Kewirausahaan Pemuda

Oleh. H.M. Ali Mustofa

Sekretaris Dewan Pertimbangan FSPP dan Sekretaris Gugus Tugas Covid-19 MUI Provinsi Banten

Pemuda merupakan pelanjut generasi, padanya terdapat banyak potensi baik dalam bidang kepemimpinan maupun kewirausahaan. Saat ini banyak pemuda menjadi pemimpin yang sukses dalam bidang pemerintahan dan dunia bisnis. Kontribusi pemuda baik dalam pentas sejarah maupun saat ini sangat besar bagi pembangunan suatu negara.

Pemuda harus dididik dengan keimanan dan skill, tanpa iman orientasi kehidupan pemuda akan terjebak pada orientasi duniawiyah semata. Tanpa skill pemuda akan menjadi pengangguran dan berpotensi menjadi segmen khusus pasar gelap narkoba, free sex dan prilaku bebas lainnya yang tidak produktif dan jauh dari nilai-nilai agama. Pemuda yang berskill akan produktif dan memberikan kontribusi positif untuk orang lain. Salah satu aktivitas pemuda yang berskill dan memberikan kontribusi positif untuk orang lain itu adalah kewirausahaan.

Kewirausahawan merupakan salah satu motor penggerak serta dapat menjadi solusi bagi permasalahan yang melanda dunia bisnis dan ekonomi suatu negara, tak terkecuali Indonesia. Oleh karena itu, sudah selayaknya dilakukan upaya untuk menumbuhkan dan mengembangkannya, seperti misalnya melalui dunia pendidikan serta berbagai kemudahan dalam mendirikan sebuah bisnis baru sehingga akan lebih banyak orang-orang yang bersedia memilih jalan hidup sebagai seorang wirausahawan. Namun kesuksesan dalam berwirausaha tidak hanya semata-mata ditentukan oleh berlimpahnya fasilitas serta kemudahan yang tersedia. Namun bertumpu pada spirit, budaya dan karakter positif yang melekat pada dirinya dalam menjalankan kegiatan wirausaha.

Menurut Machfoedz (2015) keinginan untuk maju, rasa ingin tahu yang kuat, enthusiasm (semangat) yang besar, analisa yang sistematis, terbuka untuk menerima saran dan pendapat orang lain, inisiatif yang menonjol dan berani mengambil keputusan dengan langkah yang berbeda dengan orang lain serta fikiran yang terkonsentrasi pada satu pokok pemikiran merupakan elemen-elemen penting yang menjadi rahasia keberhasilan seorang wirausahawan. Kegiatan wirausaha bukanlah kegiatan usaha serabutan namun harus direncanakan dengan baik dan dikaji kelayakannya. Rencana kerja wirausaha pemuda harus disusun dengan memperhatikan peluang pasar dan daya dukung sumberdaya baik internal maupun eksternal.

Saat ini masih terjadi ketimpangan antar sektor dan wilayah. Sektor pertanian yang menampung tenaga kerja lebih banyak umumnya berada di pedesaan. Secara wilayah, pedesaan lebih luas namun aktivitas perekonomiannya tidak sebesar perkotaan. Di pedesaan lebih banyak menanggung beban dengan daya dukung pendapatan yang lebih rendah, akibatnya menjadi kantung kemiskinan yang lebih banyak dari perkotaan. Pada situasi ini harus ditumbuhkan kegiatan wirausaha dengan merancang pedesaan sebagai pusat pertumbuhannya. Di desa mesti ditumbuhkan kegiatan usaha yang dipelopori para pemuda agar dapat menyerap tenaga kerja lokal dalam jumlah banyak. Untuk menumbuhkan dan mengembangkannya dibutuhkan uang tunai yang dapat dinvestasikan pada Usaha-usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Dana desa yang setiap tahun dikucurkan pemerintah tidak hanya penting untuk membangun infrastruktur tetapi juga penting untuk membangun ekonomi pedesaan.

