Kiai dan Santri Penjaga Pancasila

0
1.265 views
Presidium FSPP Banten KH Sulaeman Efendi (lima dari kiri), Sekjen FSPP Dr Fadlullah (enam dari kiri), dan pengurus foto bersama setelah menghadiri Forum Diskusi Radar Banten di Graha Pena Radar Banten, Rabu (4/3).

SERANG – Peran kiai dan santri dalam menjaga Pancasila tidaklah diragukan. Mereka berada di garda terdepan dalam menjaga dasar negara itu. Oleh karena itu, pernyataan yang mempertentangkan Pancasila dengan agama tidaklah tepat.

Demikian terungkap dalam Forum Diskusi Radar Banten di studio Banten TV, Rabu (4/3). Diskusi yang bertema ‘Pancasila Perspektif Kiai’ dihadiri puluhan santri dengan narasumber Ketua Presidium Forum Silaturahim Pondok Pesantren (FSPP) Banten KH Sulaeman Efendi, Sekjen FSPP Dr Fadlullah, Wakil Dewan Pertimbangan KH A Matin Djawahir, dan Wakil Sekretaris Dewan Pertimbangan KH Ali Mustofa.

Dalam pemaparannya, Sekretaris FSPP Banten, Fadlullah mengatakan, nilai-nilai Pancasila tidak bertentangan dengan agama. Karena Pancasila merupakan hasil ijtihad tokoh-tokoh Islam.  “Kiai dan santri pelopor Pancasila. Tidak ada Indonesia tanpa kiai. Resolusi jihad itu yang menjaga Indonesia,” ujarnya.

Menurutnya, Pancasila merupakan sebuah nama dan intinya lima dasar. Jika dikaitkan dengan Islam maka raganya Pancasila dan ruhnya adalah Islam. Sehingga, tidak bisa dipertentangkan antara agama dan Pancasila. “Jadi, Pancasila harus menjadi perhatian kita agar Indonesia lebih baik,” terangnya.

Sementara itu, Ketua Presidium FSPP Banten KH Sulaiman Efendi mengatakan, memahami Pancasila harus dimulai dengan proses sejarah lahirnya Pancasila. Para pendiri Bangsa Indonesia terdiri dari masyarakat beragama dan berbudaya. Ada tiga kolompok utama dalam perumusan dan pembahasan Pancasila. “Kiai, nasionalis, dan budayawan. Merekalah yang membahas soal Pancasila,” ujarnya.

Menurutnya, tidak mungkin ada perbedaan antara filosofi Pancasila dengan agama. Lima butir Pancasila merepresentasikan dan tidak bertentangan dengan agama. Pada sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa menegaskan bahwa Indonesia mengakui keberadaan agama. “Jadi agama tidak pernah menghambat pelaksanaan Pancasila,” terangnya.

Pimpinan Pondok Pesantren Manahijussadat Lebak itu mengatakan, ada tiga hal yang harus dilakukan kiai dan santri dalam menjauhkan dari upaya kelompok pemecah belah. Pertama konsolidasi kelembagaan dan perbaikan kurikulum. Kedua, saling membantu antarpesantren, dan ketiga  bisa bekerja sama dengan pemerintah. “Kerja sama dengan pemerintah perlu dilakukan, karena pesantren bagian dari lembaga yang mendidik anak-anak bangsa,” terangnya. Ia menyebut, salah satu program pemerintah yang bekerja sama dengan pesantren adalah bela negara dan santri nusantara.

Wakil Ketua Dewan Pertimbangan FSPP Banten KH A Matin Djawahir menambahkan, pesantren sejak lama meneguhkan dirinya menjunjung tinggi Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. “Pesantren tidak perlu ditanyakan soal Pancasila, karena dalam praktiknya santri lebih Pancasilais karena mereka mendapat pelajaran mengenai Pancasila,” ujarnya.

Kata dia, nilai-nilai Pancasila yang ada di pesantren antara lain gotong royong, saling membantu, dan saling menghargai. “Pancasila itu juga dirumuskan oleh umat Islam, jadi tidak mungkin Pancasila bertentangan dengan agama,” tegasnya lagi.

Sementara Wakil Sekretaris Dewan Pertimbangan FSPP Banten Ali Mustofa menyorot soal sekulerisme di Indonesia yang sudah berjalan lama. Gejalanya dimulai dengan upaya memisahkan antara Islam dan Pancasila. “Piagam Jakarta itu terinspirasi dari Piagam Madinah. Kita sebagai umat Islam tentu harus mampu menafsirkannya. Saya tentu berharap, jangan dijadikan alat pemukul untuk kalangan pondok pesantren,” pungkasnya. (fdr/alt/ags)