Kisah Bulan, Penerima Kursi Roda Presiden Jokowi

Sering Diolok, Dibalas dengan Nasihat

Bulan Karunia Rudianti (8), siswa SDN 88 Pekanbaru menerima kursi roda dari Presiden Joko Widodo diwakili Kadinkes Riau dr Mimi Yulianti, di Pekanbaru, Selasa (20/3).

Surat Bulan Karunia Rudianti akhirnya dibalas Presiden RI Joko Widodo (Jokowi). Murid kelas 3 SD penyandang disabilitas itu mendapat kiriman kursi roda. Kini, Bulan merasa lebih semangat menjalani aktivitas sehari-hari.

AFIAT ANANDA – Pekanbaru

“JANGAN ejek aku! Harusnya kalian bersyukur.” Kalimat tersebut pernah terlontar dari mulut Bulan. Saat itu, dirinya mendapat perilaku buruk dari teman sekelasnya. Ia didorong dari kursi roda yang dipakai. Namun, Bulan tak lantas membalas. Ia justru memberi nasihat kepada teman yang mengejek. Katanya, antara dia dan teman lainnya sama. Tidak ada yang berbeda.

Sepenggal cerita di atas disampaikan ibu Bulan, Purwanti, di rumahnya, Jalan Flamboyan, Kelurahan Delima, Kecamatan Tampan, Pekanbaru, Selasa (20/3). Saat itu Bulan sedang duduk bersebelahan dengan ibunya di sofa ruang tamu. Sekilas tidak terlihat kekurangan yang dimiliki siswi kelas 3 SD itu. Bahkan ia aktif menjawab pertanyaan yang wartawan ajukan.

Putri pasangan Rudi Arifin dan Purwanti itu kemudian bercerita, kenapa ia bisa membuat surat yang ditujukan kepada orang nomor satu di negeri ini. Awalnya, Bulan bersama sang ayah sedang menonton televisi. Dalam sebuah pemberitaan dia melihat Presiden membagikan sepeda. Spontan dia berkeinginan meminta kursi roda kepada Presiden. Karena, dia sendiri sadar tidak bisa bermain sepeda layaknya anak yang normal dengan kedua kaki.

“Karena Bulan selalu menengok Bapak Jokowi bagi sepeda. Bulan ingin sepeda. Tapi, enggak punya kedua kaki. Jadi, Bulan enggak minta sepeda. Bulan mau kursi roda saja,” ucap Bulan bercerita.

Ia kemudian mulai menulis surat. Melalui ponsel pintar miliknya, Bulan memasukkan foto surat tersebut ke akun Instagram @bulankarn. Ia bahkan menandakan akun milik Presiden Jokowi.

Surat itu diunggah pada 16 Maret 2018 lalu. Setelah suratnya viral, Presiden kemudian mengabulkan keinginan Bulan. Kursi roda yang ia impikan diserahkan melalui Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau Mimi Yulianti di SDN 88 Pekanbaru.

“Sebelumnya ada (kursi roda) dari Kak Ruben Onsu. Bulan lebih suka yang diberi Pak Presiden. Nomor dua punya Kak Ruben. Nanti kalau ada yang kasih lagi, Bulan kasihkan ke anak yang memerlukan, kayak Bulan,” ujarnya lirih.

Sebetulnya Bulan pernah meminta kursi roda baru kepada orangtua karena sudah terlihat jelek dan tidak muat. Tapi, sang ayah tidak ingin mengajarkan anaknya boros. Kursi roda lama diperbaiki dan dicat ulang sehingga bisa digunakan lagi. Namun, kian hari kursi roda itu semakin sempit sehingga ia berinisiatif meminta kepada Presiden. Kursi roda baru itu dikatakan Bulan akan digunakan untuk sekolah. Bermain bersama teman serta menunjang aktivitas lain.

“Bisa main raket. Bisa pergi jajan. Bisa main sama kawan kawan,” cetusnya.

Soal hobi, siswi peraih juara di kelasnya itu sangat suka melukis. Bahkan setelah tamat SMA nanti, dia ingin kuliah di jurusan seni. Selain melukis, Bulan juga berkeinginan menjadi model. Hal itu terlihat dari beberapa postingan di akun Instagram miliknya. Ia bertekad, suatu hari nanti akan bisa menjadi pelukis dan juga model.

Soal hobi Bulan, Purwanti bercerita hampir setiap hari anaknya itu melukis apa saja yang diinginkan. Bahkan teman satu sekolah sering minta dibuatkan lukisan. Oleh Bulan, lukisan hitam putih yang ia buat dijual dengan harga Rp2 ribu. Sedangkan untuk lukisan warna dihargai Rp3 ribu.