Ekonomi pedesaan yang dibangun harus berpijak pada sumberdaya lokal yang ada. Jika desa dominannya pertanian maka agroindustri perlu dibangun. Jika dominannya perikanan maka industry perikanan perlu dibangun. Demikian seterusnya. Namun terdapat industry yang dapat dibangun secara lintas wilayah itulah yang disebut industry kreatif. Karena berbasis kreativitas maka industry kraetif dapat tumbuh di pedesaan maupun perkotaan. Disamping itu terdapat kegiatan wirausaha yang tumbuh di dunia maya seperti buka lapak, tokopedia, beli-beli dan sebagainya. Wirausaha dunia maya ini sedang menggeser transaksi off line menjadi trend generasi milenial. Toko – toko seperti ini banyak dioperasikan di rumah sehingga bebas dari mahalnya sewa tempat, menggunakan teknologi informasi (internet) dan dikirim dengan gojek atau gosend. Promosi, transaksi dan pengiriman barang dilakukan secara online. Rumah kita adalah stokist dan juga gudang sedangkan lapaknya berada didunia maya.

Di tengah situasi Pandemi Covid-19 yang selama tiga bulan ini telah menekan aktivitas bisnis menjadi berbasis rumah, muncul gagasan untuk memperkuat bisnis berbasis rumah dan komunitas yang diyakini lebih aman dari lintas interaksi antar manusia sebagaimana terjadi pada pasar terbuka seperti mall dan beragam pasar tradisional lainnya. Pandemi Covid-19 juga telah menggeser aktivitas bisnis dari dunia nyata ke dunia maya. Dengan mempertimbangan dua situasi demikian maka mengembangkan kewirausahaan pemuda berbasis rumah dan komunitas tampaknya mendapatkan momentumnya. Rumah perlu didesain sebagai basis produksi dan transaksi dimana para pemuda yang masih menjalankan studi baik sebagai pelajar, mahasiswa dan yang sudah lulus tetapi sedang mencari pekerjaan termotivasi untuk berwirausaha.

Setidaknya dibutuhkan empat elemen dasar untuk mengembangkan kewirausahaan pemuda, yakni; pertama. Pendampingan dibutuhkan untuk memberikan dukungan moril, gagasan bisnis, perencanaan/kelayakan dan evaluasi kinerja bisnis terutama bagi para pemuda yang baru memulai berwirausaha. Kedua. Minat Wirausaha sebagai refleksi dari keinginan pemuda yang didorong oleh suatu hasrat setelah melihat, mengamati dan membandingkan serta mempertimbangkan kebutuhan yang diinginkannya. Jarak antara keinginan dengan kebutuhan itu mendorong seorang pemuda berminat untuk berusaha yang jika usahanya dikelola sendiri menjadi wirausaha. Kegiatan pendampingan perlu mendorong seorang pemuda memiliki minat terhadap wirausaha dan meyakini bahwa wirausaha adalah jalan yang baik untuk meraih sukses bagi masa depannya.

Ketiga, Motivasi berwirausaha sebagai sesuatu yang melatarbelakangi atau mendorong seseorang melakukan aktivitas dan memberi energi yang mengarah pada pencapaian kebutuhan, memberi kepuasan ataupun mengurangi ketidakseimbangan dengan membuka suatu usaha atau bisnis (Zimmerer dalam Budiati, 2012). McClelland (dalam Hastuti, 2012) menjelaskan bahwa seorang wirausaha melakukan kegiatan usaha didorong oleh kebutuhan untuk berprestasi, berhubungan dengan orang lain dan untuk mendapatkan kekuasaan baik secara finansial maupun secara sosial. Dalam melakukan kegiatan usahanya wirausahawan dimotivasi oleh: (i). Motif berprestasi (need for achievement). Orang melakukan kegiatan kewirausahaan didorong oleh keinginan mendapatkan prestasi dan pengakuan dari keluarga maupun masyarakat; (ii) Motif berafiliasi (need for affiliation); Orang melakukan kegiatan kewirausahaan didorong oleh keinginan untuk berhubungan dengan orang lain secara sosial kemasyarakatan; (iii) Motif kekuasaan (need for power); Orang yang melakukan kegiatan kewirausahaan didorong oleh keinginan mendapatkan kekuasaan atas sumberdaya yang ada. Peningkatan kekayaan, penguasaan pasar sering menjadi pendorong utama wirausahawan melakukan kegiatan usaha.

