Kisah Miris Budaya Mengemis dari Kampung Pengemis (Bag 1)

Suasana kampung pengemis, Kampung Kebanyakan, Sukawana, Kecamatan Serang, Kota Serang.

Sebuah kampung di Kota Serang lekat dengan julukan kampung pengemis. Namanya Kampung Kebanyakan, Kelurahan Sukawana, Kecamatan Serang. Seperti apa kehidupan di sana? Berikut penelusuran Radar Banten yang menyusuri gang-gang pengemis yang dihuni lebih dari seratusan orang itu.

———–

SERANG – Tak terlalu sulit masuk kampung pengemis di Kampung Kebanyakan, Kelurahan Sukawana, Kecamatan Serang, Kota Serang. Jaraknya hanya 1,5 kilometer dari Pusat Pemerintahan Kota (Puspemkot) Serang. Berlokasi di sebelah timur kampung di Kompleks Kota Serang Baru (KSB) Cipocokjaya, Kecamatan Serang. Akses menuju kelurahan juga relatif mudah menggunakan kendaraan roda dua atau roda empat.

Di Kampung Kebanyakan tercatat ada 2.213 jiwa dari 525 KK (kepala keluarga). Kampung Kebanyakan terbagi atas tiga rukun warga (RW), yakni RW I (Kebanyakanwetan) dengan jumlah 210 KK, RW II (Kebanyakankulon) 131 KK, dan RW III (Kebanyakantegal) 92 KK. Dari jumlah tersebut terdapat 76 KK yang berprofesi sebagai pengemis.

Ditemani Muklas yang menjabat Ketua RT 01 Kebanyakanwetan dan Hasan Basri, Ketua RT 02 Kebanyakanwetan, Radar Banten mendatangi satu per satu rumah pengemis di kampung tersebut.

Kebetulan, siang itu bersamaan dengan keduanya membagikan undangan. Dari surat yang ditunjukkan Muklas, tertulis kegiatan konseling dan kampanye sosial bagi penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) berkop Dinas Sosial Kota Serang.

Saat perjalanan memasuki gang kampung, Muklas dan Hasan menunjukkan sejumlah rumah pengemis. Tidak jauh berbeda dengan rumah warga lain di kampung tersebut. Sebagian rumah para pengemis sudah permanen, bertembok, dan berubin keramik. Di beberapa rumah itu juga terpampang kendaraan roda dua. Televisi juga menjadi perabot yang rata-rata mereka miliki.

Sebagian lagi, Muklas menunjukkan rumah pengemis yang benar-benar alakadarnya. Bahkan membuat dada terasa sesak. Sebab, rumah yang diperlihatkan masih berlantai semen dengan tembok yang sudah retak dan berlobang. Ada juga yang hanya berlantai semen dan tanah. Bahkan, kami menjumpai satu rumah pengemis yang hanya seukuran 4×3 meter persegi berbahan anyaman bambu (gedek).

Sepanjang jalan, Muklas dan Hasan menceritakan kondisi perekonomian dan pendidikan masyarakat Kampung Kebanyakan yang relatif rendah. Namun, keduanya tidak bisa bercerita banyak soal asal-usul kampung pengemis. “Sebenarnya saya tidak tahu pasti. Tapi, yang saya dengar awalnya mereka diajak teman dari luar kampung sini, lama-kelamaan merambat. Kalau enggak salah sudah mulai tahun 90-an,” ujar Muklas sembari mengajak keliling memperlihatkan rumah pengemis lain.

Muklas mengungkapkan, ada 30 warganya yang menjadi pengemis. Mayoritas dari mereka adalah perempuan paruh baya yang tidak pernah mengenyam bangku pendidikan atau paling tinggi sekadar lulus SD. “Hampir rata-rata sudah berumah tangga dan janda tua. Kalau anak-anak enggak ada, mereka lebih banyak jadi pemulung,” ujarnya.

Hasan mengaku, warganya yang jadi pengemis relatif lebih sedikit. Meski sama-sama mayoritas warganya sama dengan RT01 hanya lulusan SD, warga di RT02 lebih memilih menjadi buruh, tukang rongsok atau penjahit. “Memang ada dua, tiga orang yang jadi pengemis. Itu pun tidak tiap hari, istilahnya kalau lagi terdesak saja,” katanya.

