SERANG – Senin dini hari sekira pukul satu malam, menjadi malam yang tidak terbayangkan oleh Hanto (30) beserta istri dan kedua anaknya. Hujan lebat disertai angin kencang yang terus turun dari pukul 10 malam, ternyata berujung pada cerita mencekam yang akan mereka ingat sepanjang masa.

Bukan hanya Hanto dan keluarga kecilnya saja, hal tersebut pun sama dirasakan oleh warga Kampung Kelomberan, Desa Cikedung, Kecamatan Mancak, Kabupaten Serang. Suara bergemuruh yang mereka dengar pada malam itu, adalah suara material longsor yang turun dari Gunung Seriang di ujung kampung.

“Suaranya seperti suara mobil, saya, istri, dan anak saya bangun dan langsung keluar, ternyata warga yang lain pun sudah belarian keluar. Kami semua kumpul di masjid untuk mencari keamanan,” cerita Hanto sembari melipat terpal di depan sisa rumahnya yang masih utuh, Kamis (28/7).

Rumah Hanto sendiri tepat di samping Masjid. Karena itu, saat material longsor yang terdiri dari tanah, pasir, batu, pepohonan menerjang dan menghancurkan rumahnya, Hanto hanya bisa melihat.

“Di belakang rumah adik saya, rata semua, rumah saya hancur kedorong rumah yang di belakang. Rumah saya hancur separuh, tapi gak bisa diisi, kedorong rumah belakang,” ujarnya.

Hanto yang sehari-harinya adalah  petani hanya bisa diam, menerima ikhlas. Soal bagaimana mengganti rumah, Hanto tidak bisa menjawab.

Kepada Radar Banten Online, Hanto mengatakan penghasilan Hanto dari tani tidak menentu, setiap panen, dalam kurun waktu empat bulan, maksimal padi dengan kualitas baik yang bisa dia jual hanya satu ton. “Saga gak tau kalau diuangin itu berapa kerugiannya,” katanya.

Hanto sangat berharap  pemerintah bisa membantu dirinya dan warga lainnya yang rumahnya hancur akibat diterjang longsor. “Sekarang istri dan anak numpang di rumah ibu di Kampung Lande. Kalau pemerintah mau bantu, saya ngarep itu,” ujarnya.

Ada lima kampung lain bernasib sama seperti kampung Kelomberan di desa tersebut, kampung tersebut diantaranya, Kampung Juntari, Kampung Babakan, Kampung baru, Kampung pasir Menteng, dan Kampung Mulyasari.

Menurut keterangan Carik atau Sekretaris Desa Cikedung, Saniran, sementara sekitar 19 rumah di desa tersebut yang hancur. Dari enam kampung sendiri, yang mengalami kerusakan parah sekitar empat kampung, yaitu Kelomberan, Babakan, Pasir Menteng, Mulyasari.

“Kalau dibantu memperbaiki rumah sangat kami harapkan, tapi Pernah tahun 2013 kena puting beliung rumah hancur, bantuan dari  pemerintah untuk  gak ada, padahal waktu itu suruh buat profosal oleh camat, saya buat, tapi gak ada, saya total biaya sendiri, saya gadein SK saya,” ujarnya.

Menurut Saniran, ada hal lain yang penting juga dan perlu mendapatkan penanganan segera, yaitu mengkeruk lumput dan material longsor lain di jalan agar akses masyarakat bisa kembali mudah. (Bayu Mulyana)