Kisah Meri Susilawati, Pekerja Akses Tali Wanita

0
560
Meri Susilawati di atas ketinggian saat menjalankan tugas untuk membersihkan gedung.

Sejumlah pekerjaan menantang maut tak semua ditekuni kaum pria. Meri Susilawati contohnya. Wanita berusia 36 tahun ini masih aktif sebagai pekerja akses tali. Banyak gedung pencakar langit di Jakarta sudah dia taklukkan.

TOGAR HARAHAP – Ciputat

BISA dibilang sangat jarang orang yang bercita-cita ingin menjadi pekerja akses tali. Demikian juga Meri Susilawati. Cita-cita dia sebenarnya ingin jadi desainer busana.

Ceritanya berawal saat dia merantau dari Padang, Sumatera Barat, ke Jakarta tahun 2000. Dia mendapatkan tawaran menjalani pekerjaan ekstrem ini. Baginya ini pilihan hidup. Sebuah pekerjaan yang didominasi kaum adam itu, membuat jiwa petualangnya muncul.

Tahun 2008, ia mengikuti pelatihan bersama sebuah perusahaan perlengkapan outbound asal Perancis, Petzl. Bekal ini menjadikannya semakin dikenal sebagai pekerja akses tali. Sejumlah gedung seperti BNI 46 dan SCBD Sudirman pernah dia taklukkan. Termasuk gedung-gedung tinggi di BSD City, Kota Tangsel.

Lalu di tahun 2012, ia mengambil sertifikat ke Assosiation Rope Access Indonesia (ARAI) dan mulai bekerja di sejumlah kilang minyak. Tubuhnya yang mungil terlihat lincah saat bergelantungan. Ia mampu menaksir titik atau point di sebuah gedung sebelum melakukan perawatan. “Total saya bergelantungan di gedung hampir delapan tahun lamanya,” papar dia.

Meski demikian, bekerja di tengah lingkungan maskulin tak serta merta membuat karakternya menjadi pria seutuhnya. Bahkan dirinya masih tetap merawat rambutnya tetap panjang untuk membedakan dirinya dengan pria.

Meski kadang ia harus senewen, karena kerap dipanggil mas-mas saat bertugas. “Kaget saja mereka, enggak tahu kalau saya perempuan. Padahal potongan rambut panjang begini,” kata Meri seraya tertawa.

Di tengah kesibukannya bergelantungan di atas gedung, ia tetap melakukan hobinya yakni membuat rancangan pakaian dan menjahit. Terkadang, rancangan tersebut ia ubah menjadi gaun resmi saat pergi memenuhi undangan pernikahan. “Biasanya hobi ini saya lakukan saat libur, Mas,” paparnya.

Baginya, pekerjaan yang ia geluti saat ini tak mengenal gender. Tak ada diskriminasi. Semua orang bisa melakukannya. Meski demikian, ia tak melupakan kodratnya sebagai wanita. Sisi kewanitaannya pernah tersentuh saat mendengar neneknya berbicara mengenai kodrat sebagai wanita Minang. “Di adat kami, seorang wanita harus memiliki kemampuan memasak dan menjahit yang harus dikuasai perempuan. Apalagi saat menikah, keahlian ini harus dilakukan,” katanya.

Meri tak melihat bekal yang diberikan neneknya sejak kecil mengerangkeng dirinya dalam stigma perempuan dan laki-laki. Justru menurut dia itu jadi kelebihan lain bagi perempuan yang bisa bekerja di lingkungan laki-laki. “Dalam setiap pekerjaan saya tetap berbaur dengan rekan kerja di lapangan sembari mendengarkan kisah kehidupan mereka,” ujarnya. Obsesinya menjadi pengajar dan instruktur di bidang rope access.

Hal senada diungkapkan Mukhlisin (29). Sejak lulus dari SMA Banjar Patroman, Kabupaten Banjar, Jawa Barat, tahun 2006, ia lalu melanjutkan studinya di Fakultas Ushuluddin jurusan Filsafat UIN Syarif Hidayatullah. Kegiatan panjat tebing di Kelompok Mahasiswa Pencinta Lingkungan Hidup Kemahasiswaan (KMPLHK) Kembara lnsani lbnu Battutah (Ranita) di kampusnya membuatnya jatuh hati dengan dunia tali temali tersebut. “Dari sana saya dapat ilmu, meski harus mati-matian menyelesaikan skripsi,” ujarnya seraya bercanda.

Hingga di tahun 2014, ia bersama dua rekannya membangun perusahaan Skyrope. Gedung pertama yang ia bersihkan adalah German Centre. Awal bekerja, ia merasa grogi. Gedung setinggi 40 meter ini membuatnya darahnya mendesir. “Beruntung, saya bisa bersihkan semua,” katanya.

Mengenai pekerjaan, setiap hari seorang pekerja akses tali melewati empat jam sampai lima jam berada di atas ketinggian. Ini membuatnya kulitnya menghitam karena sering kena matahari langsung. “Semua pekerja Skyrope, rata-rata hitam. Tapi urusan nyali kita sungguh bertaji,” pungkasnya. (*)