Ilustrasi: pixabay

Ini kisah penuh drama antara seorang lelaki sederhana yang terlahir di sebuah desa di Kabupaten Serang, dengan wanita cantik jelita anak petani kaya. Kedua pasangan suami istri yang sudah lama menikah dan punya tiga anak itu ialah Jaka (51) dan Ike (48), keduanya nama samaran.

Jika kebanyakan kisah cinta selalu berkonflik antara si miskin dan si kaya, di dunia nyata, khususnya dalam kisah asmara antara Jaka dan Ike, stigma itu pupus. Itu karena tergerus realita yang faktanya perbedaan status kedua keluarga tidak menjadi penghalang keberlangsungan cinta. Ciyeee.

“Ya memang sih keluarga mah enggak masalah, tapi saingannya ini, berat, Kang. Kalau enggak kuat-kuat mental mah, wah mungkin saya sudah menyerah sebelum berperang,” curhat Jaka kepada Radar Banten.

Dikisahkan, Jaka yang sejak kecil hidup ala kadarnya, bekerja membantu sang ayah menjadi petani di sawah yang tak jauh dari rumah. Setiap hari, sepulang sekolah ia bergegas mengganti seragam dengan pakaian biasa. Mengantar makan dan kopi hitam kesukaan sang ayah, Jaka menjadi anak kesayangan keluarga.

Namun layaknya anak kecil pada umumnya, terkadang Jaka pulang lebih awal dari sawah untuk bermain dengan teman-teman. Sampai beranjak remaja, Jaka terpaksa mengakhiri pendidikan di tingkat SMA. Sang ayah yang tak bisa membiayai sekolah, membuat Jaka akhirnya fokus bekerja.

Seiring berjalannya hari, Jaka tergiur ajakan teman bekerja sebagai buruh pabrik di Karawang. Diiming-imingi gaji besar, ia pun meninggalkan tradisi bercocok tanam. Lama menjadi perantau, setiap libur Lebaran Jaka selalu menyempatkan pulang ke kampung halaman.

Hingga beranjak usia dewasa, Jaka kepincut dengan gadis manis teman SMA. Waktu itu ia jatuh hati sampai tergila-gila. Namun nahas, baru saja sebulan melakukan pendekatan, sang wanita menikah duluan dengan lelaki kenalan saat bekerja.

Jaka dirundung galau tingkat dewa. Namun tak lama kemudian, Jaka kembali jatuh cinta pada wanita yang banyak dibincangkan orang-orang. Wanita itu tak lain ialah Ike. Cantik, putih, tinggi, dan berambut hitam lurus, membuat siapa pun akan jatuh cinta pada pandang pertama.

Ibarat kelapa muda yang manis air serta lezat buahnya. Perlu perjuangan ekstra untuk mendapatkannya. Bukan hanya urusan strata ekonomi, tapi juga ada banyak pria yang mengejar Ike untuk diboyong ke tahap rumah tangga. Tantangan Jaka semakin berat karena gadis yang ia cinta justru tinggal di kampungnya. Jarak dan waktu menjadi penghalang cinta Jaka. Aih, atuh kenapa enggak cari jodoh di perantauan saja, Kang?

“Wah enggak deh, saya merantau tujuannya cari uang, bukan buat cari jodoh. Urusan jodoh lebih baik dari kampung sendiri,” curhatnya.

Ike anak terakhir dari tiga bersaudara. Selain pertanian, ayahnya juga memiliki usaha toko beras. Dengan gelimang harta dan aset di mana-mana, kehidupan Ike penuh warna. Apa yang diminta pasti terlaksana.

Anehnya, entah karena tidak jodoh atau memang tidak adanya kecocokan, beberapa lelaki yang datang bersama keluarga tak ada yang resmi menjadi suami. Bahkan, sempat ada yang sudah menyebar undangan tapi batal di tengah jalan. Sontak hal itu membuat Ike dan keluarga malu.

