Ki Jali memperagakan pertunjukan Wayang Garing di kediamannya di Desa Mandaya, Kecamatan Carenang, Kabupaten Serang, Selasa (17/7).

Kesenian dan budaya merupakan ciri khas suatu daerah. Biasanya dilakukan secara turun-temurun dari leluhur melalui generasinya. Namun jika tidak ada generasi penerus, kearifan lokal itu terancam punah.

Selasa (17/7) siang kemarin, panas matahari menyengat hingga ke ubun-ubun. Pematang sawah di Kecamatan Carenang tampak sepi dan minim aktivitas warga.

Di Desa Mandaya, Kecamatan Carenang, tepat di samping sebuah masjid terdapat rumah sederhana semipermanen. Sebagian rumah terbuat dari semen sebagian lagi dari bilik. Seorang kakek paro baya terlihat sedang sibuk membuat alat peraga wayang. Adalah Kajali, dalang sekaligus pencipta kesenian wayang garing yang sampai saat ini masih eksis.

Tak sulit untuk menemukan kediaman Kajali di Desa Mandaya. Setiap warga Desa Mandaya yang ditanya nama Kajali, langsung menunjukkan ke arah rumah dalang ini. Kajali pun menyambut hangat kedatangan Radar Banten di tengah-tengah kesibukannya membuat alat peraga wayang.

Pria berusia kepala tujuh ini sudah menekuni dunia perwayangan sejak 1964. Awalnya, ia berguru pada seorang dalang yang masyhur di Kecamatan Carenang. Namun, setelah dalang itu meninggal dunia, Kajali menciptakan gaya perwayangan sendiri dengan sebutan wayang garing.

Kajali menunjukkan beberapa koleksi wayangnya. Masing-masing wayang itu mempunyai nama tersendiri. Seperti Arjuna, Dewara, dan Semar. Disebut wayang garing karena pertunjukan wayang ini dilakukan solo tanpa diiringi oleh lantunan musik gamelan. “Enggak ada musik gamelan dan kendang. Kalau yang lainnya kan pakai musik,” katanya saat berbincang-bincang di atas amben bambu.

Ki Jali, begitu sebutannya, menekuni kesenian tradisional ini dengan kesungguhan. Ia pun kerap diundang di berbagai acara daerah hingga nasional untuk menampilkan pertunjukan wayangnya. Pria beranak lima ini juga mengaku sering digandeng Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Banten di berbagai acara pameran kesenian. “Pernah main wayang di Jakarta, Jawa Barat,” ujarnya.

Merasa ingin lebih meyakinkan, Ki Jali sontak masuk ke dalam rumahnya dan mengambil sekumpulan berkas. Ia menunjukkan beberapa sertifikat dan piagam penghargaan bidang kesenian. Di antaranya, piagam penghargaan dari Gubernur Banten tahun 2008 dan dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. “Ini dari gubernur, ini dari kantor UI (menyebut kampus UI-red),” kata Ki Jali menunjuk satu per satu penghargaan yang diraihnya.

Dalam melakukan pertunjukan wayang, Ki Jali memasukkan pesan moral kehidupan yang disampaikan kepada para penonton. Sesekali ia juga menyelipkan lawakan untuk mencairkan suasana. “Bahasanya tergantung para penonton, bisa Jawa Serang, Indonesia, Sunda,” terangnya.

Meski begitu, kakek yang memiliki sepuluh cucu ini mengaku belum memiliki murid untuk mewariskan bakat pewayangannya itu. Hanya satu dari lima anak Ki Jali yang rutin mengikuti pertunjukan wayangnya, itu pun hanya mempersiapkan alat-alat peraganya saja. “Bagaimana pun, kan saya enggak selamanya hidup, harus ada yang meneruskan,” ucapnya.

Meski sudah puluhan tahun berkecimpung sebagai dalang, profesinya itu tak lantas membuat keluarganya sejahtera. Ki Jali harus ikhlas tinggal di rumah sederhana dengan segala keterbatasan. Penghasilan dari pertunjukan wayangnya pun tidak menentu. “Upahnya berapa saja, enggak pernah patok harga,” terangnya.

Menurut Ki Jali, wayang garing merupakan satu-satunya kesenian asal Kabupaten Serang bahkan Provinsi Banten yang masih terjaga. Ki Jali pun menjadi orang yang menciptakan dan satu-satunya dalang wayang garing. Ia pun sampai saat ini masih aktif bermain wayang di berbagai acara. (ABDUL ROZAK)23