Keripik Pare, Rasa Pahit Disulap Jadi Gurih

Pare, sayuran yang identik dengan rasa pahit. Tapi, tak sedikit yang gemar. Ada juga yang tidak suka karena pahitnya. Tetapi, di tangan Zumaini, rasa pahit pare disulap menjadi gurih dalam bentuk keripik.

WIVY HIKMATULLAH – Cikupa

DI Indonesia, pare yang memiliki nama latin Momordica Charantia sering dijadikan lalapan dan sayuran. Pahitnya rasa justru semakin membuat banyak yang suka. Pare dipercaya sebagai tanaman herbal karena biji, buah dan daunnya bisa diolah menjadi obat-obatan tradisional.

Inovasi menghilangkan rasa pahit pada sayuran yang juga disebut ”paria” itu dilakukan Zumaini, salah satu warga di Pasirjaya, Kecamatan Cikupa, Kabupaten Tangerang. Inovasi yang ia lakukan yakni mengolah pare menjadi keripik dengan rasa gurih. ”Tujuan awal saya mengolah pare menjadi keripik itu sederhana, agar banyak orang yang suka makan pare. Karena pare bisa dikonsumsi tanpa rasa pahit. Salah satunya diolah menjadi keripik,” katanya bercerita.

Kini, keripik tersebut menjadi potensi usaha yang ia jalankan dan berlangsung sekitar satu tahun. Sasarannya lebih mengarah kepada anak-anak. Hal tersebut dilakukan lantaran, Zumaini ingin agar anak-anak suka makan pare. ”Pare ini termasuk tanaman yang kaya gizi yakni, vitamin A, vitamin C, vitamin E, vitamin B1, B2, B3, dan folat. Bahkan bisa menurunkan gula darah. Dengan diolah menjadi keripik gurih, anak-anak enggak takut lagi sama rasa pahitnya,” tuturnya.

Lebih lanjut Zumaini menerangkan, untuk menghilangkan rasa pahit dalam pare cukup sederhana. Sebelum digoreng, pare terlebih dahulu direndam di air garam sekitar dua jam. Lalu, dibilas dengan air panas dan direndam lagi dengan air garam sekitar satu jam. Setelah itu ditiriskan dan dicampur dengan bahan-bahan lain. Seperti garam dan adonan dari tepung beras. Dalam sehari, Zumaini bisa mengolah tiga kilogram pare.

”Sehari bisa dapat 20-30 bungkus. Kalau harganya bervariasi sesuai banyaknya keripik mulai dari Rp5 ribu hingga Rp50 ribu. Untuk pembuatannya memakan waktu sekitar enam jam, sedangkan hasilnya biasa dijual dengan sistem pesanan,” terangnya sambil menunjukkan keripik pare yang berlabel itu.

Kini, usaha pembuatan keripik pare tersebut dilirik Pemerintah Desa Pasirjaya untuk dijadikan salah satu unit usaha Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). ”Semoga terealisasi. Saya sangat berharap, agar usaha ini bisa semakin berkembang dan lebih banyak orang terutama anak-anak suka makan pare,” tuturnya. (*)