Ilustrasi.

Tak tega melihat perjuangan sang ibu tercinta, sebut saja Odah (41), sang anak lelaki yang kita sebut saja namanya Soka (28) sering kali meneteskan air mata. Ia yang sudah beranjak dewasa, masih belum bisa membahagiakan kedua orangtua. Terlahir sebagai orang susah, penderitaannya semakin bertambah lantaran kelakuan sang ayah, sebut saja Johan (45).

Sudah tidak bisa membiayai sekolah, Johan malah sering kelayapan bahkan sampai tak pulang. Seolah tak peduli pada anak dan istri, Soka merasa, ayahnya tak lagi menyayangi keluarga. Apalah daya, keributan pun sering terjadi di antara keduanya. Aih-aih, jangan begitu, Kang. Dosa!

“Kalau saja kelakuan dia baik sama ibu dan anaknya, ya saya enggak bakal bersikap kayak gini, Kang,” kata Soka kepada Radar Banten.

Seperti diceritakan Soka, sang ayah benar-benar sudah keterlaluan. Bekerja sebagai sopir angkot di Kota Serang, Johan tak hanya mengenyampingkan nasib keluarga, tapi juga menciptakan luka bagi sang istri tercinta. Lantaran ponsel-nya tertinggal di rumah, Soka yang menjadi saksi atas kelakuan Johan selama ini. Wih, memang ada apa, Kang?

Saat ditanya seperti itu, lelaki berbadan tinggi dengan kulit sawo matang itu seolah tak kuasa menahan emosi yang bergejolak di dada. Ingatan kelam tentang luka dalam keluarga seolah menguak ke permukaan. Ditundukkannya kepala, tak lama setelahnya, ia menarik napas dalam-dalam. Pandangannya mengarah ke atas sambil mengatakan,

“Bapak saya punya selingkuhan, Kang,” ucapnya pelan. Astaga, yang benar, Kang?

“Saya lihat sendiri di pesan singkat handphone-nya. Saya juga sempat ngobrol dengan wanita selingkuhannya itu lewat telepon,” curhat Soka menutupi wajahnya.

Seperti diceritakan Soka yang juga mendapat keterangan dari sang ibu tentang latar belakang ayahnya, Johan dahulu bukanlah seperti Johan yang sekarang. Lelaki berbadan gemuk dengan kulit hitam terpanggang panas matahari itu sosok ayah yang baik dan penuh perhatian.

Terlahir dari keluarga sederhana, Johan tumbuh menjadi anak yang penurut pada orangtua. Memiliki kehidupan yang penuh keharmonisan, ia mengalami masa muda yang penuh warna. Anak terakhir dari empat bersaudara itu sering dimanja dan disayangi sepenuh hati.

Setelah lulus SMK, Johan bekerja di salah satu perusahaan ternama di Kabupaten Serang. Merasa memiliki penghasilan dan tak sabar ingin berumah tangga, ia gencar mencari wanita yang mau menjadi istrinya. Sempat berpacaran dengan beberapa wanita, Johan belum menentukan pilihan.

Sampai akhirnya bertemu dengan Odah, perempuan desa yang dikenalnya melalui peran seorang teman, Johan merasa telah diberi jawaban oleh Tuhan atas doa-doanya setiap malam. Ya, dulu ia terkenal sebagai pemuda yang taat beribadah. Tak menunggu lama, Johan pun menyatakan cinta.

Odah bukan wanita biasa. Sewaktu muda, banyak lelaki yang mengejarnya untuk dijadikan pendamping hidup. Maklumlah, selain cantik, Odah juga anak orang terpandang. Ayahnya ustaz kampung yang dihormati banyak orang. Berkulit putih bersih dengan lesung pipi yang menggoda, Odah wanita kembang desa.

Singkat cerita, menikahlah Johan dengan Odah. Mengikat janji sehidup semati, keduanya resmi menjadi sepasang suami istri. Dengan membawa barang-barang perabotan rumah tangga dari uang hasil bekerja, Johan dan Odah bersiap mengarungi bahtera rumah tangga.

Di awal pernikahan, Johan menjadi sosok suami yang penuh perhatian. Melayani serta mengayomi sang istri, ia menuruti kemauan Odah sepenuh hati. Begitu pun dengan Odah, ia menjadi istri yang baik. Biasalah, namanya pengantin baru mah suka saling jaga perasaaan.

Hingga dua tahun kemudian, mereka pun dikaruniai anak pertama. Membuat hubungan keduanya semakin mesra. Baik keluarga Johan maupun keluarga Odah datang ke rumah, menjalin silaturahmi dan menjaga hubungan tetap harmonis. Sampai sepuluh tahun usia pernikahan, mereka dikaruniai empat anak yang perlahan mulai tumbuh dewasa.

Sampai musibah itu datang bertubi-tubi, membuat Johan depresi. Mulai dari dipecat dari tempatnya bekerja, sampai meninggalnya sang ayah tercinta. Johan terpukul berat atas apa yang dialami saat itu. Parahnya, tak lama sepeninggal sang ayah, ketiga kakaknya pun bertengkar memperebutkan harta warisan yang tak seberapa. Astaga.

“Padahal, waktu itu cuma ada tanah dan surat rumah, itu tempat tinggal orangtua, eh diembat juga,” katanya emosi.

Mungkin lantaran tak tahan melihat tingkah laku kakak-kakaknya yang ribut hanya karena urusan uang, setahun kemudian sang ibu menyusul mediang ayahnya ke pangkuan Yang Mahakuasa. Sejak saat itulah, Johan berubah menjadi lelaki yang kasar. Ditambah lagi pergaulannya dengan preman pasar, membuatnya sering kelayapan setiap malam.

Peristiwa terkuaknya perselingkuhan itu pun terjadi. Soka sang anak melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau sang ayah memiliki istri muda. Bagai tercabik-cabik pedang samurai, hatinya hancur berantakan. Sore itu ia duduk di meja makan sambil menunggu ayahnya pulang.

“Makan dulu, Nak. Cuma ada tempe sama sambal, semoga bapakmu nanti pulang bawa uang,” kata sang ibu dari balik pintu.

Mendengar betapa besarnya perhatian dan kasih sayang sang ibu, membuat Soka tak mampu menahan linangan air mata. Di sisi lain, hal itu justru semakin membuatnya geram pada sang ayah. Seolah tak mampu bersuara, tangannya mengepal keras bagai batu.

Tepat pukul 05.00 sore, suara mobil terdengar di depan rumah, Soka sudah berdiri di ambang pintu. Setelah mesin mobil itu mati dan sang ayah mendekati, tanpa basa-basi, dihajarnya Johan tepat di bagian wajah.

“Anak setan,” teriak sang ayah.

“Bapak yang setan, sudah mending ibu masih terima bapak, bapak malah punya istri muda,” teriak Soka sambil terus menghajar ayahnya.

Johan tak tinggal diam, kaget akan perkataan Soka, emosinya ikut membara. Terjadilah baku hantam antara anak dan orangtua. Sampai Odah berteriak di depan rumah, tetangga dan saudara melerai keributan mereka. Setelah mengetahui penyebab keributan itu, Odah pun menangis histeris, ia menuntut perceraian pada suaminya. Astaga.

Ya ampun, sabar ya Kang Soka. Hidup itu berat, tapi jika terus semangat dan berdoa, insya Allah semuanya jadi berkah. Ambil hikmahnya saja. Semoga Kang Soka jadi orang sukses dunia akhirat. Amin. (daru-zetizen/zee/dwi/RBG)

 

 

 

BAGIKAN