Kholid: Istri Saya Meninggal Bukan Kelaparan

0
811 views

SERANG – Kelaparan dipastikan bukan menjadi penyebab utama kematian Yuli Nur Amalia (42) warga RT 03/RT 07 Kelurahan Kaloran, Kecamatan Serang, Senin (20/4). Hal ini diungkapkan Kholid suami Yuli saat berbincang di kediamannya, Selasa (21/4) pagi sekira pukul 09.00 WIB. 

Kata Kholid, penyebab meninggalnya sang istri tercinta karena kelelahan saat mengemas sembako yang diterima dan akan dibagikan ke tetangga sekitar. Yuli mengemas bersama tiga dari empat anaknya. “Istri saya meninggal bukan kelaparan. Benar tidak sempat makan (sebelum ramai diberitakan-red),” ujarnya.

Kholid mengakui tengah kesulitan mengais rezeki di tengah pandemi Covid-19. Dirinya kesulitan mendapatkan barang rongsokan. Ia mengaku, bantuan diterima setelah sang istri menceritakan kondisinya ke media. “Jumat (17/4) pas wawancara ada juga ada yang memberi bantuan. Itu juga cerita istri saya,” katanya.

Ia mengungkapkan, tidak menemukan tanda-tanda aneh dari istrinya. Terlebih, di Senin (20/4) siang kondisi istri sehat dan bugar. Namun, dirinya kaget saat berada di TPSA Cilowong mengantarkan sampah, sekira pukul 14.30 WIB menerima telepon dari salah satu anaknya. Ia pun bergegas menuju rumah. Melihat kondisi Yuli tak berdaya, Kholid berinisiatif membawa ke Puskesmas Singanduru. “Saya bawa bersama teman saya. Sebelum sampai puskesmas istri saya sudah meninggal sekira pukul 15.00 WIB,” katanya.

“Setelah jenazah istri saya pulang dari puskesmas. Jam 19.00 WIB dimandikan, kemudian jam 21.00 WIB dimakamkan di tempat pemakaman umum,” sambungnya.

Kholid mengaku kini bersama empat anaknya belum memiliki rencana lebih jauh selain fokus hingga tujuh hari ke depan. “Iya ada tahlil. Saya bersama anak saya. Yang besar lulusan SMP, yang kedua di SMP, ketiga sekolah SD dan terakhir usia tujuh bulan,” terangnya.

BANTUAN TETANGGA

Sementara itu, Indah salah seorang tetangga mengaku kaget saat mendapatkan informasi kondisi Yuli dan keluarga tidak makan selama dua hari. Padahal, tetangganya selama ini sering kali membantu apabila keluarga Yuli dalam kesulitan. “Memang saya tidak dekat dengan bu Yuli. Tapi pengakuan bu Devi yang suka membantu dia, sangat marah. Seolah tetangga di sini tidak ada yang peduli,” katanya.

Kata dia, dari sisi ekonomi memang terlihat pas-pasan. Tapi, suami istri ini memiliki usaha. Terlebih, tempat tinggal Yuli dan Kholid tak jauh dari orangtua dan keluarganya. “Kalau memang kelaparan yang tinggal bilang ke orang tua. Ini pikiran saya. Kenapa langsung cerita ke luar. Masa kita tidak peduli. Terlebih kan ada keluarganya, deket pula,” terangnya.

TAK MASUK DAFTAR JPS

Ketua RT 03/RW 07, Kelurahan Lontar Baru, Agus Zakaria menjelaskan jika sebelum kejadian almarhumah Yuli mengaku kelaparan. Agus memberitahukan, keluarga Kholid dan Yuli tidak masuk pendataan penerima Jaring Pengaman Sosial (JPS) karena berprofesi sebagai petugas kebersihan. “Pekerjaan kebersihan ditolak bagian Kesos Kelurahan. Berkas saya balikan lagi. Mungkin dari situ almarhumah kecewa,” katanya.

“Ada sarana, untuk meluapkan kekesalannya padahal kalau memang almarhumah dan keluarga dalam dua hari tidak makan. Kalau saja bilang kepada saya sebagai RT. Mungkin, saya punya empat liter beras saya bagi dua. Karena tidak ngomong apa-apa, jadi saya tidak tahu,” terangnya.

Agus menolak jika penyebab meninggalnya Yuli karena kelaparan. Ia menyatakan, setelah pengakuannya di media kemudian viral media sosial bantuan berdatangan seperti dari Parpol, TNI, Anggota DPRD, Dinsos, Dompet Dhuafa, dan termasuk warga sekitar. “Waduh. Meninggal karena kelaparan? Setahu saya sebelumnya ada keluhan di bagian kepala. Karena Yuli mengaku sempat nangis, sakit dan kurang tidur,” katanya.

Ketua RW 07 Lingkungan Lontar Baru, Kecamatan Serang, Asnawi menyatakan, berdasarkan informasi dari tetangga, keluarga dan pihak RT 03 penyebab meninggalnya bukan karena kelaparan. Ia mengungkapkan, dari tiga RT yang ada di lingkungannya ada 150 KK yang masuk penerima JPS. “Bukan kelaparan. Infonya dia kecapean,” katanya.

TOLAK AUTOPSI

Dihubungi terpisah, Jubir Gugus Tugas Covid-19 Kota Serang Hari Pamungkas mengatakan, berdasarkan informasi dari salah satu dokter yang menangani almarhum kondisi status gizi jenazah baik. Tidak ada tanda-tanda kekurangan gizi. “Secara teori manusia dapat bertahan hidup selama tujuh hari tanpa makan dan tiga hari tanpa minum,” katanya.

Kata pria yang menjabat sebagai Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kota Serang itu, kondisi Yuli saat tiba di Puskesmas Singandaru berdasarkan pemeriksaan dokter tidak bernafas, tidak ada denyut nadi dan refleks mata sudah hilang atau meninggal dunia. “Beberapa tindakan medis pun diambil, pompa jantung sampai tiga kali pengulangan namun tidak ada perubahan. Dokter sudah maksimal namun Allah berkehendak lain,” lanjutnya.

Dokter yang menangani almarhumah belum bisa menyimpulkan pasien meninggal dunia disebabkan oleh penyakit tertentu. Alasannya, yang bersangkutan meninggal dalam perjalanan dan di luar sepengetahuan dokter. “Karena keluarga menolak untuk melakukan autopsi maka almarhumah langsung dimakamkan malam harinya,” katanya.

BANTUAN BERDATANGAN

Kini, setelah Yuli tiada, bantuan ke keluarga terus berdatangan dari berbagai kalangan. Pantauan Radar Banten, perhatian meninggalnya Yuli sampai ke Istana Negara. Sore hari, bingkisan dari Sekretariat Kepresidenan Republik Indonesia berada di rumah almarhumah.

Kemudian, beberapa bantuan lainnya dari Kepolisian Polda Banten, Tokoh Masyarakat, Ketua DPRD Kota Serang, PLN Banten dan lembaga-lembaga penyalur bantuan. Kedatangan donatur diterima langsung oleh Kholid dan keluarganya. (fdr/air)