 1670-1671, Sultan Ageng Tirtayasa memerintahkan Kaytsu dan Cakradana membangun tiga jalan yang masing-masing dibangun dua puluh rumah dan toko-toko di kedua sisi jalan. Pembangunan sebanyak 120 rumah ini untuk menyambut pendatang baru yang tidak saja dari dari Tiongkok, tetapi juga dari Batavia (sekarang Jakarta).

Selang tak lama, ketika perang melanda Fujian dan China Selatan dan terjadi kekacauan di Pesisir Utara Jawa akibat pemberontakan Trunojoyo pada 1676, Banten menjadi tujuan persinggahan. Tidak hanya Tiongkok dari Amoy Jawa Timur, juga dari Jawa Tengah. Lebih dari 1.000 orang Tionghoa mengungsi dan mendapat pekerjaan di Banten. “Ini menunjukkan bahwa sultan bisa memberikan jaminan keamanan untuk hidup dan berdagang sehingga mereka nyaman,” kata Mufti.

Sejarawan Banten Heritage Dadan Sujana memperkuat hubungan tersebut. Dua asisten asal Tiongkok disebutnya membawa Banten tumbuh menjadi salah satu bandar dagang perekonomian dunia yang menguasai jalur perdagangan internasional di Selat Sunda. Saat itulah, Banten menjadi salah satu kerajaan Islam Nusantara yang mengembangkan politik dan perdagangan maritim.

Hilir mudik orang-orang Tiongkok tak hanya bersandar pada komoditas pertanian dan perkebunan. Barang-barang pecah belah menjadi ragam perniagaan. Tidak hanya istana dan rumah-rumah warga banyak mengoleksi keramik yang didistribusikan dari Pelabuhan Swatow Tiongkok.

Menurut Arkelog Nasional Naniek H Wibisono, temuan keramik memperjelas gambaran pertumbuhan peradaban Banten sebagai kota niaga. Keragaman jenisnya begitu lengkap dan sangat berharga. “Di masa depan akan menjadi aset yang dapat digunakan dan kembangkan sebagai pusat studi keramik,” tulisnya pada paparan berjudul ‘Keramik Dalam Kontek Pertumbuhan Dan Niaga Dan Kesultanan Banten’.

Kemilau ragam benda bernilai sejarah itu diduga masih banyak tersimban di bawah reruntuhan diporak-porandakan Belanda di bawah kepemimpinan W.H. Daendels. Sayang, area itu kini telah terkubur rapat-rapat granit. Dan, terik siang yang menyengat, rasanya tak cukup diteduhkan dengan payung-payung ala di Madinah. Desain sulapan yang luasnya tak sebanding dengan luas alun-alun eks Kawasan Kesultanan Banten itu. (*)