Kisah Getir Kampung Terisolir, 100 Persen Warga Memilih Berobat ke Dukun

Suasana di Kampung Wangun Pakis, kampung yang terisolasi di Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang.

SERANG – Selain Desa Cikedung, Mancak, Kabupaten Serang, kehidupan getir warga terisolasi juga dialami warga Kampung Wangun Pakis dan Kampung Wangun Tarikolot. Lokasi kedua kampung itu berada di puncak Gunung Cikawah, Desa Batukuwung, Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang. Bahkan, di sana jaringan seluler pun mati alias blank spot area.

Sedikitnya 115 kepala keluarga (KK) dengan 500 jiwa bermukim di dua kampung itu. Sebarannya, 35 KK di Kampung Wangun Pakis dan 80 KK di Kampung Wangun Tarikolot. Kebanyakan mereka menggantungkan hidup dari hasil bumi sebagai petani baik kebun dan sawah. Sudah pasti berpenghasilan minim, juga tak menentu. Kadang seminggu sekali, hasil panen meliputi gabah, singkong, melinjo, dan pisang  dijual ke pasar terdekat yakni Pasar Padarincang. Jaraknya sekira empat kilometer (km) dari kampung. Setelah dikurangi ongkos ojek, paling-paling dapatnya Rp100 ribu. Malah, bisa kurang dari Rp100 ribu.

Sarana transportasi di sana terbatas. Warga hanya bisa memanfaatkan jasa ojek dengan merogoh kocek lebih dalam. Sekali jalan -pulang dan pergi- warga harus mengeluarkan uang Rp30 ribu. Nilai segitu untuk seukuran warga di sana tergolong besar. Bisa untuk makan sekeluarga. Jasa ojek juga hanya beroperasi ketika kondisi jalan kering. Jika turun hujan, mereka tak mau ambil risiko. Kalau sudah begini, warga terpaksa berjalan kaki. Jarak yang ditempuh lumayan jauh. Bisa menghabiskan waktu satu jam. Meski kampung sudah teraliri listrik, warga lebih banyak menumpang secara paralel ke rumah warga lain yang berlistrik.

Sebagian besar, kondisi rumah di sana seperti berada di permukiman kumuh. Rumah yang terbuat dari bilik bambu berderet selang-seling dengan rumah permanen yang lapisan temboknya mengelupas dan tak terawat. Umumnya, material bangunan dibuat sendiri oleh warga dengan memanfaatkan tanah merah yang dibakar. Begitu pula dengan kayu, mereka cukup menebang pohon yang tumbuh di daerah sekitar.

Persoalan memilukan di sana, sangat minim fasilitas umum. Terutama menyangkut fasilitas pendidikan dan kesehatan. Lokasi kampung termasuk daerah sulit dijangkau kendaraan. Itu karena buruknya infrastruktur jalan. Kondisi itu, membuat anak-anak sulit sekolah. Juga menyulitkan warga yang ingin berobat. Pendek kata, semua aktivitas warga jadi terkendala. Ironis memang. Apalagi jika melihat jarak antara kampung dengan Serang, ibukota Provinsi Banten tidak begitu jauh. Cuma 27 kilometer.

Akses yang bisa dilewati kendaraan menuju kedua kampung hanya dua kilometer dengan lebar dua meter. Itu juga hasil pembangunan dari program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) dengan konstruksi rabat beton pada 2014. Sementara satu kilometer berikutnya menuju kampung, akan dijumpai medan jalan yang ekstrem. Jalan rusak parah dan licin, hanya beralaskan kerikil bercampur tanah merah. Kondisi diperparah dengan jalan berliku dan tanjakan terjal. Sebagian jalan sudah ada perbaikan berupa pengerasan hasil sumbangan tokoh masyarakat setempat.

Menelusuri dua kampung tersebut, wartawan diantar anggota Babinsa Koramil Padarincang Serda Denny Rahmatullah. Kami berangkat Sabtu (20/8) lalu, sekira pukul 11.00 WIB. Kenapa harus ‘dikawal’? Karena sebagian besar warga tidak begitu saja percaya dengan kehadiran orang asing. Apalagi saat siang hari, kebanyakan yang tinggal di rumah adalah kaum wanita dan anak-anak. Beberapa di antaranya adalah kaum lansia. Kebanyakan kaum pria, sejak pagi hingga sore hari bekerja di ladang.

Perjalanan dari jalur utama, yakni Jalan Palima-Cinangka menuju kampung menghabiskan waktu sekira setengah jam dengan melintasi beberapa kampung, termasuk Kampung Rakyat Wangun Cipurut (Karawaci), serta hutan dan persawahan. Setibanya di Kampung Wangun Pakis, rasa waswas usai melewati perjalanan menantang mulai terkikis. Udara sejuk karena rimbunnya pepohonan di balik rumah warga dan suasana tenang di kampung jauh dari hiruk pikuk kota cukup memanjakan tubuh yang tadinya terasa linu.

Turun dari motor, beberapa perempuan paruh baya berpakaian lusuh memberikan tatapan tajam. Terbetik rasa curiga di binar mata mereka. Sementara anak-anak, sebagian tanpa busana asyik bermain-main tanah di halaman rumah. Setelah kami sapa, tatapan curiga berubah menjadi senyum ramah. Meski sebagian di antaranya masih bertanya-tanya. “Ada apa nih, Pak?” tanya salah seorang ibu-ibu tua kepada Serda Denny di depan teras rumah. Setelah dijelaskan, warga berkumpul di sebuah saung dan mulailah terjadi perbincangan. Warga pun mulai menceritakan kondisi kampung yang menurut mereka sangat memerlukan perhatian pemerintah.

