Kesadaran Jaga Kebersihan di Kalangan Masyarakat Kabupaten Serang Masih Rendah

0
1.070 views

SERANG – Kasi Pertamanan dan Persampahan Dinas lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Serang Asep Herdiana menilai masyarakat masih belum memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap sampah, sehingga masih banyak yang membuang sampah secara sembarangan.
Pantauan Radar Banten Online, Jumat (14/7) salah satu ruas Jalan Raya Jakarta-Serang sejumlah sampah menumpuk di pinggir jalan mulai dari sampah plastik, organik dan sampah domestik. Padahal, di ruas jalan tersebut telah ada papan pengumuman pelarangan membuang sampah sembarangan.
Hal ini dibenarkan oleh Asep, karena menurutnya belum ada perhatian atau kepedulian dari tokoh-tokoh masyarakat dari desa sampai kecamatan mengenai memberikan pemahaman bagaimana membuang dan atau mengelola sampah dengan baik.
“Kalau pun alasannya saat ini masyarakat tidak ada Tmpat Membuang Sampah (TPS) itu bisa dikomunikasikan atau dimusyarahkan melalui RT/RW atau Desa bagaimana membangun TPS di tempat mereka masing-masing,” ujarnya, Jumat (14/7).
Berdasarkan peraturan pemerintah, Asep berkata, kewajiban DLH hanya mengangkut sampah dari Tempat Pembuangan Sampah (TPS) menuju Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), sedangkan dari sumber (masyarakat-red) sampai ke TPS harus ada kepedulian dari masyarakat dan tokoh masyarakat.
‘Sosialisasi dari kami ada setiap tahun tapi terbatas tidak menyeluruh ke masyarakat karena dengan dana yang terbatas juha seperti penyuluhan-penyuluhan dan keterlibatan dari tokoh masyarakat. Daerah lain bisa kok Kabupaten Serang tidak bisa,” keluhnya.
Ia menganggap kesadaran masyarakat terhadap kepedulian sampah masih sangat rendah, terutama di daerah pemukiman atau perkampungan yang biasanya pengelolaan sampahnya belum terbentuk. “Mungkin belum ada penyuluhan. Sedangkan di perumahan-perumahan biasanya pengelolaan sampah sudah terbentuk dan tersedia,” jelasnya.
Setiap tahunnya, ia telah menganggarkan untuk masyarakat membuat TPS, namun terkendala dengan lahan yang masyarakat yang sulit menghibahkan lahannya untuk dijadikan TPS, sehingga menjadi kendala tersendiri.
“Masa harus ada pengadaan lahan, cuma sedikit kok. Tidak ada yang peduli juga dari sini, paling luas enam meter persegi untuk TPS. Memang dibeberapa daerah ada yang memanfaatkan tanah wakaf dan tanah desa untuk dibuat TPS.
Ia menghimbu agar masyarakat lebih banyak yang peduli daripada membuang karena selama ini kenyataannya masyarakat masih belum sadar. (Anton Sutompul/antonsutompul1504@gmail.com).