Kisah Guru Madrasah Hidayatusiniyah, 50 Tahun Mengabdi Rela Tidak Digaji

0
1.163 views
MENGAJAR: Ahmad Afifi, guru Madrasah Hidayatusiniyah, saat mengajarkan tafsir dari ayat Alquran di hadapan santri santrinya di kediamannya, Senin (3/7). FOTO: HERMAN/RADAR BANTEN

Ikhlas mengabdi rela tidak digaji. Tak hanya setahun dua tahun, melainkan 50 tahun bekerja sebagai guru madrasah Hidayatusiniyah, Kabupaten Pandeglang.

HERMAN SAPUTRA – Pandeglang

KONDISI itu dialami Ahmad Afifi bersama istrinya Eneng Suhaeti asal Kampung Cicadas, Kelurahan Pandeglang, Kabupaten Pandeglang. Sejak 1967 sampai sekarang, dirinya mengajar dengan berbagi ilmu pengetahuan tentang Islam tanpa pamrih berupa gaji.

Pasangan suami istri ini meski tidak digaji, tetap melakukan pengabdiannya. Cara memenuhi kebutuhan hidup, mereka peroleh dari hasil berkebun guna memenuhi sandang, papan, dan pangan lima anaknya.

Tidak mudah menemui kediaman Afifi. Karena rumahnya agak jauh, yakni sekira tiga kilometer dari wilayah perkotaan Pandeglang. Senin (3/7), Radar Banten berhasil menemui Afifi di kediamannya. Pria lulusan sekolah rakyat (SR) ini mempersilakan duduk sembari menawarkan segelas air putih.

Afifi menceritakan, ilmu agama yang diajarkannya di madrasah didapat saat dirinya menimba ilmu di pesantren dan sejumlah ulama. “Saya punya ijazah SR, tapi dilanjutkan sekolahnya oleh orang lain. Tapi, ketika itu saya masih bersyukur bisa menimba ilmu di pesantren, di sejumlah tempat selama belasan tahun,” ujar lelaki beranak lima ini.

Berbekal ilmu dari pesantren ini, ia terdorong untuk membuat madrasah. Keinginannya itu direspons baik warga sekitar. Meski tak ada modal, ia mampu menggerakkan masyarakat sekitar untuk membangun dua lokal ruang kelas secara swadaya. Murid angkatan pertama ketika itu sebanyak 50 orang.

Gedung yang dibangun puluhan tahun lalu ini pada 2016 sempat nyaris ambruk, seperti tembok retak-retak dan sebagian genting mengalami ambrol. Kemudian, sebanyak 70 muridnya ketika itu dialihkan sementara di kediamannya. Dengan menggunakan sekat dari tripleks seadanya, kegiatan belajar mengajar mampu tetap dilaksanakan. “Walaupun perhatian dari pemerintah tidak ada, saya bersyukur warga setempat masih mau membangun kembali dua lokal gedung madrasah ini secara swadaya. Alhamdulillah, sekarang sudah bisa digunakan kembali untuk mengajar,” katanya.

Afifi berharap, pemerintah mau memperhatikan sekolah budi pekerti ini secara maksimal lantaran ilmu yang diterapkan kepada penerus bangsa tidak lain soal keagamaan. Tentunya secara sederhana menerapkan perilaku yang baik sesama umat dan bangsa. “Serta, memberikan pembelajaran soal kesehatan dan kebersihan sebagian dari upaya penguatan keimanan,” katanya.

Pengabdian Afifi bersama istrinya kini diturunkan kepada anak-anaknya, yang saat ini meneruskan mengajar di Madrasah Hidayatusiniyah. Agar pendidikan budi pekerti tetap dikembangkan di lingkungan masyarakat, yang dilakukan di luar pendidikan formal seperti SD, SMP, dan SMA.

Sebab, pendidikan madrasah ini dilakukan pada sore hari sebagai upaya mengisi waktu kosong anak-anak muda setelah belajar di sekolah negeri dan sekolah swasta yang formal. Tujuannya agar tidak terlalu terbawa pergaulan budaya luar yang merugikan diri sendiri khususnya kawula muda.

Ditanya soal bagaimana ia bersama istrinya bisa melakukan pengabdian selama puluhan tahun dan tidak digaji, ia tersenyum dan menjawab singkat. “Biar gajinya di sana (akhirat-red) saja, setelah adanya kehidupan setelah jasad mati,” ungkapnya. (*)