Kisah Marlinah, Kisah Keikhlasan Seorang Guru

0
1.269 views
SERANG – Menjabat sebagai kepala Sekolah MI Mathlaul Anwar, Desa Susukan Sampang, Kecamatan Tirtayasa, Marlinah tetap turun tangan mengajar anak didiknya dari kelas 1 sampai kelas 6. Ia mengajar dua mata pelajaran yaitu Bahasa Arab dan Muatan Lokal (Mulok).
Setiap hari ia mengajar ke beberapa kelas. Rasa semangat dan kecintaannya menjadi seorang guru telah ada sejak ia masih berada di bangku sekolah Madrasah Aliyah (MA). Marlinah, memulai Karir sebagai guru sejak tahun 1999.
“Sejak masih muda saya sudah mengajar. Karena ngeliatnya enak pas belum ngajar. Duduk aja di kantor, ngajar bareng anak-anak. Pas sudah ngajar betulan ternyata apa yang saya pikirkan sepertinya enak banget. Ternyata jadi guru itu harus benar mencintai sepenuh hati,” katanya saat melihat-lihat sekolahnya yang rusak itu dengan Radar Banten Online, Selasa (25/7).
Semangat Marlinah mengajar tak pernah surut meski  pernah mengalami tak mendapatkan gaji selama satu tahun.  Hingga saat ini,  setelah 18 tahun berlalu,  pendapatan Marlinah dari mengajar pun tidak tinggi,  Rp 1,5 juta perbulan,  namun itu tak menurunkan semangatnya mengajar.
Ia mengatakan para guru yang ada di sekolahnya saat ini sudah mengikuti berbagai macam pelatihan seperti Kurtilas, KTSP dan lainnya. Bahkan ia mengaku pernah mendapatkan pelatihan dari lembaga Australia.
“Kami diajak pelatihan bareng, mengenai bagaimana cara mendidik anak di kelas dan masih banyak lagi,” ungkapnya.
Ada cara apik bagi Marlinah memberikan pengajaran. Ia biasa menerapkan sistem kelompok, berdiskusi, dan saling bertukar pendapat. Sehingga, siswanya bisa aktif berbicara dan maju ke depan.
Namun, Marlinah selalu memberi perhatian pada siswa yang masih malu berbicara ke depan dengan cara bertanya dan melihat keseharian siswa tersebut.
“Biasanya mereka yang bel berani itu suka punya masalah di rumah. Misal ayah sama ibunya bercerai, ada konflik dan  punya pengalaman buruk itu berpengaruh pada mental si anak termasuk enggan mengutarakan pikirannya di hadapan teman-temannya,” ucapnya.
“Makannya saya membiarkan siswa yang sudah cakap dan pintar. Karena mereka sudah tahu cara belajar. Berbeda dengan mereka yang memiliki nilai kurang dan enggan ke depan itu, saya terus getol perhatian pada anak itu,” imbuhnya.
Rizky, siswa kelas 3 mengaku senang punya guru dan kepala sekolah seperti Marlinah. Dan ia sangat sayang sekali dengan guru berusia 36 tahun itu.
“Bu Marlinah itu seru. Kalau di kelas pengen lihat tingkah ngajarnya. Saya suka Bu Marlinah, karena baik,” ungkapnya saat ditanya oleh Radar Banten Online usai pulang sekolah. (antonsutompul1504@gmail.com).