“Kesannya buat kita kurang bagus, padahal di kampung kita juga banyak jadi tukang jahit. Kadang saya kalau berangkat belanja ke Pasar Rau sering ditanya apa betul warga bapak banyak yang jadi pengemis,” timpal Muklas.

Julukan ‘kampung pengemis’ yang disandang Kampung Kebanyakan memang bukan kisah baru. Berbagai kampus di wilayah Kota Serang sering menjadikan sebagai lokasi penelitian praktik lapangan mahasiswanya. Dan belum lama ini, Presiden Joko Widodo menyambangi Kampung Kebanyakan untuk membagikan bantuan sembako.

“Warga di sini sudah tahu semua, kalau dinasehati tetangga, ujungnya malah ribut. Mereka paling jawabnya kalau enggak keliling, yang mau kasih makan siapa?” tutur Muklas menirukan perkataan pengemis setiap kali diberi pembinaan.

“Padahal pembinaan sudah sering dilakukan. Setiap pengajian juga selalu disinggung. Itu yang buat bingung kita juga, Mas,” imbuh Muklas yang sehari-hari berprofesi sebagai pedagang kebutuhan pokok ini.

Informasi yang dihimpun, para pengemis ini mampu menghasilkan Rp4 juta sampai Rp6 juta per bulan. Penghasilan ini didapat dengan rentang waktu delapan jam antara pukul delapan pagi hingga empat sore.

Biasanya, mereka akan mulai aktivitasnya sekira pukul 07.00 WIB. Dari rumah masing-masing, mereka berjalan kaki hingga ke pangkalan ojek yang berada di ujung kampung. Menggunakan jasa ojek, pengemis antara dua sampai tiga orang ini diantar menuju daerah Terminal Pakupatan. Lalu, menggunakan bus atau angkot menuju daerah operasinya.

Dari pengakuan beberapa pengemis yang ditemui di lokasi, mereka mengaku beroperasi di luar Kota Serang. Misalnya, daerah dermaga Pelabuhan Merak Cilegon, kawasan industri Modern Cikande dan Kragilan Kabupaten Serang. Termasuk kawasan industri Tangerang Raya seperti Balaraja, Cikupa, dan Bitung.

Sementara, untuk hari libur, mereka melancarkan operasinya di sekitaran kompleks perumahan kota. Dengan jarak yang lumayan jauh, para pengemis biasanya harus mengeluarkan modal awal antara Rp40 hingga Rp50 ribu sekali pulang pergi.

Masih diantar oleh Muklas dan Hasan Basri, kami mendatangi rumah Rinah. Saat itu, jam menunjukkan sekira pukul 14.00 WIB. Rinah tidak berada di rumah. Di sana ada Misbah sebagai suaminya, dan 10 anaknya yang tengah sibuk bermain di teras rumah seukuran 5×6 meter persegi. Misbah yang telanjang dada, tampak terkejut melihat kedatangan kami. Meski mempersilakan masuk ia tampak terburu-buru. Tikar ia gelar untuk menutupi alas dari tehel yang mulai retak dan berlobang penuh debu. Muklas yang melihat warganya terlihat gugup menyergap menenangkan Misbah. Namun, Misbah belum juga terlihat tenang.

Apalagi, ketika ditanya keberadaan istrinya. Misbah hanya menjawab tidak tahu. Bahkan, ia mencoba menutupi pekerjaan istrinya. “Oh istri. Biasa kerja di kompleks,” singkat pria berusia 57 tahun ini menggunakan bahasa Jawa Serang.

Dengan bahasa Jawa Serang, Muklas sepertinya mendesak Misbah untuk bercerita sejujurnya. Namun, usaha itu lagi-lagi gagal. Siang itu, kami pun memilih tidak menanyakan soal pekerjaan istri Misbah yang oleh Muklas terdata sebagai salah satu pengemis di Kampung Kebanyakan. Selepas dari rumah Rinah atau Misbah, Muklas mengantar ke rumah Sakranah. Bersambung… (Supriyono/Radar Banten)