Kisah Perjuangan Guru di Sekolah Kebutuhan Khusus Sutmaemun Cikeusal

Diuji Kesabaran Memberdayakan Siswa Disabilitas

0
1.050 views
Para guru mengajak siswa disabilitas berolahraga di halaman sekolah, Rabu (22/2).

Pengabdian guru sekolah berkebutuhan khusus tak terhingga. Dengan honor seadanya, tak menyurutkan motivasi mereka untuk menguji kesabaran dengan membina siswa disabilitas tanpa mengharapkan balasan.

NIZAR SOLIHIN – SERANG

Pagi itu, Rabu (22/2), cuaca cukup cerah. Setelah melewati lintasan kereta, Radar Banten tiba di Sekolah Kebutuhan Khusus (SKH) Sutmaemun di Desa Sukaratu, Kecamatan Cikeusal, Kabupaten Serang. Ini adalah sekolah satu-satunya di Kabupaten Serang yang mau memberdayakan para anak difabel atau disabilitas (berkekurangan) tanpa memungut biaya dari orangtua siswa.

Kekurangan pada diri siswa, memang tampak dari segi fisik maupun cara pandang. Namun, siswa dari beragam usia, menunjukkan etikanya. Yakni, mencium tangan Radar Banten tanpa mendapat perintah dari para guru wanita yang mendampingi mereka di halaman sekolah.

Salah satu guru muda berparas manis dan berkulit putih mengenakan kaus merah dan celana jeans hitam serta berkerudung, dari jauh mengarahkan pandangan lurus ke depan. Setelah didekati, matanya berbinar dan senyumnya mulai mengembang, diikuti para guru lain dan para siswa difabel yang mulai bertanya-tanya.

Suasana kehangatan dan keceriaan mulai terasa. Terlebih, ketika puluhan anak disabilitas itu diajak lima guru wanita untuk berolahraga di tengah lapangan. Diiringi alunan musik senam, sebagian anak mampu mengikuti arahan instrukturnya. Para siswa mulai mengikuti alur musik, dengan melakukan gerakan tangan ke atas ke bawah sambil pinggulnya lenggak-lenggok. Sebagian lagi, hanya termenung sehingga perlu diarahkan guru agar mau mengikuti rekan-rekan siswanya yang lain.

Tak berapa lama setelah mengabadikan momentum kebahagian para siswa difabel itu, salah satu tenaga pendidik paruh baya mengajak Radar Banten ke ruangan guru. Ia adalah Kepala SKH Sutmaemun, Sri Mulyati. Sekolah hanya memiliki dua ruangan tidak begitu luas. Satu ruangan guru, satu ruangan lagi dijadikan tempat belajar siswa yang dibuat empat sekatan. Dilengkapi meja kursi dan sarana prasarana untuk keterampilan dengan model sederhana.

Di kursi tamu ruang guru itulah, kami mulai berbincang dan banyak menuai cerita tentang sejarah berdirinya sekolah sampai membuat para siswa difabel menjadi berdaya guna.

Di ruang guru, Sri ditemani sang guru muda. Namanya, Priyan Suhatni yang merupakan keponakannya, sekaligus guru pertama di sekolah yang didirikannya sejak 2012. Statusnya masih gadis dan masih kuliah semester akhir di Universitas Islam Nusantara (Uninus) Bandung, Jawa Barat jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB)

Diungkapkan Sri, sekolahnya dihuni 46 siswa disabilitas alias siswa berkebutuhan khusus atau berkekurangan dari tingkat SD sampai SMA dari kalangan keluarga tidak mampu. Lantaran itu, pihaknya tidak memberlakukan pembebanan biaya terhadap siswa melainkan hanya mengandalkan dana bantuan operasional sekolah (BOS) dari pemerintah pusat secukupnya.