Keempat, Prestasi Bisnis yang diperoleh dari usaha yang telah ditekuni oleh wirausahawan. Prestasi dapat dicapai dengan mengandalkan kemampuan intelektual, emosional, dan spiritual, serta ketahanan diri dalam menghadapi situasi dan kondisi suboptimum. Karakter orang yang berprestasi adalah mencintai pekerjaan, memiliki inisiatif dan kreatif, pantang menyerah, serta menjalankan tugas dengan sungguh-sungguh. Karakter-karakter tersebut menunjukan bahwa untuk meraih prestasi tertentu, dibutuhkan kerja keras, kerja cerdas dan tentu saja kerja ikhlas. Kerja keras membutuhkan sumberdaya fisik yang prima, kerja cerdas membutuhkan sumberdaya intelektual dan kerja ikhlas membutuhkan sumberdaya spiritual yang memusat pada energi ilahiyah. Ketiganya dibutuhkan oleh seorang wirausahawan pemuda terutama bagi yang tengah memulai dan mengembangkan usahanya.

Prestasi dalam bisnis juga tidak hanya terkait dengan pencapaian target bisnis semata akan tetapi tergantung juga dari tahapan-tahapan dalam pelaksanaan bisnis. Beberapa tahapan dalam bisnis yang dikenal adalah tahapan perencanaan dimana pada tahap ini kecermatan dalam memetakan kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman bagi bisnis yang akan dijalankan amat dibutuhkan. Kemampuan memetakan elemen-elemen ini dapat menggambarkan apakah suatu unit usaha yang dikelola berada dalam suatu posisi yang aman atau berada dalam ancaman. Pelaksanaan atas suatu rencana adalah tahapan yang menentukan, karena pada fase ini seorang wirausahawan harus berani mengambil keputusan tidak hanya dari sudut keuntungan yang akan diraih akan tetapi harus dilihat dari sudut resiko. Resiko dalam bisnis adalah kerugian, bagaimana agar bisa menghindari kerugian dan seberapa besar keuntungan yang ditargetkan diperlukan studi kelayakan usaha/ bisnis yang harus dijadikan pedoman dalam mengelola sumberdaya perusahaan.

Kelayakan bisnis inilah yang akan memberikan peta jalan bagi calon wirausahawan pemuda. Karena itu meskipun sederhana studi kelayakan bisnis (SKB) sebelum usaha dijalankan perlu dilakukan yang memuat antara lain aspek-aspek; (a) Pasar dan Pemasaran yang menggambarkan segmentasi, targeting dan positioning; (b) Organisasi dan Manajemen yang menggambarkan struktur dan pembagian tugas personil; (c) Teknis dan teknologi yang menggambarkan aspek teknis dan teknologi apa yang digunakan; (d) Sosial Budaya dan Lingkungan yang menggambarkan kondisi social budaya adaptif terhadap usaha yang akan dijalankan serta jaminan tidak mencemari lingkungan dan (e) Keuangan yang menggambarkan indikator-indikator kelayakan keuangan seperti B/C rasio, Titik Impas dan IRR.

Hasil dari studi kelayakan bisnis (SKB) ini selanjutnya digunakan sebagai landasan dalam menyusun rencana kerja yang akan dilaksanakan oleh calon wirausahawan pemuda yang mengambarkan tentang kehendak yang akan dilaksanakan dalam berwirausaha. Setiap kegiatan usaha pasti menghadapi resiko salah satunya resiko financial (kerugian). Resiko inilah yang harus dikendalikan dengan cara mengefiesinkan biaya dan mengurangi beban yang tidak perlu. Memaksimalkan pendapatan adalah target yang harus dicapai karena akan menjamin keberlanjutan usaha. Selain dari hal-hal teknis tersebut seorang pemuda yang menekuni wirausaha harus memiliki mental perwira yang sanggup memimpin usahanya dalam kondisi optimum maupun suboptimum. Selamat kepada para pemuda yang tengah memulai dan mengembangkan usaha sendiri berbasis rumah dan komunitas diatas landasan nilai-nilai kewirausahaan. (*)