Suasana halal bihalal Idul Fitri 1437 H Kemenag. Foto : Kemenag

JAKARTA – Pimpinan Pesantren Al-Hikam KH Hasyim Muzadi mengatakan, syiar dan nuansa Idul Fitri yang begitu khas hanya ditemukan di Indonesia harus senantiasa dijaga dan diupayakan meriah.

“Tradisi halal bihalal adalah asli made in Indonesia dan syiar Idul Fitri, silaturahim dan mudik hanya ditemukan di Indonesia, di Eropa dan Timur Tengah tidak ada, bahkan di Arab Saudi tidak ditemukan kemeriahan pasca Idul Fitri. Di Arab Saudi, kemeriahan justru terasa pada Ramadan malam ke-27 dan 29,” ujar KH Hasyim saat memberikan tausyiyah Halal Bihalal Idul Fitri 1437 H Kemenag yang dihadiri Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, pejabat dan pegawai Kementerian Agama, Jumat (15/7).

“Di sana yang ramai itu puasanya, syiar Idul Fitri-nya tidak ada, yang ada salat Idul Fitri-nya sedangkan di sini hari raya sangat ramai, sekalipun ada yang tidak tidak puasa,” ujarnya sebagaimana dilansir Kemenag.

Anggota Wantimpres ini menyatakan, masyarakat Indonesia lebih banyak mendahulukan hal-hal yang bersifat perayaan, keramaian dan kemeriahan dalam menyambut Idul Fitri atau lebih akrab disebut Lebaran. Namun menurut KH Hasyim, bukan berarti hal ini tidak diperkenankan dalam agama. Hal-hal tersebut termasuk dalam syiar Idul FItri.

“Hal yang dilarang untuk dilakukan adalah mengubah hal-hal yang sudah baku, seperti mengubah tata cara salat Idul Fitri. Jika hal tersebut dilakukan, hal tersebut bukan saja Bid’ah akan tetapi sudah termasuk Khilaful Syari’ah,” ujarnya.

Meski beberapa tradisi yang ditemukan di Indonesia tidak tertera dengan jelas di dalam Al-Quran dan Hadist, pada zaman Rasul tidak ada, akan tetapi selama masih sesuai dengan pokok syariat agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad, maka tidak ada salahnya untuk tetap dipelihara keberadaannya.

“Memang Islam turun di Saudi tetapi diperuntukkan bagi seluruh alam (Rahmatan lil alamiin),” kata KH Hasyim.

Lebih lanjut, KH. Hasyim mengatakan, Idul Fitri merupakan Hari Raya Kemanusiaan. Idul Fitri bukan hanya sebuah peristiwa akan tetapi lebih merupakan sebuah fenomena di mana kemanusiaan akan lebih terbangun melalui proses puasa dan Idul Fitri. “Pada saat berpuasa kita dapat mengkoreksi diri sendiri, saat Idul Fitri kita memulai hablumminannas,” tuturnya. (Aas)