Kisah Korban Banjir Bandang dan Longsor di Lebak

0
628 views
Mini (kiri) menggendong anaknya di lokasi pengungsian di gedung PGRI Kecamatan Sajira, kemarin.

Terjebak 4 Jam, Kehilangan Harta dan Tinggal di Pengungsian

Banjir bandang dan longsor yang menerjang lima kecamatan di Lebak mengakibatkan luka mendalam bagi korban. Mereka kehilangan harta benda dan kini tinggal di pengungsian.

MASTUR – LEBAK

Pada awal Tahun Baru 2020, air bah menerjang wilayah Lebakgedong, Cipanas, Sajira, Cimarga, dan Curugbitung. Rabu (1/1) pagi sekira pukul 6.00 WIB, air mulai naik ke areal pesawahan di bantaran Sungai Ciberang. Menjelang siang hari, air terus naik dan meluluhlantakkan bangunan rumah dan jembatan di sepanjang daerah aliran sungai tersebut. Bahkan, beberapa mobil dan rumah terbawa arus sungai. Pohon kelapa, albasia, dan sampah dari hulu memenuhi aliran Sungai Ciberang.

Di Desa Haurgajrug, Kecamatan Cipanas, air menutupi Jalan Cipanas-Muncang. Kondisi tersebut membuat akses transportasi di dua wilayah terputus. Bahkan, ratusan santri di Pondok Pesantren Arroudhotul Bakiyah terjebak di dalam pesantren hingga beberapa jam. Sekira pukul 11.00 WIB saat air sungai mulai surut, para santri dievakuasi ke daerah yang lebih tinggi. Mereka kemudian diungsikan tim search and rescue ke posko pengungsian.

Tidak hanya itu, suasana mencekam juga dialami tiga warga Haurgajrug yang terjebak banjir selama empat jam. Mereka adalah Sangsang, Haer, dan Andri yang tidak bisa bergerak ke mana-mana karena lokasi tempatnya berdiri, di tengah areal pesawahan dan makam keramat, dikelilingi banjir.

Anggota TNI dan BPBD baru berhasil menyelamatkan tiga orang tersebut sekira pukul 12.00 WIB. Dalam kondisi lemas, mereka dibawa kerabatnya dan mendapatkan pelayanan medis dari tenaga kesehatan yang telah disiagakan.

Halimah, santri Ponpes Arroudhotul Bakiyah di Kampung Nunggul, Kecamatan Cipanas, menyatakan, luapan air Sungai Ciberang membuat dirinya dan santri lain ketakutan. Awalnya air hanya masuk ke pekarangan kobong. Tapi, lama kelamaan air menggenangi kobong sehingga dirinya bersama santri lain berupaya menyelamatkan diri dengan naik ke lantai dua.

“Saya dan santri yang lain ketakutan karena kondisi air cukup besar dan merobohkan banyak bangunan rumah serta pesantren,” kata Halimah kepada wartawan, kemarin.

Ketika terjebak di tengah banjir, dia dan para santri yang lain hanya berdoa agar diberikan keselamatan. Beruntung, bangunan pesantren yang ditempati kokoh dan tidak terbawa hanyut air banjir. Walaupun banyak santri yang histeris, tetapi sebagian yang lain berupaya menenangkan agar tidak terjadi kepanikan dan kegaduhan.

“Saya dan yang lain tentu panik. Tapi, santri lain berupaya menenangkan dan mereka meminta kami berdoa agar tetap diberikan keselamatan,” tegasnya.

Seetelah lebih dari tiga jam terjebak, banjir mulai surut dan anggota TNI bersama BPBD dan masyarakat melakukan evakuasi. Para santri dibawa ke dataran yang lebih tinggi untuk diungsikan di Masjid Jami Haurgajrung dan SMA Cipanas.

“Kalau kitab-kitab banyak yang tidak terselamatkan. Tapi, ada sebagian pakaian santri yang berhasil kami selamatkan,” ungkapnya.

Mini, warga Nangela, Desa Calungbungur, Kecamatan Sajira, menceritakan situasi mencekam saat banjir bandang datang menerjang perkampungannya. Walaupun lokasi kampung berada jauh dari bibir sungai, tetapi air cepat menerjang dan menggenangi rumahnya. Untuk itu, dia dan tiga anaknya langsung lari ke dataran tinggi untuk menyelamatkan diri. Bahkan, warga lain ada yang lari ke hutan untuk menjauh dari lokasi banjir.

“Di rumah saya ketinggian air mencapai leher orang dewasa. Saya tentu kaget dan takut karena air begitu cepat datang dan merendam permukiman penduduk di Nangela,” ujarnya.

Setelah berada di lokasi yang aman, Mini dan warga lain memilih untuk tetap bertahan sampai air surut. Namun, air tidak kunjung surut. Akhirnya, Mini ikut arahan relawan bencana untuk mengungsi sementara waktu ke gedung PGRI Kecamatan Sajira.

“Tidak ada barang-barang yang berhasil saya bawa ke sini. Hanya pakaian yang digunakan. Itu pun kondisinya sudah basah kuyup, karena itu saya dipinjami pakaian oleh warga di sini,” terangnya.

Menurutnya, selama puluhan tahun tinggal di Sajira, rumahnya tidak pernah kebanjiran. Baru kali ini banjir besar disertai lumpur menerjang wilayah Sajira dan sekitarnya. Kondisi tersebut membuat belasan rumah hanyut dan puluhan rumah rusak berat. Bahkan, kendaraan roda empat dan hewan peliharaan warga ikut terbawa derasnya arus Sungai Ciberang.

“Saya dan keluarga hanya pasrah dan sekarang berharap bantuan dari pemerintah serta para dermawan,” harapnya.

Mini mengaku trauma dengan musibah bencana banjir bandang yang menerjang wilayah Calungbungur. Apalagi, banyak rumah yang rusak diterjang air bah yang kencang.  “Usia saya sudah 40 tahun dan baru kali ini rumah saya terdampak banjir dengan ketinggian air lebih dari satu setengah meter. Saya enggak tahu penyebabnya apa, kenapa alam bisa marah seperti ini,” tukasnya.(*)