Sampai suatu hari, mungkin ini yang dinamakan jodoh tak pernah tertukar. Ketika Jaka sedang ada di rumah, baru pertama kali bertemu Jaka, Ike langsung menunjukkan lampu hijau dengan mau bertukar nomor telepon. Katanya sih, Ike memang wanita yang tidak melihat lelaki dari hartanya. Bisa jadi, Jaka mampu membuat Ike nyaman saat mengobrol berdua. Ciyee.

Singkat cerita, rela bolak-balik Karawang-Serang seminggu sekali, Jaka merencanakan lamaran ke rumah sang kekasih. Hari yang dinantikan pun tiba, ia bersama keluarga datang ke rumah Ike. Pucuk dicinta ulam pun tiba, berdasarkan pengakuan Jaka, ternyata Ike menerima. Katanya, dengan gaya sederhana dan sikap lembut, membuat Ike jatuh cinta. Ah, masa sih Kang?

“Yaelah, ya saya juga kata istri setelah nikah. Dia sama teman-temannya juga cari tahu tentang saya,” akunya bangga.

Dengan pesta pernikahan yang digelar meriah, Ike dan Jaka duduk bersanding bak raja dan ratu. Mengikat janji sehidup semati, mereka resmi menjadi sepasang suami istri. Meski materi mencukupi, nyatanya tak membuat Jaka dan Ike terbebas dari masalah.

Di awal pernikahan, perbedaan pendapat sudah terjadi di antara keduanya. Jaka yang memiliki kinerja bagus di perusahaan, diberi kepercayaan satu tahun kontrak tambahan. Kalau ia bisa menyelesaikan tugasnya, dengan upah yang lumayan besar, ia akan menjadi karyawan tetap.

Tapi apesnya, sang istri menolak dibawa pergi. Hingga akhirnya, mungkin lantaran masih awal pernikahan, dengan rayuan dan seribu janji manis, Jaka berhasil membujuk Ike untuk ikut bersamanya tinggal di rumah kontrakan sederhana di tanah rantau.

Mereka pun meninggalkan kampung halaman. Sampai setahun usia pernikahan, Ike mengandung anak pertama. Apa mau dikata, mungkin takut tinggal jauh dari orangtua saat hamil, Ike meminta dipulangkan. Jaka pun menuruti. Sampai anaknya lahir, seluruh keluarga menyambut bahagia.

Setelah masa cuti habis, Jaka kembali mengajak istri dan anaknya pergi. Tapi apesnya, Ike menolak dan ingin tinggal di rumah orangtua. Jaka tak terima, ia marah, bersikeras membawa istrinya. Terjadilah musyawarah keluarga. Atas keputusan bersama, Jaka sempat kecewa tapi harus menerima. Sang istri tetap tinggal di rumah orangtua sampai anaknya tumbuh balita. Jaka pergi sendiri.

Berhari-hari ia lewati sendirian di rumah kontrakan. Pulang kerja tak ada yang menyambut, ketika lelah tak ada yang menemani, bahkan saat sakit pun tak ada yang mengurusi. Hampir setahun lebih ia merasakan kesepian. Punya istri tapi rasa bujangan. Aih, sabar Kang.

“Duh waktu rasanya menderita banget saya, Kang. Sempat ada godaan yang bikin saya hampir khilaf, tapi untung masih bisa menjaga diri,” curhat Jaka.

Sampai setahun lebih tinggal sendiri, Jaka kembali pulang menjemput istrinya. Tapi, Ike tetap tidak mau pergi. Mungkin lantaran kecewa, tanpa basa-basi, Jaka pergi begitu saja. Ike yang merasa bersalah, berulang kali menelepon tapi tak diangkat.

Apa mau dikata, Ike beserta keluarga menyusul Jaka ke Karawang. Tapi, Jaka menghindar. Namun saat hendak pulang, berkat cinta pada anak istrinya, Jaka rela melepas pekerjaan dengan upah besar dan pulang ke kampung halaman. Jaka pun bekerja sebagai pedagang, membantu bisnis keluarga mertua.

Alhamdulillah, semoga Kang Jaka dan Teh Ike langgeng selamanya. Amin. (daru-zetizen/zee/ira)