Berdasarkan penuturan warga, kampung mereka jarang terjamah tenaga medis atau bahkan sekadar kegiatan posyandu. Kondisi itu, memaksa warga berobat kepada dukun beranak. Bahkan, diakui warga, di Kampung Pakis tidak ada satu pun anak mereka yang mendapatkan pelayanan imunisasi. “Baguslah, jadi anak kita enggak kena vaksin palsu,” celoteh salah seorang warga sambil menggendong anak diiringi tawa lepas warga yang berkumpul di saung.

Rumi, salah satu warga Kampung Wangun Pakis membenarkan, kampungnya jauh dari fasilitas umum. Tak ada satu pun fasilitas pendidikan dan kesehatan di sana. Untuk sekolah, anak-anak harus turun ke Kampung Wangun Cipurut. Mereka jalan kaki menempuh jarak sekira satu kilometer melewati jalan rusak. “Di sini mau kemana-mana susah. Ke pasar saja harus mengojek Rp30 ribu bolak-balik,” keluhnya.

Mendengar cerita Rumi, Babinsa Serda Denny Rahmatullah mengaku ikut prihatin. Diakui Denny, Kampung Wangun Pakis dan Kampung Wangun Tarikolot merupakan paling ujung di Kecamatan Padarincang. “Tahun 2014, kami dari TNI sudah bantu warga membangun jalan dari program TMMD sepanjang dua kilometer. Tinggal satu kilometer lagi. Katanya mau dilanjutkan pemda,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Desa Batukuwung, Nova Maulana tidak memungkiri,  kampungnya sangat miskin. Untuk fasilitas pendidikan, baru ada SD dan SMP satu atap (satap) yang jaraknya cukup jauh dari jangkauan kedua kampung. Nova mengakui, akses jalan yang buruk menyulitkan warga beraktivitas. Termasuk berobat ke puskesmas, sehingga warga beralih dengan berobat ke dukun. Padahal, pihaknya sudah memberi kemudahan warga dengan membuatkan surat keterangan tidak mampu (SKTM). “Sebetulnya sudah ada kader. Tapi, memang warga di kampung susah, lebih percaya dukun,” terangnya.

Nova mengakui, akses jalan kerap menjadi keluhan warga. Katanya, luas wilayah Desa Batukuwung mencapai 1.200 hektare dengan jumlah penduduk mencapai 13 ribu jiwa. Sementara Kampung Wangun Pakis dan Kampung Wangun Tarikolot, hanya seluas tiga hektare berbatasan dengan Desa Citasuk, Desa Kadukempong, dan Curuggoong, Kecamatan Padarincang.

Berdasarkan data Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) 2016, ‎selain Desa Batu Kuwung, ada 26 desa/kelurahan termiskin di Provinsi Banten yang tersebar di delapan kabupaten/kota.

Dari ‎1.542 desa/kelurahan di Provinsi Banten, TNP2K menetapkan 27 desa/kelurahan daerah tertinggal dan paling miskin dibanding desa/kelurahan lain dengan jumlah 28.802 kepala keluarga (KK) atau sekira 119.791 jiwa.‎ Khusus di Kabupaten Serang, ada empat desa yang masuk kategori tertinggal dan termiskin yaitu Desa Batukuwung, Kecamatan Padarincang; Desa Citasuk, Kecamatan Padarincang; Desa Umbultanjung, Kecamatan Cinangka; dan Desa Sukasari, Kecamatan Tunjung Teja.

Mengacu pada data TNP2K yang kemudian dirilis Bappeda Banten, di Desa Batukuwung terdapat 7.602 jiwa penduduk dengan ‎jumlah rumah tangga (RT) sebanyak 1.740. Lebih dari 40 persen dari jumlah RT masuk dalam rumah tangga miskin (RTM) dan 116 KK tercatat kepala rumah tangganya adalah perempuan.

Sementara anak usia sekolah yang tidak bersekolah di Desa Batukuwung‎ sebanyak 274 anak, dan 480 KK tidak memiliki MCK. Kemudian 22 warga Desa Batukuwung dalam kondisi cacat dan 5 warga mempunyai penyakit kronis.‎ Sementara warga yang menganggur sebanyak 2.076 orang dan warga yang bekerja di sektor pertanian 442 KK.‎ Data TNP2K juga menyebutkan, 339 KK kesulitan mendapatkan air bersih.

Berdasarkan data dari Bappeda Provinsi Banten, angka kemiskinan di Banten saat ini mencapai 9,55 persen‎ dari total sekira 11 juta jiwa warga Banten. Pemprov Banten tahun ini mulai fokus mengentaskan kemiskinan di 27 desa/kelurahan termiskin yang masuk daftar TNP2K. “Akhir tahun ini, Pemprov Banten melibatkan 24 SKPD terkait bekerjasama dengan kabupaten/kota akan memvalidasi ulang data warga miskin di 27 desa/kelurahan se-Banten. Tahun depan mulai dijalankan program pemberdayaan masyarakat miskin termasuk di Desa Batukuwung Kecamatan Padarincang,” kata Hudaya Latuconsina, Kepala Bappeda Banten beberapa waktu lalu. (Nizar S-Deni S/Radar Banten)