Ketua KNPI Banten Rano Alfath Melenggang ke Senayan

Ketua KNPI Banten Muhammad Rano Alfath

SERANG – Proses rekapitulasi penghitungan hasil suara Pemilu 2019 masih berlangsung hingga keputusan final KPU pada 22 Mei mendatang. Namun, rekapitulasi menunjukkan beberapa nama caleg DPR RI Dapil Banten III (Tangerang Raya) bakal melenggang ke Senayan.

Nama Ketua DPD KNPI Banten Muhammad Rano Alfath salah satunya. Politikus PKB ini diprediksi masuk mewakili politisi muda maju dari Dapil Banten III. Dari sepuluh kursi yang diperebutkan, PKB menjadi salah satu parpol yang suaranya masuk ke daftar 10 besar. Sementara, hitungan internal PKB, Rano menjadi caleg yang suaranya paling banyak.

Input data sebesar 80 persen dari tim Rano Alfath yang diterima Radar Banten menunjukkan, PKB memeroleh suara sebanyak 154.159 suara. Perinciannya Kabupaten Tangerang A sebesar 56.422 suara, Kabupaten Tangerang B sebesar 85.599 suara, Kota Tangerang 25.540 suara, dan Tangerang Selatan (Tangsel) sebesar 16.243 suara.

Dari data tersebut, Rano yang mencalonkan dengan nomor urut dua mendulang suara terbanyak dengan jumlah 65.254 ribu. Dia berhasil mengungguli caleg petahana PKB Siti Masrifah yang hanya mendapatkan 28.126 suara.

Perolehan suara Rano tersebar merata di semua wilayah. Dia hanya kalah dari Siti Masrifah di Tangsel. Perincian suara Rano yakni Kabupaten Tangerang A sebesar 23.854, Kabupaten Tangerang B sebesar 30.681, Kota Tangerang sebesar 8.274 dan Tangsel sebesar 2.736 suara.

Meski unggul perolehan sementara, Rano Alfath mengaku masih menunggu hasil putusan resmi pihak KPU pada 22 Mei 2019. “Alhamdulillah dari hasil input C-1 dan pleno-pleno kecamatan kabupatan kota, insya Allah dapat, tapi kita tetap menunggu putusan resmi,” katanya kepada Radar Banten, Jumat (3/5).

Pengusaha muda ini mengaku, proses Pemilu 2019 memberi banyak pelajaran penting. Bukan hanya soal kontestasi, tetapi memahami setiap persoalan nyata yang ada di masyarakat. “Proses pemilu hari ini lebih menarik dan punya tantangan tersendiri karena disatukannya pileg dan pilpres. Akhirnya masyarakat lebih fokus ke pilpres, caleg lebih banyak dicuekin. Jadi kalau kita enggak turun ke masyaraakt maka sulit mendapat suara,” katanya. (Ken Supriyono)