Kisah Buruh Tani Perempuan di Pamarayan, Ikhlas Dapat Upah Kecil

0
1.208 views
Sejumlah buruh tani perempuan sedang memanen padi di Kecamatan Pamarayan, Kabupaten Serang.

SERANG –  Sekelompok buruh tani perempuan biasa mengumpulkan gabah dengan alat bernama thresher. Thresher ini adalah mesin yang berfungsi memisahkan gabah dari tangkai padi. Cara kerja thresher itu berputar-putar seperti alat bubut. Secara bersama-sama mereka mengerjakannya.

Mereka bekerja menjadi buruh tani demi mendapatkan beras dan sedikit uang, seperti yang dilakukan Sarini (45), buruh tani di Kecamatan Pamarayan, Kabupaten Serang, ia mengaku pekerjaannya ini adalah satu-satunya yang ia bisa lakukan di tempat tinggalnya.

“Mau bagaimana lagi, di sini enggak ada pekerjaan lain. Kalau di rumah terus nanti enggak makan,” ujarnya pada Radar Banten Online di area persawahan Kecamatan Pamarayan, Kabupaten Serang, Rabu (19/7).

Ibu paruh baya yang ditinggal pergi suaminya ini, memilih bertahan sebagai buruh tani meskipun upah yang ia dapat tak seberapa.

“Suami saya mah enggak tahu pergi kemana, udah kaya Bang Toyib saja enggak ada kabar,” ketus Sarini.

Gabah-gabah yang mereka peroleh pun akan dibagi dengan anggota kelompoknya yang berjumlah 11 orang, terdiri dari 10 buruh tani perempuan dan satu buruh tani laki-laki.

Sarini mengungkapkan, biasanya dalam satu hari satu orang mendapat sekitar empat sampai lima ember gabah.

“Tergantung seberapa banyak padi yang kami thresher ini,” ucapnya.

Dalam setahun di Kecamatan Pamarayan, musim panen terjadi dua atau tiga kali. Mengingat, kata dia, pertanian di sana masih mengandalkan kondisi cuaca sepenuhnya.

Tak hanya musim panen, ujar Sarini, dari awal bercocok tanam sampai panen mereka biasa mengerjakannya. “Kaya ngerabut (merabut tanaman liar), ngoyos (menyiangi rumput) juga kami biasanya diupah sama pemilik sawahnya, itu setengah hari Rp 20 ribu,” terangnya.

Buruh tani perempuan lainnya, Marsinah (47) mengaku terpaksa menjadi buruh tani, karena kata dia, apabila tidak ikut bekerja di sawah, ia tidak mendapat penghasilan apa-apa.

“Kami mah cuma buruh, enggak punya sawah, pengin punya beras ya harus ikut membantu pemilik sawah ini,” jelasnya.

Apabila sudah selesai memanen, kata Marsinah, kelompoknya akan pindah ke tempat atau sawah lain yang akan dipanen begitu seterusnya.

“Kami kaya gini juga demi anak cucu di rumah, pengin punya beras biar bisa makan,” ucapnya.

Sementara itu, Syahrini (26) mengaku ikut dengan para buruh tani perempuan karena di rumah tidak ada yang dikerjakan.

“Anak saya sekolah kalau pagi sampai siang. Jadi saya ikut saja sama mereka biar punya beras juga daripada di rumah enggak ngapa-ngapain,” ujarnya.

Namun Syahrini cukup beruntung karena masih memiliki suami yang menafkahi, daripada Sarini perempuan yang ditinggal pergi sang suami tanpa alasan apa pun, dan Marsinah janda tua yang harus bekerja sendiri. (Anton Sutompul/antonsutompul1504@gmail.com).