Kerja Bareng Cewek Seksi, Diamuk Istri

Kisah rumah tangga Midun (42) nama samaran sangat memilukan. Kerja sebagai karyawan toko handphone yang banyak dikelilingi wanita cantik dan seksi, Midun sering diamuk istri, sebut saja Ecih (42). Midun kesal dan berhenti kerja, eh malah dihina. Astaga.

Ditemui Radar Banten di salah satu pusat perbelanjaan di Kota Serang, Midun siang itu sibuk menawarkan produk ponsel yang dijualnya. Sambil menjelaskan keunggulan produknya, Midun sesekali bercerita tentang pengalaman rumah tangga. “Dulu pernah berhenti kerja gara-gara dimarahi istri terus,” keluh Midun.

Midun bercerita, kisah perjumpaannya dengan Ecih bermula saat mereka bertemu di tempat servis motor di wilayah Serang. Ecih yang tampil cantik dengan baju ketat dan celana jeans, membuat Midun tertarik dan langsung mengajak kenalan. “Enggak tahu kenapa, saya ngerasa kalau dia jodoh saya. Makanya berani ngajak kenalan,” kata Midun.

Wajar saja, Ecih memang cantik dan memiliki kulit putih. Selain itu, bentuk tubuhnya juga langsing bak gitar Spanyol. Dari obrolan singkat itulah keduanya bertukar nomor telepon. Sejak saat itu, Midun dan Ecih tak pernah absen teleponan setiap malam.

Sebulan kemudian, setelah pendekatan, Midun dan Ecih pun jadian. Mereka pasangan serasi, Midun tampan dan gagah, berpasangan dengan Ecih yang cantik jelita. “Pas lagi pacaran mah dia orang baik, sopan dan perhatian ke saya,” akunya.

Sebulan kemudian, mereka pun jadian. Setahun menjalin hubungan, mereka sepakat menuju hubungan lebih serius dengan menggelar pernikahan. “Padahal waktu itu saya pengangguran, tapi dia mau saya ajak nikah,” kata Midun.

Di awal pernikahan, Midun dan Ecih terpaksa tinggal di rumah keluarga suami. Midun menjadi suami penuh perhatian. Apa yang diminta Ecih, pasti diberi. Begitu pun sebaliknya. Termasuk memberi jatah begituan. “Hehhe, atuh itu mah wajib. Dia juga ngerti urusan begituan mah,” kata Midun terkekeh.

Enam bulan kemudian, Ecih dikabarkan mengandung anak pertama. Sejak saat itu, sikap dan perilakunya sering emosian. “Saya kira itu mungkin bawaan hamil anak pertama, jadi saya bisa ngertiin,” kata Midun.

Sampai buah hati lahir, Ecih masih tetap tak berubah. Sikapnya semakin kasar karena sang suami belum juga memiliki pekerjaan. Namun, Midun tak menyerah, ia terus berusaha mencari kerja. Hingga akhirnya, Midun pun mendapat pekerjaan sebagai karyawan produk handphone. Saat itu perekonomian mulai kembali stabil. Kehidupan rumah tangga mereka kembali menemukan kebahagiaan. “Pulang kerja ketemu anak istri, duh rasanya capek pun hilang,” ungkap Midun.

Meski upah sebulan hanya cukup makan dan membeli peralatan si bayi, Midun sudah senang karena Ecih tak lagi marah-marah. Namun, apalah daya, baru dua bulan bekerja, omongan tak sedap dari tetangga membuat Ecih sering marah-marah lagi. “Pas saya lagi kerja bareng cewek-cewek cantik, ada tetangga yang lihat,” katanya.

Saat Ecih mendengar kata wanita cantik dan seksi, emosinya langsung meledak. Midun yang tak kuasa, tak bisa lagi menahan kesabaran. Ia pun balas memarahi sang istri, keributan pun terjadi. “Dia tuh gampang kemakan omongan orang, padahal saya enggak ngapa-ngapain,” akunya.

Keributan keduanya membuat keluarga resah. Mereka pun dinasihati agar kembali berbaikan. Namun, Ecih terus menggerutu dan melebih-lebihkan keterangan yang didapat dari tetangga. Akhirnya, Midun pun mengalah. Ia memilih tak lagi bekerja sebagai karyawan di toko handphone.

Seminggu kemudian hubungan mereka harmonis lagi. Tapi dua bulan kemudian ekonomi mereka kekurangan, Ecih kembali mengamuk-ngamuk. Namun, Midun hanya diam, setiap ocehan Ecih tidak ditanggapi. Tiga hari setelah itu, Midun pergi dan memilih mengontrak. “Malas di rumah istri ngomel terus,” keluhnya.

Sebulan lebih mereka pisah ranjang. Akhirnya Ecih meminta maaf pada suaminya dan mereka kembali melanjutkan mahligai rumah tangga. Beruntung Midun masih diterima di tempat kerja sebagai pelayan toko ponsel. “Sekarang dia enggak berani marah-marah lagi ke saya,” katanya.

Ya ampun, sabar ya Kang Midun, semoga langgeng selamanya bareng Teh Ecih. Amin. (mg06/zee/ags)