Khatib Idul Fitri di Istiqlal Ajak Umat Bangun Optimisme dan Kebersamaan

0
1.342 views

JAKARTA – Salat Idul Fitri di Masjid Istiqlal, Jakarta, dimulai tepat pukul 07.00 WIB dipimpin oleh Ust Ahmad Husni Ismail. Bersama ribuan umat Muslim, tampak hadir Presiden Joko Widodo, Wakil Presiden Jusuf Kalla, sejumlah Menteri Kabinet Kerja, pimpinan lembaga tinggi negara, serta duta besar negara sahabat.

Selaku Imam Salat Id adalah Ust Ahmad Husni Ismail. Sedang selaku khatib adalah mantan Menteri Agama yang juga Pendiri Pusat Studi Al Quran KH Quraish Shihab.

KH Quraish dalam khutbahnya mengajak umat Islam untuk membangun optimisme dan kebersamaan. Dengan Takbir dan Tahmid, Khatib mengajak umat Islam untuk melepas bulan suci Ramadan dengan hati harus penuh harap, dengan jiwa kuat penuh optimisme, betapapun beratnya tantangan dan sulitnya situasi.

“Ini karena kita menyadari bahwa Allah Maha Besar. Semua kecil dan ringan selama kita bersama dengan Allah,” tutur KH Quraish di Jakarta, Minggu (25/6), dilansir Kemenag.

Menurut KH Quraish, kebersamaan itu juga harus dibangun baik sebagai umat Islam maupun warga bangsa, kendati mazhab, agama, dan pandangan politik berbeda. Sebab, warga bangsa adalah masyarakat yang ber Ketuhanan Yang Maha Esa.

“Kita semua satu bangsa, satu bahasa, dan satu tanah air dan kita semua telah bersepakat Berbhinneka Tunggal Ika, dan menyadari bahwa Islam bahkan agama-agama tidak melarang kita berkelompok dan berbeda,” pesannya.

Kepada umat Islam, KH Quraish dalam khutbah yang bertajuk ‘Idul Fitri dan Semangat Memperkokoh Persatuan dan Kesatuan’ ini mengingatkan umat Islam bahwa keragaman dan perbedaan adalah keniscayaan yang dikehendaki Allah untuk seluruh makhluk, termasuk manusia.

“Yang dilarangnya adalah berkelompok dan berselisih,” tandasnya.

Quraish Shihab juga mengingatkan umat Islam dengan asal kejadiannya. Menurutnya, kata fitri berarti asal kejadian, bawaan sejak lahir atau naluri. Fitri juga berarti agama karena keberagamaan mengantar manusia mempertahankan kesuciannya.

“Dengan beridul fitri, kita harus sadar bahwa asal kejadian kita adalah tanah,” katanya.

“Kita semua lahir, hidup, dan akan kembali dikebumikan ke tanah,” lanjutnya.

Menurut KH Quraish, kesadaran tentang asal kejadian dari tanah harus mampu mengantar manusia memahami jati dirinya. Tanah berbeda dengan api yang merupakan asal kejadian iblis.

“Tanah menumbuhkan, tidak membakar. Tanah dibutuhkan oleh manusia, binatang, dan tumbuhan, tapi api tidak oleh binatang, tidak juga oleh tumbuhan,” ujar Khatib yang juga mantan Menteri Agama.

“Jika demikian, manusia mestinya stabil dan konsisten, tidak bergejolak, serta selalu memberi manfaat dan menjadi andalan yang dibutuhkan oleh selainnya,” sambungnya.

Khatib menambahkan, bumi di mana tanah berada, beredar dan stabil. Alah menancapkan gunung-gunung di perut bumi agar penghuni bumi tidak oleng. Peredaran bumi mengelilingi matahari pun berjalan secara konsisten.

Demikian juga kehidupan manusia, lanjutnya, terus beredar dan berputar, sekali naik sekali turun, kadang senang dan kadang susah. “Jika tidak tertancap dalam hati manusia pasak yang berfungsi seperti fungsinya gunung pada bumi, maka hidup manusia akan oleng kacau berantakan,” tuturnya.

“Pasak yang harus ditancapkan ke lubuk hati itu adalah keyakinan tentang Ketuhanan Yang Maha Esa. Itulah salah satu sebab mengapa Idul Fitri disambut dengan takbir,” tandasnya. (Kemenag/Aas Arbi)