Lenong adalah salah satu kesenian yang banyak dijumpai di Tangerang. Seni peran ini masih tetap menunjukkan eksistensinya di tengah perkembangan zaman. Pertunjukkan lenong masih ditunggu masyarakat yang haus hiburan.

Pertengahan Januari lalu di Kampung Sawah Dalam, Kelurahan Panunggangan Utara, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang nampak lebih ramai. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB. Suara sound terdengar hingga ratusan meter. Sesekali terdengar alunan musik. Rupanya keriuhan di kampung tersebut karena ada pesta pernikahan dengan hiburannya pertunjukkan lenong.

Penonton tertawa lepas ketika pemain lenong melemparkan lawakan. Mereka duduknya di tanah serta bangku dengan tertib. Pemain lenong dengan lancar beradu peran. Tidak ada rasa canggung. Pertunjukkan kali ini mengambil tema; Warisan Membawa Maut.

Ceritanya adalah tentang anak sulung yang serakah dan ingin mengambil harta warisan. Tokoh utamanya adalah Suparman sebagai anak sulung. Ia ingin menguasai harga milik ayahnya bernama Iwan. Karena merasa anak tertua, diam-diam Suparman menjual tanah. Aksi pertama hingga keempat berjalan mulus.

Selincah-lincahnya Suparman melakukan aksinya, ada apesnya juga. Pas, mau menjual tanah keempat kali, ia kena tipu. Calonya tidak beres dan membawa kabur uang warisan. Suparman stres dan gila. Selama beberapa lama, ia keliling kampung sambil ketawa. Pertunjukkan diakhiri dengan harta warisan raib dan Suparman tidak kunjung sembuh. Pagelaran lenong ini sendiri dimulai pukul 22.00 WIB sampai 02.30 WIB.

Selama tampil para pemain terlihat lancar membawakan perannya. Ada yang jadi calo tanah, Suparman, petugas keamanan, hingga Iwan sebagai orang tua. Alurnya mengalir hingga penonton seperti dibuat penasaran dari akhir cerita lakon.

Rupanya permainan lenong ini dibawakan oleh kesenian lenong Betawi Modern Surya Kencana, pimpinan Herda. Kelompok ini sudah termashur karena telah keliling Indonesia.

Usut punya usut, Herda merupakan cucu dari seniman besar Betawi Almarhum H Bokir.  Lenong sendiri adalah kesenian teater tradisional atau sandiwara rakyat Betawi yang dibawakan dalam dialek Betawi yang berasal dari Jakarta.   Kesenian tradisional ini diiringi musik gambang kromong dengan alat-alat musik seperti gambang, kromong, gong, kendang, kempor, suling, dan kecrekan. Serta alat musik unsur Tionghoa seperti tehyan, kongahyang, dan sukong.

Lakon atau skenario lenong umumnya mengandung pesan moral, yaitu menolong yang lemah, membenci kerakusan dan perbuatan tercela. Bahasa yang digunakan dalam lenong adalah Bahasa Melayu (kini Bahasa Indonesia-red) dialek Betawi.

Di tengah pertunjukkan Radar Banten berkesempatan berbincang dengan Herda. Perempuan yang memiliki nama lengkap Sriherdawati berkisah bagaimana melestarikan budaya lenong. Biasanya para pemain lenong masih satu keluarga. Darah seni mengalir deras yang membuat lenong masih bisa tetap ada.

“Saya sejak kecil sudah diajak bapak dan kakek main dari kampung ke kampung. Awalnya agak sulit, namun bisa menyesuaikan karena ada darah seninya,” kata Herda membuka obrolan.

Nah, karena sering main, lama kelamaan jadi terbiasa. Ia juga berkisah dalam pertunjukkan lenong tidak pakai naskah. Semua lakon dimainkan secara mengalir dan penuh improvisasi. Yang terpenting adalah tahu perannya masing-masing. Untuk menentukan tema merupakan keinginan yang punya hajat. Dua hari mau pertunjukkan, mereka memberikan temanya. Sisa waktu ini digunakan membahas pertunjukkan.

 “Tidak ada skenario. Semuanya ngalir. Karena kita sudah biasa manggung, tidak pernah kehabisan akal menghibur penonton,” katanya.

 

 

 

Disinggung eksistensi lenong, Herda masih optimis kesenian ini masih bisa diterima masyarakat. Biasanya yang ingin ada hiburan lenong adalah orang asli Betawi. Dan kalau lagi mentas, penonton selalu banyak. Bisa lihat malam ini, walaupun sudah larut, penonton enggan pulang.

Lalu berapa bayarannya? Untuk sekali pertunjukkan Rp15 juta sampai Rp20 juta. Tergantung ada bintang tamunya yang terkenal. Kalau sudah punya nama, ongkosnya lebih mahal lagi. “Dalam sekali mentas kita punya kru 30 hingga 40 orang. Pintar-pintar saja bagaimana mengatur keuangan dan memberikan honor,” ujarnya.

Herda mengaku para pemain tidak menjadikan lenong sebagai topangan hidup. Mereka umumnya mempunyai pekerjaan tetap, semisal kerja di pabrik, jadi guru, ataupun profesi lain. Para pemain ini memiliki komitmen untuk melestarikan budaya betawi. “Kalau bukan kita siapa lagi yang akan lestarikan budaya ini,” katanya.

Walaupun jadi pimpinan, Herda juga kerap menjadi pemain. Karakternya pun berubah-ubah. Bisa sebagai antagonis ataupun protagonis. Semua tergantung pesanan yang punya acara. Dirinya sudah tidak canggung lagi kalau berbicara di depan banyak orang memainkan peran. Karena bagi dia, memainkan karakter orang sebetulnya gampang. Terpenting bisa menjiwai dan tahu apa yang harus dilakukan.

Berkecimpung di dunia lenong selama puluhan tahun membawanya keliling Indonesia. Semua wilayah sudah disinggahi dari Sabang hingga Merauke.

“Kesenian lenong masih disukai masyarakat walaupun bioskop menjamur di mana-mana. Ini bisa terjadi karena kita punya pembeda dibanding menonton lewat layar kaca. Bisa lebih hidup kalau menonton langsung,” katanya.

Sayang di tengah perbincangan Herda tiba-tiba dipanggil kru. Ia harus naik panggung untuk memainkan peran yang mengambil tema Warisan Membawa Maut. “Disudahi dulu ya Mas, saya harus manggung,” ujarnya menutup obrolan. (*)