Namun, tak jarang pihak guru dengan kebaikan hati dan pengabdiannya mendapatkan apresiasi dari orangtua. Meskipun, hanya dihargai berupa pemberian penganan hasil pertanian. “Ya, apa pun itu, selama mereka (orangtua) ikhlas, kita pun ikhlas mengajar tanpa mengharapkan balasan,” tuturnya.

Dijelaskan ibu empat anak itu, inspirasi mendirikan SKH Sutmaemun dipicu banyaknya siswa disabilitas di wilayahnya yang merupakan daerah terpencil mengenyam pendidikan di sekolah pada umumnya. Sementara, siswa difabel tidak bisa diarahkan oleh guru yang menyamakan pelajarannya dengan siswa normal. Lantaran itu, Sri tergugah dan tergerak hatinya untuk merintis sekolah yang lebih mengerti bahasa siswa yang menderita kekurangan tersebut.

Sekolah pun atas dukungan masyarakat setelah melakukan penjaringan dan sosialisasi, akhirnya mampu berdikari menggunakan lahan bekas madrasah yang sudah tidak aktif. Sekolah mulai menampung siswa dari mulai tingkatan bawah yakni tunagrahita atau down sindrome, tunagrahita ringan atau mampu didik, tunagrahita sedang mampu latih, serta tunagrahita berat atau mampu rawat alias hanya diam di tempat tidur hingga berkembang seperti sekarang.

Siswa juga tidak hanya tanpa biaya belajar di SKH, pihak sekolah juga tak jarang menyisihkan uang honor untuk memberi siswa jajan dan ongkos pulang, hingga mengantar pulang ke rumah orangtuanya karena terkendala biaya. “Kalau di sekolah biasa, siswa disabilitas hanya ikut-ikutan saja, tanpa mendapat ijazah. Di sini, alhamdulillah sudah tercatat di dinas dan sudah punya izin operasional. Memang, menghadapi siswa disabilitas harus yang mengerti bahasa mereka,” terangnya.

Di SKH sendiri, terdapat 10 tenaga pendidik, termasuk kepala sekolah yang mengabdikan diri dengan honor seadanya. Mereka mengajar dengan sabar menggunakan berbagai isyarat, dari mulai mata, tangan, dan sebagainya hingga para siswa berdaya guna. Bahkan, sampai menuai berbagai prestasi dari mulai tingkat kabupaten sampai provinsi, baik dari bidang seni, keterampilan, maupun olahraga. Selain siswa, diajarkan sopan santun, mengaji, dan didorong untuk memiliki keterampilan. “Tadinya pertama masuk tak bisa apa-apa, sekarang anak ada mulai bisa baca, menghafal, dan lain-lain,” katanya.

Bahkan, siswa juga didorong berprestasi dengan mengikuti berbagai event seperti OSN, O2SN, FLS2N, literasi, hingga modeling tingkat kabupaten dan provinsi. Di sekolah, dengan fasilitas yang terbatas, semua mata pelajaran tersedia. Mulai dari pelajaran keterampilan, menanam, menjahit, melukis, membuat kipas, dan banyak lagi. Saat ini, diakui Sri, pihaknya hanya ingin ada transportasi khusus siswa. Karena, mayoritas kediaman siswa jauh dari sekolah. “Untungnya, baik orangtua maupun siswa semangat untuk memeroleh pendidikan yang layak,” jelasnya.

Priyan menambahkan, keinginannya mengajar anak-anak disabilitas, karena banyak pelajaran yang bisa didapatnya. Kata dara yang hobi baca komik ini, dengan mengajar siswa disabilitas diuji kesabaran. Perjuangannya sangat berat karena dihadapkan pada berbagai kendala. Salah satunya, mengarahkan siswa yang memang tidak fokus agar mau memahami apa yang diarahkan guru. Karena, tujuan guru SKH hanya satu, yakni ingin membentuk siswa disabilitas menjadi berdaya guna. “Mereka punya hak yang sama dengan siswa normal lainnya. Makanya, kitanya yang harus sabar, ngejar pahala aja,” ujar gadis kelahiran Serang, 23 Januari 1994 ini. (*)