Ia sempat melarang Bulan menjual. Tapi karena terlalu banyak permintaan, sang anak berinisiatif menjualnya. “Saya bilang enggak usah pungut biaya kalau teman minta lukiskan. Dia bilang, capek Ma. Karena banyak. Bahkan sampai antre. Tapi, uangnya dipakai buat traktir temannya juga,” ucap Purwanti.

Bakat melukis Bulan, lanjut dia terlihat sejak balita. Berawal dari mencoret kertas, Bulan kemudian belajar menulis secara autodidak. Bahkan kemampuan menulisnya pada saat kelas 1 SD jauh dibandingkan teman lainnya. Sehingga, Bulan hanya perlu enam bulan untuk naik ke kelas 2.

“Umur dua tahun sudah pandai coret-coret. Gambar komik Sinchan dan Doraemon. Belajar sendiri,” sebut Purwanti.

Soal aktivitas Bulan di dunia maya, Purwanti mengaku selalu mengawasi dan membatasi. Telepon pintar yang digunakan bukanlah milik Bulan. Melainkan untuk calon pegawai sang ayah. Karena beberapa waktu lalu, sempat berencana membuat kantor sendiri.

“Ayah Bulan sempat bekerja di BUMN. Kemudian berhenti karena ada pengurangan tenaga. Sempat buka usaha biro travel juga. Dua tahun jalan, tapi tutup,” tambahnya.

TERTUNDA MASUK SEKOLAH

Perjuangan Bulan duduk di bangku SD ternyata tidak mudah. Bahkan sempat tertunda selama dua tahun. Ketika itu, Bulan yang sangat ingin sekolah meminta kedua orangtuanya untuk mendaftarkan dirinya. Namun, tidak satu sekolah pun yang mau menerima. Suatu hari, pernah ibu Bulan meminta bantuan salah satu sekolah negeri.

“Untuk pertama kali kami daftar ke sekolah kami terangkan kekurangan Bulan. Saya jelaskan anak saya punya cacat fisik. Buat IQ, ibu (kepala sekolah-red) bisa tes dia,” kata Purwanti.

Namun, kepala sekolah yang tidak dia sebutkan namanya itu langsung terlihat seperti menolak. Alasannya, sang kepala sekolah harus menanyakan terlebih dahulu kepada guru yang mengajar. Apakah mau menerima Bulan.

Singkat cerita, akhirnya Bulan tidak diterima di sekolah tersebut. Ia sempat putus asa. Meski Bulan terus meminta agar disekolahkan, Purwanti tetap meminta agar anaknya bersabar. Selain sekolah negeri, ia sempat disarankan agar memasukan Bulan ke sekolah luar biasa (SLB). Saran itu dia terima. Bulan sempat sekolah beberapa hari di SLB. Baru satu hari sekolah, Bulan mendapat perlakuan buruk dari teman yang mengalami gangguan mental. Akhirnya ia langsung menarik anaknya dari SLB tersebut.

Oleh saudara lain ia ditawarkan masuk ke SDN 88 Pekanbaru. Hingga akhirnya ia bersekolah di sana. Selama sekolah Bulan pernah mendapat ranking I di kelasnya.

“Kelas 1 juara I. Kelas 2 sampai 3 juara II. Setiap naik kelas Bulan cuma perlu waktu enam bulan,” paparnya.

Sementara itu, Juru Bicara Presiden, Johan Budi Sapto Prabowo mengatakan, keinginan Bulan sudah dipenuhi Presiden Jokowi. Dijelaskan Johan, informasi permintaan kursi roda dari siswi kelas 3 SD yang diunggah di media sosial diterima Jokowi sekira dua hari lalu melalui sekretaris pribadinya. Presiden menugaskan sespri bersama pihak Kementerian Kesehatan untuk datang ke Pekanbaru.

“Ada tim yang datang ke sana, perintah Presiden melalui Bu Menkes dan sespri. Dan, sudah dapat konfirmasi termasuk bertemu keluarga ananda Bulan mengenai apa yang diinginkan melalui surat atau tulisan tangan yang disampaikan kepada Presiden,” kata Johan ditemui di Istana Negara, Selasa (20/3).

Tim tersebut kemudian bergerak pada Senin (19/3). Berdasarkan informasi terakhir yang diterima Johan, kursi roda tersebut telah diterima Bulan. Dia pun berharap hadiah itu bisa bermanfaat bagi putri Wanti Pruwanti itu.

Alhamdulillah kursi rodanya sudah diterima ananda Bulan, semoga kursi roda itu bisa membantu aktivitas ananda Bulan,” tambah Johan. (JPG)