Kisah Hayati, Anak dengan Gizi Buruk di Citangkil

Didiagnosis Mag, Kini Tinggal Tulang dan Kulit

Plt Walikota Cilegon Edi Ariadi (tengah) menjenguk Hayati yang didiagnosis menderita gizi buruk di RSUD Cilegon, kemarin.

Usia Hayati sepuluh tahun. Namun, saat ini kondisi warga Lingkungan Jerenong, Kelurahan Lebakdenok, Kecamatan Citangkil, tersebut memprihatinkan.

BAYU MULYANA – CILEGON

Hayati terkapar lunglai di atas kasur perawatan ruang ICU RSUD Kota Cilegon. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut Hayati meski Plt Walikota Cilegon Edi Ariadi saat itu mengajak komunikasi dengan anak perempuan yang masih mengenyam bangku sekolah dasar itu.

Mata Hayati terbuka lebar, bola matanya tampak melotot, efek dari cekungan di area mata. Gigi Hayati pun tampak keluar, berbanding terbalik dengan pipinya yang menjorok ke dalam. Tangan dan kaki hayati sangat kurus hingga lekukan tulang yang diselimuti kulit tampak terlihat dengan kasatmata.

Hayati sadarkan diri, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Hal itu karena kondisi kesehatan tubuhnya yang sangat memprihatinkan. Menurut pihak RSUD Kota Cilegon, Hayati mengalami gizi buruk. Namun, pihak rumah sakit tidak bisa menjelaskan apa penyebabnya hingga Hayati mengalami kondisi itu.

Dua bulan sebelumnya kondisi Hayati tampak normal seperti anak pada umumnya. Hayati beraktivitas, ke sekolah, bermain, dan membantu sang nenek, Maesarah. Hingga suatu waktu, Hayati pulang sekolah lebih cepat dari biasanya. “Nong apenane sekolahne durung wayah, balik. Bu muntah-muntah sekolahne mubeng,” tutur Maesarah menceritakan kondisi Hayati saat mulai terserang penyakit.

Ucapan Maesarah dalam bahasa Jawa itu kurang lebih menjelaskan tentang kondisi di mana saat itu Hayati pulang sekolah lebih cepat karena muntah-muntah dan merasa sakit di bagian kepala. Mulai saat itulah, kondisi kesehatan Hayati terus menurun dan parah hingga saat ini.

Maesarah bercerita, Hayati sudah dibawa berobat ke salah satu klinik terdekat dari tempat tinggalnya. Saat itu Hayati didagnosis sakit mag. Hayati pun diberikan sejumlah obat sesuai dengan diagnosis penyakit yang dideritanya.

Bukan membaik, kondisi Hayati semakin hari semakin buruk. Dari meriang, hingga tidak nafsu makan. Setiap makanan yang dikonsumsi Hayati kerap dimuntahkan kembali. Kondisi itu terjadi hingga lebih dari satu bulan.

Kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan membuat Hayati tidak dibawa ke rumah sakit. Diperparah Hayati juga tidak terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan sehingga membuat keluarga dan ayah Hayati yang bekerja serabutan takut membawa Hayati ke rumah sakit.

Harapan Hayati bisa sembuh dengan perawatan seadanya di rumah rupanya tidak menjadi kenyataan. Kondisi kesehatan Hayati semakin memburuk. Menurut Maesarah, sebelum sakit, tubuh Hayati cukup berisi, tidak kurus. Namun, sejak sakit semakin hari tubuhnya semakin kurus hingga seperti saat ini. Sangat parah seperti hanya menyisakan tulang dan kulit, tanpa daging sedikit pun.

Hayati yang sudah ditinggal ibunya sejak kecil hanya bisa berbaring. Bersama nenek dan ayahnya, doa agar ada orang atau pihak yang mau membantu datang dan mau membawanya ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan senantiasa dipanjatkan.

Harapan itu terwujud pada akhir Juni lalu. Sekelompok relawan membawanya ke rumah sakit. Oleh sekelompok relawan itu juga, kondisi Hayati tersebar ke publik hingga akhirnya sampai ke Pemerintah Kota Cilegon.

Mengetahui salah seorang warganya mengalami penyakit itu, Plt Walikota Cilegon Edi Ariadi kemarin datang ke RSUD Kota Cilegon untuk melihat secara langsung kondisi Hayati. “Saya ingin tahu bagaimana keadaannya, seperti apa,” tutur Edi kepada wartawan di ruang ICU RSUD Kota Cilegon.

Menurut Edi, Hayati akan menjalani proses pengobatan hingga benar-benar dinyatakan sembuh oleh dokter. Menurutnya, sebelum benar-benar sembuh, Hayati akan tetap mendapatkan perawatan yang maksimal dari RSUD Kota Cilegon.

Hal yang menimpa Hayati diakui Edi menjadi pelajaran bagi Pemkot Cilegon. Oleh karena itu, Edi mengaku telah memerintahkan aparatur pemerintah hingga tingkat kecamatan untuk menyisir warga untuk memastikan tidak ada lagi yang bernasib sama dengan Hayati. “Kalau ada data dan bawa ke rumah sakit, sudah saya intruksikan itu,” ujar Edi.

Edi mengaku sudah meminta kepada pihak rumah sakit untuk memberikan pelayanan maksimal kepada Hayati. Hayati tidak diperkenankan keluar dari ruang ICU hingga kondisinya lebih membaik. “Sekarang juga sudah agak baikan dari sebelumnya, tapi jangan dulu dipindahin ke ruang perawatan kalau sebelum baik,” kata Edi.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Kota Cilegon Abadiah menjelaskan, Dinsos memerlukan peran serta seluruh pihak untuk mengatasi persoalan-persoalan sosial seperti yang dialami oleh Hayati. Menurutnya, Dinsos membutuhkan bantuan itu, paling tidak dalam hal informasi. “Karena bagaimana pun kami memiliki keterbatasan,” ujar Abadiah.

Jika Dinsos sudah menerima laporan, menurut Abadiah, Dinsos akan langsung menyikapi persoalan itu hingga selesai. “Bantuan yang kita berikan saat ini dengan menyerahkan kepesertaan di BPJS Kesehatan dan uang tunai untuk keperluan Hayati dan keluarga,” ujar Abadiah.

Menurut Abadiah, Dinsos pun akan mengawal proses pengobatan Hayati di RSUD Cilegon hingga tuntas sehingga Hayati bisa kembali sehat dan beraktivitas seperti biasa. “Kami tidak lupa berterima kasih kepada relawan dan pihak lain yang sudah mau membantu Hayati dan keluarga,” ujarnya.

Direktur RSUD Kota Cilegon Zaenoel Arifin menuturkan, penyakit gizi buruk merupakan diagnosis sementara dari pihak rumah sakit. Menurutnya, rumah sakit terus berupaya memastikan penyebab memburuknya kondisi kesehatan Hayati.

Untuk mengembalikan kondisi kesehatan Hayati, pihak rumah sakit sudah melakukan sejumlah hal tindakan medis, salah satunya dengan melakukan infus agar tubuh Hayati menerima asupan gizi. “Semua tindakan medis yang diperlukan kita lakukan. Hayati akan mendapatkan pelayanan baik hingga sembuh nanti,” ujarnya. (*)